Arab Saudi-UEA Mulai Bergerak, Pertimbangkan Dukung AS Lawan Iran

Wait 5 sec.

Peta UEA, Arab Saudi dan Yaman. Foto: hyotographics/ShutterstockSekutu Amerika Serikat (AS) di Teluk Persia mulai bergerak lebih jauh dalam konflik melawan Iran. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan tengah mempertimbangkan peran lebih aktif setelah serangan ke wilayah mereka.Laporan The Wall Street Journal pada Selasa (24/3) menyebut Arab Saudi dan UEA kini mulai mendukung militer AS, meski sebelumnya menyatakan ingin tetap di luar perang. Perubahan sikap ini dipicu serangan berulang ke pangkalan militer dan fasilitas energi mereka.Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MbS) disebut semakin dekat untuk membawa Arab Saudi terlibat dalam konflik. Riyadh bahkan dikabarkan telah mengizinkan AS menggunakan pangkalan udara King Fahd di Semenanjung Arab.Padahal sebelumnya, Saudi menegaskan fasilitasnya tidak akan digunakan untuk menyerang Iran. Namun, sikap itu mulai berubah seiring meningkatnya tekanan akibat serangan.“Kesabaran Arab Saudi terhadap serangan Iran tidaklah tanpa batas,” kata Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Farhan, seperti dilansir The New York Post.“Ide bahwa negara-negara Teluk tidak mampu merespons adalah salah perhitungan,” lanjutnya.Di sisi lain, UEA juga mulai mengambil langkah terhadap kepentingan Iran. Pemerintah menutup sejumlah institusi yang terkait Iran dan Garda Revolusi (IRGC) di Dubai dan mempertimbangkan pembekuan aset bernilai miliaran dolar.“Institusi tertentu yang terkait langsung dengan rezim Iran dan IRGC akan ditutup melalui langkah yang ditargetkan,” demikian pernyataan otoritas UEA.Langkah ini dinilai dapat menekan ekonomi Iran yang sudah tertekan akibat sanksi dan inflasi. Selain itu, negara-negara Teluk, dilaporkan The Wall Street Journal, juga khawatir terhadap ambisi Iran menguasai penuh jalur strategis Selat Hormuz.Sebuah kapal angkatan laut terlihat berlayar di Selat Hormuz, pada 1 Maret 2026. Foto: Sahar AL ATTAR / AFPSelat tersebut merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Iran bahkan disebut ingin mengontrol penuh jalur itu dan memberlakukan tarif bagi kapal yang melintas.Meski begitu, keterlibatan langsung dalam perang juga berisiko bagi negara Teluk. Konflik berpotensi meluas dan berkepanjangan, bahkan bisa membuat mereka menghadapi Iran tanpa dukungan jika AS menarik diri.