Suasana CFD perdana pasca-Lebaran di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (29/3/2026). Foto: Zamachsyari/kumparanPagi baru saja menjejak pukul enam ketika denyut kota kembali terasa di jantung Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (29/3). Setelah jeda panjang selama Ramadan dan riuh mudik Lebaran, Car Free Day (CFD) perdana kembali digelar.Udara pagi yang masih menyisakan sejuk menyambut langkah-langkah kecil yang perlahan berubah menjadi derap lari, gowes, dan tawa keluarga yang kembali memenuhi ruas jalan Jakarta.Di tengah bundaran HI, sebuah ornamen masjid dengan kubah putih dan lengkungan bernuansa oranye berdiri anggun, seakan menjadi penanda bahwa suasana Lebaran belum benar-benar usai.Hiasan itu dikelilingi taman bunga yang rapi, menjadi latar bagi warga yang bergantian mengabadikan momen. Ada yang berfoto bersama keluarga, ada pula yang sekadar berhenti dan menatap.Suasana CFD perdana pasca-Lebaran di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (29/3/2026). Foto: Zamachsyari/kumparanSeperti pagi-pagi sebelumnya di CFD, jalanan berubah menjadi ruang bersama. Tak ada deru kendaraan, hanya langkah kaki dan putaran roda.Sejumlah warga tampak berlari kecil, sebagian menggowes sepeda, sementara yang lain memilih berjalan santai bersama anak dan pasangan.Suasana CFD perdana pasca-Lebaran di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (29/3/2026). Foto: Zamachsyari/kumparanDi sisi trotoar, seorang pria paruh baya tampak duduk sejenak di samping sepedanya. Ia adalah Uus (46), perantau asal Kuningan yang telah lima tahun mengadu nasib di Jakarta. Peluh di dahinya belum kering, namun senyum lebarnya tak hilang."Alhamdulillah, ini ramai juga sih. Terus ramai, terus keduanya teman-teman juga belum pada datang. Biasanya rame-rame," kata Uus saat ditemui di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (29/3).Baginya, CFD bukan sekadar olahraga, tetapi juga ruang pertemuan. Setiap pekan, ia mengayuh sepeda dari Keramat Sentiong bersama komunitasnya. Namun pagi itu, ia datang sendirian, menikmati ritme kota yang baru bangkit.Perantau asal Kuningan, Uus (46) di CFD perdana pasca Lebaran di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (29/3). Foto: Zamachsyari/kumparan"Kalau puasa sih enggak juga. Selama Ramadan vakum. Ini baru mulai lagi," ujarnya.Uus bercerita, ia baru saja kembali dari kampung halaman setelah dua minggu mudik. Di Jakarta, ia bekerja di bengkel sepeda yang juga menjadi tempat ia juga tinggal sehari-hari. "Kerja saya bengkel sepeda," ucap dia.Dari sana, ia mengumpulkan penghasilan untuk keluarga di kampung, yang rutin ia kirimi setiap bulan. CFD baginya adalah jeda kecil di antara kerasnya hidup kota."Oh kalau ini sih kalau kita sih ke Jakarta tuh ya biasalah nafkahin keluarga gitu. Kalau di kampung kan jadi agak berkurang lah pendapatannya. Kalau di sini sih alhamdulillah lah ada aja gitu," terang dia.Tak jauh dari tempat Uus beristirahat, seorang pemuda berperawakan atletis tampak melakukan pemanasan. Agung (21), warga Cideng, memilih tetap di Jakarta selama Lebaran.Suasana CFD perdana pasca-Lebaran di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (29/3/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan"Ya bagus sih kan selama puasa tuh jarang CFD, jarang olahraga pagi. Paling ya olahraga sore jelang buka," kata Agung.Baginya, CFD perdana ini seperti garis awal untuk kembali ke ritme lama yang sempat terhenti. Ia mengaku tak selalu rutin, namun cukup sering menjadikan jalanan ini sebagai lintasan larinya."Ya perdana aja sih kayak mulai dari kembali kayak sebelum puasa," ucap dia.Seiring waktu bergerak menuju pukul tujuh, jumlah warga semakin bertambah. Jalanan yang tadi sedikit lengang kini mulai dipenuhi langkah-langkah yang lebih rapat. Tawa anak-anak, deru sepeda, dan napas para pelari berpadu menjadi satu.Suasana CFD perdana pasca-Lebaran di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (29/3/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan