Headline E-paper BorneoFlash Edisi Senin 6 April 2026: Jutaan Warga Turun ke Jalan, Protes Kepemimpinan Trump Meluas hingga Global

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, AMERIKA SERIKAT – Gelombang demonstrasi besar bertajuk “No Kings” mengguncang berbagai kota di Amerika Serikat. Aksi yang berlangsung serentak pada akhir Maret 2026 ini disebut sebagai salah satu mobilisasi massa terbesar dalam sejarah modern negeri Paman Sam.Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dinilai sejumlah kalangan semakin menunjukkan kecenderungan otoriter. Berdasarkan laporan berbagai sumber internasional, lebih dari 3.300 aksi digelar di seluruh 50 negara bagian, dengan jumlah peserta diperkirakan mencapai jutaan orang—bahkan disebut menembus angka hingga 8 juta.Dari kota besar seperti New York City, Los Angeles, hingga Washington, D.C., hingga kota-kota kecil dan wilayah konservatif, massa turun ke jalan membawa satu pesan utama: penolakan terhadap gaya kepemimpinan yang dianggap mengancam demokrasi.Di New York, puluhan ribu demonstran memadati jalanan. Aksi ini turut dihadiri aktor peraih Oscar, Robert De Niro, yang secara terbuka mengkritik Trump sebagai ancaman serius bagi kebebasan dan keamanan negara.Sementara di Washington, ribuan orang memadati kawasan National Mall dengan membawa spanduk bertuliskan “Trump Must Go Now” dan “Fight Fascism”. Demonstrasi juga berlangsung dari Atlanta hingga San Diego, menunjukkan luasnya jangkauan gerakan ini.Seorang veteran militer, Marc McCaughey, menyuarakan kekhawatiran yang dirasakan banyak peserta aksi.“Tidak ada negara yang dapat berjalan tanpa persetujuan rakyat. Kami merasa konstitusi sedang terancam,” ujarnya.Meluas hingga Eropa, Isu Global Ikut MengemukaGelombang protes ini tidak hanya terjadi di dalam negeri. Aksi solidaritas juga digelar di sejumlah kota Eropa seperti Amsterdam, Madrid, dan Rome, dengan puluhan ribu orang turut berpartisipasi.Selain isu domestik, demonstrasi juga dipicu oleh kekhawatiran terhadap konflik global, termasuk keterlibatan Amerika Serikat dalam ketegangan dengan Iran. Seruan anti-perang menjadi salah satu tema yang kerap muncul dalam berbagai aksi.Latar Belakang: Dari Isu Imigrasi hingga Krisis KepercayaanGerakan “No Kings” lahir sebagai bentuk akumulasi kekecewaan publik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah. Di antaranya:Kebijakan imigrasi yang dinilai terlalu keras Dugaan pelanggaran hak sipil Kenaikan biaya hidup, termasuk pangan dan energi Kekhawatiran terhadap arah demokrasi Penolakan terhadap konflik militer luar negeri Partisipasi yang meluas, termasuk di wilayah nonmetropolitan, menunjukkan bahwa keresahan ini tidak lagi terbatas pada kelompok tertentu, melainkan telah menyebar ke berbagai lapisan masyarakat.Mayoritas Damai, Namun Ada GesekanSebagian besar aksi berlangsung damai dengan peserta membawa poster, simbol kritik, hingga instalasi kreatif. Namun, di beberapa kota seperti Los Angeles dan Dallas, situasi sempat memanas.Aparat keamanan dilaporkan menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa setelah terjadi kericuhan. Bentrokan kecil juga terjadi antara demonstran dan kelompok pendukung pemerintah, yang berujung pada sejumlah penangkapan.Tokoh Publik dan Politisi Ikut BersuaraSejumlah tokoh publik dan politisi turut menyuarakan dukungan terhadap gerakan ini. Senator Bernie Sanders menegaskan pentingnya menjaga demokrasi dari ancaman otoritarianisme.“Kita tidak akan membiarkan negara ini jatuh ke dalam oligarki. Rakyatlah yang berdaulat,” tegasnya.Sementara itu, Gubernur Minnesota, Tim Walz, menyebut gerakan ini sebagai refleksi nilai kemanusiaan dan demokrasi.Tekanan Politik Jelang PemiluGelombang demonstrasi ini terjadi di tengah meningkatnya tensi politik menjelang pemilu paruh waktu di AS. Sejumlah pengamat menilai aksi besar ini berpotensi memengaruhi opini publik dan peta kekuatan politik nasional.Survei terbaru bahkan menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Trump mengalami penurunan, mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan di kalangan masyarakat.Gerakan yang Terus Membesar“No Kings” bukanlah aksi pertama. Sejak kemunculannya pada pertengahan 2025, gerakan ini terus berkembang dengan skala yang semakin besar di setiap gelombang.Kini, gerakan tersebut tidak hanya menjadi simbol perlawanan politik domestik, tetapi juga berkembang sebagai gerakan global yang menyerukan demokrasi dan perdamaian dunia.Dengan jutaan orang turun ke jalan dan dukungan yang meluas lintas negara, demonstrasi “No Kings” menandai babak baru dalam dinamika politik Amerika Serikat—sebuah sinyal kuat bahwa tekanan publik terhadap pemerintah kian meningkat dan tak bisa lagi diabaikan. (*)