Ilustrasi anak depresi. Foto: Studio Romantic/ShutterstockRuang publik kini diramaikan oleh temuan Kementerian Kesehatan yang menunjukkan sekitar 700 ribu anak Indonesia mengalami depresi dan kecemasan. Angka tersebut segera beredar luas di media sosial dan portal berita, lalu memantik kekhawatiran publik tentang kondisi psikologis generasi muda. Narasi yang muncul hampir selalu sama: anak-anak Indonesia sedang berada dalam krisis kesehatan mental.Kekhawatiran tersebut tentu beralasan. Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sekitar 1 dari 7 remaja usia di atas 10 tahun mengalami gangguan kesehatan mental, dengan depresi dan kecemasan menjadi penyebab utama disabilitas pada kelompok usia ini. Dalam konteks Indonesia, berbagai survei juga menunjukkan tren peningkatan tekanan psikologis pada remaja, terutama setelah pandemi, dan diperberat oleh perubahan drastis lingkungan digital.Namun, kita seakan lupa bahwa ada satu dimensi penting yang justru luput dari perhatian, yaitu modal prososial generasi muda. Penelitian yang dilakukan oleh Health Collaborative Center (HCC) bersama Zona Mendengar Jiwa terhadap pelajar sekolah menengah di Jakarta menemukan sesuatu yang jarang dibicarakan dalam percakapan kesehatan mental. Di tengah tekanan akademik, dinamika sosial, dan paparan digital yang semakin kompleks, sekitar 8 dari 10 remaja masih menunjukkan tingkat perilaku prososial yang kuat.Prososialitas dalam psikologi dan ilmu perilaku merujuk pada sikap yang berorientasi pada kepentingan orang lain, seperti membantu teman, mendengarkan keluhan, berbagi sumber daya, atau menunjukkan empati terhadap kesulitan orang lain. Penelitian lintas negara menunjukkan bahwa perilaku prososial memiliki hubungan erat dengan kesejahteraan psikologis. Artinya, remaja dengan skor prososial tinggi memiliki kemampuan yang sangat baik untuk peduli terhadap teman, memberikan dukungan emosional, serta merespons kesulitan orang lain dengan empati.Dalam konteks kesehatan mental, fenomena tersebut memiliki makna ilmiah yang sangat penting. Psikologi perkembangan dan kesehatan masyarakat telah lama membuktikan bahwa dukungan sosial merupakan salah satu faktor protektif paling kuat terhadap depresi dan kecemasan. Remaja yang merasa memiliki jaringan sosial yang suportif cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah, kemampuan regulasi emosi yang lebih baik, serta ketahanan psikologis yang lebih tinggi.Referensi literatur menyebut fenomena ini sebagai social buffering effect, sebuah mekanisme di mana dukungan sosial dapat meredam dampak negatif stres psikologis. Artinya, kesehatan mental tidak hanya ditentukan oleh layanan medis atau terapi psikologis. Kesehatan mental juga tumbuh dari relasi sosial yang hangat dan suportif di lingkungan sehari-hari.Di sinilah temuan studi modal prososial remaja menjadi sangat penting. Ada sebuah studi meta-analisis yang dipublikasikan dalam Journal of Youth and Adolescence yang menemukan bahwa remaja yang terlibat dalam aktivitas membantu orang lain memiliki tingkat depresi yang lebih rendah serta kepuasan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang kurang terlibat dalam perilaku prososial. Penelitian lain dalam bidang neuropsikologi bahkan menunjukkan bahwa tindakan membantu orang lain dapat mengaktifkan sistem penghargaan di otak, meningkatkan aktivitas pada area yang berkaitan dengan rasa makna hidup dan kesejahteraan emosional.Seorang anak berusia 13 tahun mengalami depresi berat. Foto: Dok. kumparanDalam konteks Indonesia, temuan tentang modal prososial remaja