Ilustrasi seseorang becermin untuk mengenal diri (ma'rifatul insan). Foto: ShutterstockGelombang kecemasan bisa datang tiba-tiba, apalagi saat kita sedang dihantam badai ketidakberhasilan dalam meraih impian yang semakin jauh dari genggaman. Lalu, kecemasan itu melahirkan pertanyaan, "Siapa aku tanpa jabatan? Siapa aku tanpa validasi? Kalau semua pencapaian hilang, apa yang tersisa?”Beragam pertanyaan tersebut bisa timbul karena kita belum menyadari bahwa persoalan itu semua bukanlah sesuatu yang serius. Krisis identitas itu bukanlah tanda lemah, melainkan tanda jika seseorang sedang tumbuh. Tanpa identitas, manusia tetaplah manusia yang ditugaskan untuk beribadah dan memelihara bumi Allah Swt.Namun, di tengah pesatnya kemajuan teknologi, tidak sedikit individu yang belum sepenuhnya mengenal siapa dirinya sebagai manusia. Sebelum bertanya “Aku mau jadi apa?”, kita perlu berani bertanya, “Sebenarnya aku ini apa?”Di dalam Islam sendiri, manusia tidak sekadar makhluk biologis yang bernurani. Ia bukan hanya raga yang tumbuh, berkembang, bekerja, lalu akhirnya mati. Konsep dari ma’rifatul insan mengajarkan bahwasanya manusia merupakan makhluk yang kompleks dan mulia, tetapi juga rapuh.Mengenal Diri dari Penciptaan ManusiaIlustrasi manusia berdoa. Foto: ShutterstockApabila membahas tentang topik manusia, mungkin sehari atau dua hari tidak akan mampu selesai, seolah tidak ada ujungnya. Kisah penciptaan manusia banyak diterangkan dalam firman Allah Swt. seperti QS. Al-Mu’minun: 12-14, QS. As-Sajdah: 7-9, dan QS. Al-Hijr: 28-29.وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍۚ ١٢ ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍۖ ١٣ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً َفَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَ َۗ فَتَبَارَكَ اللهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ ١٤“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah. Kemudian, Kami menjadikannya air mani di dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah sebaik-baik pencipta.” (QS. Al-Mu’minun: 12-14)الَّذِيْ أَحْسَنَ كُلَّ شَيْئٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِيْنٍ٧ ثَمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ مَّاۤءٍ مَّهِيْنٍۚ ٨ ثَمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ ٩“(Dia juga) yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian, Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani). Kemudian, Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalamnya. Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani untukmu. Sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS. As-Sajdah: 7-9)وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ إِنِّيْ خَالِقٌ بَشَرًا مِّنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَاٍ مَّسْنُوْنٍۚ ٢٨ فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهُ سٰجِدِيْنَ ٢٩(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang dibentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya dan telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, menyungkurlah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS. Al-Hijr: 28-29)Manusia terdiri dari komponen tanah serta roh yang ditiupkan ke dalam tubuhnya. Dari tanah artinya manusia punya sisi lemah, rendah, dan terbatas. Sementara, dari roh artinya manusia menyimpan sisi mulia, spiritual, dan bernilai.Ini merupakan sebuah kombinasi antara langit dan bumi. Oleh sebab itu, manusia diapit antara keterbatasan dan kemuliaan. Jika seseorang merasa lelah dan lemah, itu adalah suatu hal yang lumrah. Namun, dalam dimensi lain ia juga memiliki bakat dan potensi yang berkualitas tinggi.Manusia Diciptakan Bukan dengan KebetulanIlustrasi salat di sela-sela kerja. Foto: ShutterstockManusia adalah makhluk yang diciptakan di dunia tanpa kebetulan. Ia ditugasi untuk beribadah kepada Allah Swt. sebagaimana penjelasan QS. Adz-Dzariyat ayat 56. Di samping itu pula, manusia diamanahi agar menjadi khalifah di muka bumi, sebagaimana keterangan dari QS. Al-Baqarah ayat 30.Dengan demikian, manusia disebut sebagai makhluk produktif yang selama hidupnya diberi pekerjaan untuk mengabdi kepada Tuhan yang telah mengadakannya sebelum ia tidak ada. Namun, yang menjadi problem ialah sebagian besar manusia belum benar-benar beribadah secara tulus mengharap rida-Nya.Terdapat beberapa perkara duniawi yang mengubah niat ketulusan ibadah menjadi hanya ingin “meminta sesuatu”. Penyebab berubahnya niat tersebut dapat berasal dari faktor lingkungan, trauma, ambisi, dan ego yang menutupi mata hati.Misalnya, seseorang sedang berada dalam kondisi kekurangan, lalu ia disiplin menjalankan amalan ibadah hanya karena mengharapkan karier yang bagus, kedudukan yang tinggi, atau ingin memperoleh harta kekayaan yang melimpah.Di sinilah perjalanan untuk belajar ma’rifatul insan menjadi begitu fundamental. Ma’rifatul insan bukan mengajak kita menjadi orang lain, melainkan supaya kembali pada fitrah, yakni menjadi hamba yang senantiasa menyembah Allah.Ma’rifatul Insan: Mengenal Diri, Mengenal AllahIlustrasi ajaran agama. Foto: ShutterstockOrang-orang atau bahkan diri kita sendiri ketika telah menginjak usia 20-an biasanya sudah bekerja, tetapi tidak jarang masih gelisah. Sudah punya pasangan, tetapi tetap saja hampa. Atau sudah sibuk, tetapi selalu merasa tidak tahu arah. Apa yang sebenarnya terjadi? Ternyata, kita lebih cepat mengenal dunia daripada mengenal diri kita sendiri. Dalam ajaran sufisme ada sebuah kalimat yang populer,مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ“Barang siapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya.”Saat seseorang memahami betul tujuan penciptaan manusia, maka ia akan sangat mengenal Tuhannya. Dan mungkin tidak pernah mengeluh sedikit pun, meski prahara kehidupannya cukup berat.Tatkala ia sadar akan kelemahan yang tidak akan bisa hilang, ia akan mengetahui bahwa Allah itu Al-Qawiyyu. Ketika ia sadar bahwa ia senantiasa butuh pertolongan, ia mengetahui bahwa Allah itu Al-Hasib dan Al-Kafi. Ketika ia sadar kalau ia adalah makhluk yang fana, ia tentu sangat yakin bahwa Allah itu Al-Baaqii.Dari kesadaran dan belajar bermuhasabah itulah seseorang akan merefleksikan dirinya dengan sebuah pertanyaan, “Aku ini siapa di hadapan Allah? Apakah aku benar-benar manusia yang sudah menjalankan perintah-Nya atau belum? Tanpa Allah, aku tidak akan ada di dunia ini.”Mengkaji ma’rifatul insan itu bukan untuk kagum dan merasa besar. Akan tetapi, untuk tahu betapa kita sangat butuh Allah serta menyadari keterbatasan diri dari segala sisi mana pun. Selagi kita tidak keluar dari koridor syariat-Nya, Allah Swt. akan senantiasa mendampingi kita tanpa mengenal batas ruang dan waktu.