Ilustrasi Akupunktur Medis (Sumber Gambar: ChatGPT AI)Nyeri kronis dan stroke merupakan dua kondisi kesehatan yang berdampak besar terhadap kualitas hidup pasien. Nyeri kronis—seperti nyeri punggung bawah, osteoartritis dan nyeri neuropatik—sering kali berlangsung lebih dari tiga bulan dan tidak jarang sulit ditangani hanya dengan obat analgesik. Sementara itu, stroke sebagai gangguan aliran darah otak dapat menimbulkan kelemahan anggota gerak, gangguan bicara, hingga disabilitas jangka panjang. Dalam konteks terapi komplementer evidence based, akupunktur medis semakin mendapat perhatian sebagai pendekatan yang dapat membantu mengurangi nyeri sekaligus mendukung rehabilitasi pascastroke.Akupunktur medis berbeda dari praktik tradisional semata karena dilakukan berdasarkan prinsip neurofisiologi modern dan anatomi klinis. Stimulasi jarum pada titik tertentu terbukti dapat memicu pelepasan endorfin, serotonin dan neurotransmiter lain yang berperan dalam modulasi nyeri. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa akupunktur dapat meningkatkan aliran darah lokal dan merangsang plastisitas saraf, yang penting dalam proses pemulihan fungsi motorik pada pasien stroke. Pendekatan ini sering digunakan sebagai terapi adjuvan yang melengkapi pengobatan konvensional dan fisioterapi.Dalam kasus nyeri kronis, akupunktur medis memberikan alternatif non-farmakologis yang relatif aman dengan efek samping minimal bila dilakukan oleh tenaga terlatih. Hal ini penting mengingat penggunaan obat antiinflamasi jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan lambung atau ginjal. Pada pasien stroke, terapi akupunktur sering dikombinasikan dengan latihan rehabilitasi untuk membantu mengurangi spastisitas, memperbaiki koordinasi, serta meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Meskipun demikian, efektivitas terapi tetap bergantung pada kondisi klinis masing-masing pasien dan harus melalui evaluasi medis yang komprehensif.Menurut dr. Hayin Naila selaku praktisi akupunktur medis dari HA-Medika Kendal, pendekatan terapi harus bersifat holistik dan berbasis evaluasi klinis yang cermat. Pada pasien nyeri kronis, praktisi akupukntur medis sering melihat perbaikan intensitas nyeri setelah beberapa sesi terapi karena stimulasi saraf membantu tubuh memproduksi zat pengurang nyeri alami. Sementara pada pasien stroke, akupunktur berperan sebagai terapi pendukung rehabilitasi untuk merangsang respons neuromuskular. Namun terapi ini bukan pengganti pengobatan utama, melainkan bagian dari penanganan terpadu. Dokter Hayin menekankan pentingnya asesmen individual sebelum memulai terapi guna memastikan keamanan dan efektivitas.Kesimpulannya, akupunktur medis memiliki potensi sebagai terapi komplementer yang bermanfaat dalam penanganan nyeri kronis dan rehabilitasi stroke. Dengan mekanisme kerja yang melibatkan modulasi saraf dan peningkatan respons biologis tubuh, terapi ini dapat menjadi pilihan tambahan yang aman dan efektif bila dilakukan oleh tenaga medis terlatih. Integrasi antara pengobatan konvensional dan terapi komplementer evidence based menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas hidup pasien secara menyeluruh.