sumber: ShutterstockSaya pernah mencobanya sendiri dan berakhir menyesalinya. DIY masker putih telur yang viral sekitar tahun 2018 saya coba karena rasa penasaran setelah melihat puluhan video testimoni yang meyakinkan di media sosial. Hasilnya bukan kulit mulus dan kencang seperti yang dijanjikan, melainkan jerawat yang butuh waktu bertahun-tahun untuk hilang. Tapi yang lebih menarik untuk dipikirkan bukan apa yang terjadi pada kulit saya, tetapi mengapa saya percaya begitu saja tanpa merasa curiga dan berpikir secara kritis terlebih dahulu.Mengapa jutaan orang, termasuk saya, bisa percaya begitu saja pada video DIY skincare yang bahkan belum teruji secara ilmiah?Itulah pertanyaan yang sebenarnya perlu kita jawab.Kita hidup di era di mana informasi bergerak secepat kilat dari kemampuan kita untuk memeriksanya. Media sosial telah mengubah cara orang-orang mendapatkan pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang tubuh dan kesehatan. Informasi yang dulu hanya beredar dari mulut ke mulut sekarang bisa diketahui banyak orang dalam hitungan menit melalui media sosial. Cepatnya arus informasi membuat kita melupakan satu hal, logika.Salah satu kriteria dari filsuf sains Karl Popper untuk membedakan ilmu pengetahuan dari yang bukan adalah falsifiability, yaitu kemampuan untuk dibuktikan salah. Masker putih telur tidak memenuhi standar ini. Ketika seseorang bilang hasilnya membuat kulit wajah rusak dan berjerawat, beberapa orang akan bilang alasan seperti “mungkin caramu salah” atau “kulitmu terlalu sensitif.” Klaim yang selalu punya cara untuk tidak bisa salah, menurut Popper, ini bukanlah ilmu pengetahuan tapi kepercayaan yang tidak berbasis bukti ilmiah.Hasil penelitian tidak keluar secara instan, klaim sekecil apa pun termasuk “masker putih telur bisa mengecilkan pori-pori” harus melewati serangkaian proses panjang sebelum bisa disebut terbukti. Dimulai dari hipotesis yang dapat diuji, pengumpulan data pada banyak subjek dalam kondisi terkontrol, replikasi oleh peneliti lain yang independen, sampai penilaian oleh sesama ahli (peer review) sebelum hasilnya dipublikasikan. Proses ini memang lambat dan tidak viral di media sosial, tapi karena itulah hasilnya dapat dipercaya.Tapi mengapa kita tetap mudah percaya?Menurut Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking, Fast and Slow (2011), manusia memiliki dua sistem berpikir. Sistem pertama bekerja cepat, intuitif, dan otomatis, aktif ketika kita menonton video testimoni dan langsung merasa, “ini masuk akal.” Sistem kedua bekerja lambat, analitis, dan membutuhkan usaha, sistem ini seharusnya bertanya tentang bukti, metodologi, dan validitas. Masalahnya, konten media sosial dirancang untuk mengaktifkan sistem pertama, bukan yang kedua. Kita percaya sebelum sempat berpikir, dan sering kali tidak pernah kembali mempertanyakannya.Ada pula mekanisme psikologis lain yang memperparah keadaan yaitu confirmation bias. Dalam eksperimennya, Peter Cathcart Wason (1960) menunjukkan bahwa manusia cenderung mencari informasi yang mengonfirmasi keyakinannya, bukan yang membantahnya. Kita lebih mudah menerima hal-hal yang sesuai dengan apa yang ingin kita dengar, dan cenderung mengabaikan yang bertentangan.Dalam konteks skincare, hal ini bekerja dengan sangat halus. Siapa yang tidak ingin kulit mulus dengan bahan yang dapat ditemukan di dapur dan dijual murah di warung? Keinginan itu membuat kita lebih mudah percaya tanpa mempertanyakan, dan lebih mudah mengabaikan bukti yang tidak sesuai. Seperti dijelaskan lebih lanjut oleh Raymond S. Nickerson (1998), confirmation bias bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan kecenderungan kognitif yang sangat umum dalam pengambilan keputusan manusia.Banyak dermatologis yang angkat bicara soal tren ini, hanya saja suara mereka kalah dari algoritma media sosial. Banyak klaim yang beredar di media sosial tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Efek “kencang” yang sering dirasakan dari masker alami seperti masker putih telur, misalnya, sering kali hanyalah efek sementara akibat pengeringan di permukaan kulit, bukan perubahan struktural yang nyata.Artikel dari Everyday Health menyebut bahwa masker putih telur sering diklaim dapat mengencangkan kulit dan mengurangi minyak karena kandungan proteinnya. Namun, belum ada penelitian ilmiah yang dapat membuktikan hal tersebut dan efeknya juga hanya bersifat sementara di permukaan kulit.Selain itu, dermatolog juga menegaskan bahwa protein putih telur sulit menembus skin barrier sehingga tidak memberikan perbaikan jangka panjang dan berisiko menimbulkan iritasi hingga infeksi karena bakteri salmonella.Yang membuat fenomena ini lebih dari sekadar urusan kulit adalah pola pikir di baliknya. Kebiasaan menerima klaim tanpa bukti karena terasa masuk akal, atau karena banyak yang mempercayainya, adalah kebiasaan yang bekerja dengan cara yang sama ketika orang menolak vaksin, mempercayai pengobatan tanpa dasar ilmiah, atau mengonsumsi suplemen dengan klaim berlebihan. Pseudosains kecantikan mungkin terasa sepele dengan hasil paling buruk mungkin jerawat, seperti yang saya alami sendiri. Tanpa disadari, ini melatih kita untuk tidak kritis, dan kebiasaan itu punya konsekuensi yang jauh lebih besar.Maka yang paling dibutuhkan bukan sekadar kemampuan membedakan hoaks dan fakta. Yang lebih penting adalah membiasakan diri untuk bertanya seperti “apa sudah teruji secara ilmiah?” dan “siapa yang menguji?”Berpikir kritis, dalam arti yang sesungguhnya, bukan tentang menjadi skeptis terhadap segalanya, melainkan tentang memberi kepercayaan secara proporsional terhadap bukti. Di era ketika semua orang bisa terlihat meyakinkan, kemampuan untuk meragukan justru menjadi bentuk kecerdasan yang paling penting.