Imbas Konflik Iran, Penjualan Mobil Listrik Bekas di Eropa Naik

Wait 5 sec.

Ilustrasi mobil listrik. Foto: Mayy Contributor/ShutterstockMemanasnya konflik di Timur Tengah, antara Amerika Serikat dan Iran, berdampak langsung pada terganggunya jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz. Kondisi ini mendorong lonjakan harga minyak dunia yang kemudian berimbas ke kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara, terutama di Eropa.Tekanan biaya energi tersebut mulai mengubah pola konsumsi masyarakat. Mengutip laporan Reuters, salah satu dampak yang terlihat adalah meningkatnya minat terhadap mobil listrik (EV) bekas di Eropa, serta alternatif kendaraan yang lebih hemat biaya operasional di tengah harga bahan bakar yang kian mahal.Mobil listrik dinilai yang paling rasional sebagai pilihan lain yakni kendaraan konvensional dengan mesin bakar. Selain ramah lingkungan, biaya operasionalnya dianggap lebih stabil.Analis pasar otomotif menyebut perubahan ini sebagai titik penting transisi energi transportasi. Mereka menilai konsumen semakin rasional menghitung biaya kepemilikan, dan mobil listrik bekas menjadi pilihan seimbang antara harga beli dan efisiensi operasional.Ilustrasi mobil listrik di Amerika Serikat. Foto: Shutterstock"Sekarang ini pasar mobil listrik bekas menjadi ladang pundi keuntungan baru," ucap Terje Dahlgren seorang analis pasar mobil bekas terbesar di Norwegia, FiNN.no yang juga menyatakan EV telah mengambil pasar mobil diesel bekas lebih signifikan.Kenaikan harga bensin akibat perang AS-Iran menjadi faktor eksternal paling berpengaruh. Konsumen yang sebelumnya nyaman menggunakan kendaraan konvensional kini mulai menghitung pengeluaran harian.Sebagai gambaran, kenaikan harga bensin beberapa puluh euro sen per liter dapat meningkatkan biaya perjalanan bulanan secara signifikan. Jika dikonversi, kenaikan 0,20 euro per liter setara sekitar Rp 3.400 per liter (kurs ±Rp17.000/euro). Ilustrasi pengecasan mobil listrik Volkswagen. Foto: balipadma/ShutterstockDampaknya terasa langsung bagi pengguna kendaraan harian. Kondisi tersebut membuat mobil listrik, terutama unit bekas, terlihat jauh lebih ekonomis. Konsumen tidak lagi menunggu insentif pemerintah, tetapi langsung beralih karena tekanan biaya yang pengaruhi hidup.Lokapasar kendaraan bekas lainnya asal Prancis, Aramisauto melampirkan data penjualan EV meningkat dua kali lipat dalam sepekan sejak 16 Februari hingga 9 Maret kemarin. Tumbuh 12,7 persen dari 6,5 persen."Mayoritas (model yang dibeli) berasal dari grup manufaktur Stellantis, kami melihat fenomena peralihan serupa ketika perang Rusia dan Ukraina meletus pada 2022 lalu yang menyebabkan harga energi naik tajam," beber CEO Aramisauto, Romain Boscher.Jadi perubahan (tarif bahan bakar) yang menyebabkan perbedaan hingga 2 euro (hampir Rp 40 ribu), itu akan langsung menjadi ancaman di benak orang-orang. Kami melihat adanya pertumbuhan signifikan pada laman resmi untuk pesanan EV dan hibrida.Sejumlah negara lain di Benua Biru juga menunjukkan figur serupa. Data lokapasar kendaraan bekas berbasis di Belanda menjelaskan peningkatan di Prancis sebesar 50 persen, Romania 40 persen, Portugal 54 persen, dan Polandia 39 persen."Paling mencolok adalah minat terhadap EV sudah menunjukkan tren peningkatan sebelum peristiwa baru-baru ini (perang). Ketidakstabilan ini tampaknya telah mempercepat transisi yang sudah berlangsung," kata CEO Olx, Christian Gisy.