Ilustrasi kapal pesiar yang sedang berlayar. Foto: Julie Flavin Photography/ShutterstockOperator kapal pesiar Carnival Corp memangkas proyeksi laba tahunannya pada Jumat (27/3), seiring kenaikan biaya bahan bakar yang menekan margin di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.Serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di Timur Tengah, serta gangguan aliran energi melalui Selat Hormuz, yang mengangkut sekitar seperlima aliran minyak global sejak pecahnya perang Iran, telah mengganggu pasokan global dan mendorong kenaikan harga minyak.Mengutip Reuters pada Sabtu (28/3), lonjakan ini mengancam keuntungan Carnival karena perusahaan merupakan satu-satunya operator kapal pesiar besar di AS yang umumnya tidak melakukan lindung nilai bahan bakar.Carnival memperkirakan laba per saham (adjusted EPS) setahun penuh sekitar USD 2,21, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang mencapai hingga USD 2,48.Saham Carnival yang terdaftar di bursa AS turun hampir 5 persen pada awal perdagangan dan telah melemah sekitar 17 persen sejak awal tahun.Perusahaan menyatakan proyeksi tersebut mengasumsikan harga minyak Brent rata-rata USD 90 per barel untuk sisa April dan Mei, USD 85 pada kuartal ketiga, dan USD 80 pada kuartal keempat, berdasarkan pembelian bahan bakar pada Maret dan awal April, bukan harga spot saat ini.Dalam paparan kinerja, perusahaan menyebut takkan berspekulasi mengenai dampak konflik geopolitik saat ini. Seorang analis dari Fitch Ratings, John Kempf, menyebut kenaikan biaya bahan bakar akan berdampak, namun masih dapat ditangani oleh perusahaan."Skenario biaya bahan bakar yang lebih tinggi dalam jangka waktu lama akan memengaruhi Carnival, tetapi perusahaan memiliki skala dan likuiditas untuk mengatasi fluktuasi ini," kata John.Menurutnya, tingginya pemesanan menunjukkan permintaan terhadap industri kapal pesiar tetap kuat meskipun kondisi ekonomi tidak pasti. CEO Carnival, Josh Weinstein, mengatakan pemesanan untuk tahun depan terus meningkat."Pemesanan untuk tahun 2026 meningkat dua digit, yang semakin mendorong posisi pemesanan kami yang sudah mencapai rekor untuk sisa tahun ini," ucap Josh.Perusahaan memperkirakan bakal memperoleh sekitar USD 150 juta dari peningkatan pendapatan dan efisiensi biaya non-bahan bakar untuk mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar yang diperkirakan melebihi USD 500 juta.Permintaan yang kuat juga membantu Carnival melampaui estimasi pendapatan dan laba pada kuartal pertama. Selain itu, perusahaan mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai USD 2,5 miliar.