BorneoFlash.com, KUKAR — Amblesnya badan jalan di Jalan Wolter Monginsidi, tepat di depan Kantor Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), dipastikan dipicu oleh persoalan aliran air yang tidak tertangani dengan baik. Kondisi tersebut membuat struktur tanah di bawah jalan terus melemah hingga akhirnya tidak mampu menopang beban.Kerusakan ini menjadi perhatian karena lokasinya berada di kawasan pusat aktivitas pemerintahan dengan intensitas lalu lintas yang cukup tinggi. Penanganan pun tidak lagi difokuskan pada perbaikan permukaan, melainkan menyasar sumber persoalan yang ada di bawah badan jalan.Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kukar, Wiyono, menjelaskan bahwa air dari kawasan sekitar selama ini tidak memiliki jalur pembuangan yang jelas, sehingga meresap ke dalam tanah dan menggerus struktur jalan secara perlahan.“Air dari kawasan permukiman itu tidak terarah. Akhirnya masuk ke bawah badan jalan dan membuat tanahnya terus tergerus sampai ambles,” ujarnya, pada Senin (6/4/2026). Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa diselesaikan dengan penanganan sementara. Jika hanya dilakukan penutupan pada bagian permukaan, kerusakan serupa berpotensi kembali terjadi.“Kalau hanya ditutup di atas, itu tidak menyelesaikan masalah. Karena ini memang jalur air, harus dibuatkan saluran yang benar,” jelasnya.Sebagai langkah penanganan, pemerintah daerah berencana melakukan pembongkaran pada titik yang terdampak dan menggantinya dengan sistem drainase permanen berupa box culvert. Infrastruktur ini dirancang untuk mengalirkan air dari kawasan permukiman menuju Sungai Mahakam agar tidak lagi mengendap di bawah jalan.Pembangunan tersebut diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp4 miliar. Dengan adanya sistem drainase yang lebih terstruktur, diharapkan persoalan amblesnya jalan tidak kembali terulang di lokasi yang sama.Selain titik di depan Kantor Bupati, pemerintah daerah juga mengidentifikasi beberapa lokasi lain yang memiliki potensi persoalan serupa akibat sistem aliran air yang belum optimal. Penanganan akan dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan titik-titik yang dinilai paling mendesak. (*)