menjadi sangat menarik karena sering kali tertutup oleh narasi yang terlalu pesimistis tentang generasi muda. Masalahnya bukan pada perhatian terhadap depresi atau kecemasan. Kedua kondisi tersebut nyata, serius, dan membutuhkan respons sistem kesehatan yang kuat. Masalah sebenarnya muncul ketika percakapan publik berhenti di sana, ketika seluruh energi bangsa hanya diarahkan untuk menghitung luka, tetapi tidak untuk merawat kekuatan yang masih ada. Padahal realitas sosial remaja jauh lebih kompleks daripada itu.Selama ini pendekatan terhadap kesehatan mental remaja sering bersifat defisit-oriented atau mencari gejala, mengukur gangguan, mengidentifikasi kerentanan. Pendekatan seperti ini memang penting dalam epidemiologi kesehatan mental. Namun, jika terus mendominasi cara berpikir, bangsa ini tanpa sadar sedang membangun narasi generasi muda sebagai generasi yang rapuh, cemas, dan penuh masalah.Di ruang-ruang kelas, di lorong sekolah, di percakapan yang tidak pernah tercatat dalam laporan penelitian, sering kali terlihat hal yang berbeda: seorang siswa yang diam-diam menemani temannya yang sedang putus asa, seorang sahabat yang bertahan mendengarkan curahan hati hingga larut malam, atau sekelompok teman yang berusaha menjaga satu sama lain dari tekanan yang semakin berat. Tindakan-tindakan kecil itu sering dianggap sepele. Tidak masuk statistik nasional. Tidak tercatat dalam laporan kebijakan. Namun justru di situlah modal prososial generasi muda bekerja secara diam-diam.Dalam perspektif kesehatan masyarakat, perilaku seperti itu memiliki implikasi yang sangat besar. Remaja yang berada dalam jaringan sosial yang suportif cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah dan kemampuan adaptasi yang lebih baik terhadap tekanan hidup. Hubungan pertemanan yang sehat dapat menjadi penyangga psikologis yang mencegah tekanan emosional berkembang menjadi gangguan mental yang lebih berat. Dengan kata lain, empati antar-remaja sering kali menjadi garis pertahanan pertama kesehatan mental, bahkan sebelum intervensi profesional hadir.Jika ruang-ruang sosial pada remaja tersebut tidak dirawat, prososialitas dapat melemah. Tekanan akademik yang terlalu kompetitif, budaya digital yang semakin individualistik, serta lingkungan sosial yang minim dialog emosional dapat perlahan menggerus kemampuan remaja untuk saling memahami.Karena itu, mungkin sudah waktunya traffic perbincangan kesehatan mental remaja di Indonesia bergerak ke arah yang lebih seimbang. Kita tetap perlu serius menghadapi depresi dan kecemasan. Namun pada saat yang sama, bangsa ini juga perlu belajar melihat sesuatu yang selama ini hampir tidak pernah disorot: remaja yang masih mampu peduli terhadap sesamanya.Di balik statistik kesehatan mental yang mengkhawatirkan, masih ada percakapan-percakapan kecil antara teman yang menyelamatkan seseorang dari kesepian. Masih ada tangan yang ditepuk di bahu seorang sahabat yang sedang rapuh. Masih ada keberanian untuk berkata kepada teman, 'Aku di sini kalau kamu butuh bicara.'Hal-hal seperti itu mungkin tidak pernah muncul dalam laporan statistik nasional. Namun, sering kali justru itulah yang menjaga seorang remaja agar tidak jatuh lebih dalam. Bangsa ini mungkin telah terlalu lama menghitung angka depresi. Tetapi masa depan kesehatan mental generasi muda bisa jadi justru ditentukan oleh seberapa serius kita merawat empati yang masih hidup di antara mereka. Dan selama masih ada remaja yang bersedia mendengar temannya tanpa menghakimi, harapan bagi kesehatan mental bangsa ini belum sepenuhnya hilang.