Sebulan Perang Iran, AS Terus Tambah Kekuatan Pasukan di Timur Tengah

Wait 5 sec.

Letjen Angkatan Darat AS Christopher Donahue berbicara kepada anggota Divisi Lintas Udara ke-82 sebelum upacara penggantian nama Fort Bragg menjadi Fort Liberty di dekat Fayetteville (2/6/2023). Foto: ALLISON JOYCE/AFPPerang antara Amerika Serikat (AS) bersama Israel dan Iran yang dikenal sebagai Operation Epic Fury kini memasuki pekan keempat, dengan Presiden AS Donald Trump mengeklaim Washington tengah bernegosiasi dengan Teheran, meski hal itu dibantah pihak Iran.AS pada Rabu (25/3) dilaporkan tengah menambah kekuatan militer untuk menarget Iran dengan pasukan marinir, kapal perang, dan jet tempur.Penguatan militer AS ini terdiri dari tiga formasi berbeda yang memiliki asal, jalur, dan waktu kedatangan yang tidak sama.Tripoli Amphibious Ready Group (Marinir ke-31)Kelompok pertama dipusatkan pada kapal serbu amfibi USS Tripoli dan Pasukan Ekspedisi Marinir ke-31 (31st MEU).Menurut laporan AlJazeera, pasukan ini diberangkatkan dari Sasebo, Jepang, pada 13 Maret. Mereka sempat melintasi Selat Malaka dan pada 23 Maret sudah berada di Diego Garcia, wilayah Samudra Hindia milik Inggris.Foto yang dirilis Multi-National Force Iraq memperlihatkan Marinir AS beristirahat sejenak di dalam helikopter CH-53E saat terbang menuju perbatasan Irak-Suriah (7/11/2004). Foto: MNF-I / AFPPasukan ini diperkirakan mulai masuk area operasi Timur Tengah pada akhir Maret hingga awal April.Boxer Amphibious Ready Group (Marinir ke-11)Gelombang kedua berasal dari USS Boxer yang membawa Pasukan Ekspedisi Marinir ke-11 (11th MEU) dari California, Amerika Serikat.Seorang pelaut Angkatan Laut AS mengamati saat kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln (CVN-72) melakukan pengisian ulang di laut dengan kapal tanker USNS Henry J. Kaiser dalam mendukung Operation Epic Fury (18/3/2026). Foto: US Navy/HO via REUTERSMereka berangkat pada 19–20 Maret dan harus menempuh perjalanan sekitar 22.200 kilometer menuju kawasan konflik. Pasukan berjumlah sekitar 2.000-2.200 ini diperkirakan baru tiba paling cepat pertengahan April.82nd Airborne Division (Pasukan Lintas Udara)Kekuatan ketiga adalah sekitar 2.000 personel dari Divisi Lintas Udara ke-82, yang berbasis di Fort Bragg, Carolina Utara.Pasukan ini merupakan unit reaksi cepat yang menjadi tambahan terbaru dalam penguatan militer AS di kawasan.Letjen Angkatan Darat AS Christopher Donahue berbicara kepada anggota Divisi Lintas Udara ke-82 sebelum upacara penggantian nama Fort Bragg menjadi Fort Liberty di dekat Fayetteville (2/6/2023). Foto: ALLISON JOYCE/AFPMenteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan menyebut kemungkinan operasi untuk mengamankan material nuklir Iran.“Orang-orang harus masuk dan mengambilnya,” ujar Rubio, dilansir AlJazeera.Meski belum ada keputusan invasi darat, kombinasi pasukan elite ini membuka berbagai opsi operasi militer terbatas.Total hingga 7.000 pasukan tambahan ini menunjukkan bahwa meski ada klaim kemenangan dan wacana diplomasi, AS tetap menyiapkan opsi militer di lapangan, menandakan konflik masih jauh dari kata selesai.“Kami sedang dalam pembicaraan. Sangat, sangat kuat,” kata Trump, meski Iran menegaskan tidak ada negosiasi langsung yang berlangsung.Korps Marinir TNI AL latihan bersama (latma) dengan USMC di Pantai Dabo Singkep, Kepulauan Riau. Foto: Dok. Dinas Penerangan TNI ALSkenario Operasi: Dari Hormuz hingga NuklirAnalis militer dari International Institute for Strategic Studies, Ruben Stewart menyebut setidaknya ada tiga skenario yang mungkin dipertimbangkan AS: mengamankan Selat Hormuz, merebut Pulau Kharg—pusat ekspor minyak Iran, atau menguasai fasilitas nuklir.Namun, Stewart menilai pengerahan pasukan saat ini lebih cocok untuk operasi cepat dan terbatas, bukan perang darat skala besar.Pesawat Angkatan Laut AS dari Carrier Air Wing 9 bersiaga di dek penerbangan kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln (CVN-72) dalam mendukung Operation Epic Fury dari lokasi yang tidak diungkap (14/3/2026). Foto: US Navy/HO via REUTERS“Pasukan ini dirancang untuk misi singkat seperti serangan atau penguasaan titik strategis, bukan operasi jangka panjang,” katanya, dalam laporan investigasi AlJazeera. Di tengah eskalasi militer, jalur diplomasi tetap dibuka. Trump mengeklaim telah ada kemajuan dalam pembicaraan, bahkan menyebut ada 15 poin kesepakatan.Namun, Iran kembali membantah. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut negaranya hanya menerima pesan dari pihak ketiga, bukan negosiasi langsung.