Ilustrasi hutan lebat Papua. Foto: ShutterstockDalam diskursus global, masyarakat adat sering diposisikan sebagai penjaga terakhir hutan dunia. Berbagai kajian internasional—termasuk yang dirujuk oleh IPBES—menunjukkan bahwa wilayah kelola masyarakat adat memiliki tingkat deforestasi yang relatif lebih rendah dibanding banyak kawasan lain. Dalam forum perubahan iklim di bawah kerangka UNFCCC, pengakuan terhadap peran mereka juga semakin menguat.Namun di tingkat nasional, hutan adat menghadapi dilema yang jauh lebih kompleks daripada sekadar isu konservasi. Ia berada di persimpangan antara kebutuhan ekonomi lokal dan model pembangunan yang masih bertumpu pada ekstraksi sumber daya alam.Indonesia sejak lama mengandalkan sektor berbasis komoditas—pertambangan, perkebunan, dan kehutanan—sebagai motor pertumbuhan dan sumber penerimaan negara maupun daerah.Dalam kerangka ini, sumber daya alam diposisikan sebagai aset ekonomi yang harus dioptimalkan. Ketika wilayah hutan adat berada di atas cadangan mineral atau komoditas bernilai tinggi, tekanan terhadapnya menjadi hampir tak terhindarkan.Di sinilah dilema pembangunan itu muncul.Di satu sisi, hutan adat memiliki fungsi ekologis strategis: menjaga tata air, menyimpan karbon, menopang keanekaragaman hayati, serta menjadi ruang hidup sosial budaya masyarakat. Dalam konteks perubahan iklim dan krisis lingkungan global, nilai ini semakin penting.Ilustrasi perubahan iklim. Foto: ShutterstockDi sisi lain, pemerintah daerah menghadapi tuntutan peningkatan pendapatan, penciptaan lapangan kerja, dan percepatan pertumbuhan ekonomi. Bagi masyarakat di tingkat tapak, kebutuhan sehari-hari—biaya pendidikan, kesehatan, dan konsumsi—memerlukan sumber pendapatan yang pasti dan segera.Jika sistem ekonomi yang tersedia menawarkan imbal hasil cepat dari aktivitas ekstraktif—sementara manfaat ekonomi dari menjaga hutan bersifat jangka panjang dan tidak langsung—pilihan rasional sering kali condong pada eksploitasi.Persoalan ini tidak bisa direduksi menjadi pertentangan antara “pro-lingkungan” dan “pro-pembangunan”. Justru yang perlu dikaji adalah bagaimana arsitektur pembangunan nasional membingkai hubungan antara ekonomi dan ekologi.Selama insentif fiskal daerah lebih kuat mendorong eksploitasi sumber daya dibanding perlindungan ekosistem, tekanan terhadap hutan adat akan terus berulang. Selama keberhasilan pembangunan diukur—terutama dari pertumbuhan PDRB berbasis komoditas—nilai jasa lingkungan dan stabilitas ekologis cenderung terpinggirkan.Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai inisiatif pengakuan hutan adat memang berkembang. Namun, pengakuan legal saja belum cukup apabila tidak diikuti dengan integrasi hutan adat ke dalam strategi ekonomi daerah.Ilustrasi hutan dan penanaman pohon. Foto: KLHKTanpa skema ekonomi yang stabil—misalnya penguatan usaha berbasis hasil hutan non-kayu, agroforestri berkelanjutan, atau mekanisme jasa lingkungan yang adil—hutan adat akan tetap berada dalam posisi rentan.Dilema ini juga diperumit oleh dinamika transisi energi global. Permintaan terhadap mineral strategis meningkat seiring pergeseran menuju energi terbarukan. Indonesia sebagai negara kaya sumber daya berada dalam posisi strategis dalam rantai pasok global tersebut. Namun, sebagian cadangan mineral berada di wilayah berhutan dan berdekatan dengan komunitas adat.Dengan demikian, hutan adat tidak hanya menghadapi tekanan ekonomi lokal, tetapi juga tekanan geopolitik dan pasar global.Dalam konteks ini, pertanyaan kebijakan yang mendesak bukan sekadar "Bagaimana melarang atau membatasi aktivitas tertentu?" Pertanyaan yang lebih mendasar adalah "Bagaimana menyelaraskan kebijakan mineral, kehutanan, dan pembangunan daerah agar tidak saling bertentangan?"Pertama, diperlukan reformulasi insentif fiskal agar perlindungan ekosistem memiliki nilai ekonomi yang nyata bagi daerah. Jika daerah memperoleh manfaat yang sepadan dari menjaga tutupan hutan, keputusan pembangunan dapat lebih seimbang.Foto udara hutan Balempe yang salah satunya dikelola oleh masyarakat suku Moi di Kampung Malasigi, Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Foto: Erlangga Bregas Prakoso/ANTARA FOTOKedua, integrasi hutan adat ke dalam perencanaan pembangunan daerah—seperti RPJMD dan rencana tata ruang—perlu dilakukan secara konsisten. Hutan adat tidak boleh diposisikan sebagai ruang cadangan yang sewaktu-waktu dapat dikonversi ketika harga komoditas meningkat.Ketiga, penguatan kelembagaan adat dan partisipasi generasi muda menjadi faktor penting. Tata kelola yang transparan dan inklusif akan memperkuat posisi tawar masyarakat dalam menghadapi tekanan eksternal.Pada akhirnya, hutan adat adalah cermin dari dilema pembangunan Indonesia: bagaimana mengejar pertumbuhan tanpa mengorbankan fondasi ekologis jangka panjang. Tanpa penyesuaian struktur insentif dan indikator keberhasilan pembangunan, konflik antara kelestarian dan eksploitasi akan terus muncul di berbagai wilayah.Menjaga hutan adat tidak cukup dengan retorika konservasi atau pengakuan simbolik. Ia membutuhkan desain kebijakan ekonomi yang membuat keberlanjutan menjadi pilihan rasional, bukan pengorbanan.Dilema ini tidak sederhana, tetapi menghindarinya hanya akan memperbesar biaya sosial dan ekologis di masa depan. Pertanyaannya kini bukan "Apakah hutan adat penting?" melainkan "Apakah sistem pembangunan kita siap menempatkannya sebagai bagian integral dari masa depan ekonomi Indonesia?"