Al Aqsa Mosque. Sumber : https://www.shutterstock.comPerayaan Idul Fitri 1 Syawal 1447 H di Kota Suci Al-Quds, Yerusalem menjadi momen yang mencekam dan penuh duka. Untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak tahun 1967, umat Muslim Palestina dilarang sepenuhnya melaksanakan salat Idul Fitri di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa oleh otoritas keamanan Israel. Masjid yang menjadi kiblat pertama umat Islam itu tidak lagi dipenuhi gema takbir di sepuluh malam terakhir, bahkan, salat Idul Fitri.Peristiwa ini bukan sekadar kabar duka atau insiden biasa, melainkan bagian dari rangkaian panjang penjajahan yang sistematis, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara ideologis dan peradaban. Penutupan akses bagi kaum Muslimin, pembatasan ibadah, hingga upaya mengubah status masjid adalah bentuk nyata dari proyek besar yang bertujuan memutus hubungan umat dengan salah satu simbol utama kemuliaan Islam.Padahal, Al-Aqsa bukan sekadar situs sejarah. Ia adalah bagian dari akidah. Ia adalah tanah yang disebut langsung dalam Al-Quran sebagai negeri yang diberkahi. Dari sanalah Rasulullah ﷺ memulai perjalanan Isra’-nya, mengimami para nabi, dan menegaskan posisi Al-Aqsha sebagai simpul penting dalam peradaban Islam. Maka, ketika masjid ini dibungkam, sejatinya yang sedang diuji bukan hanya sebuah bangunan, tetapi juga sensitivitas iman umat Islam itu sendiri.Kesunyian Al-Aqsa hari ini adalah cerminan dari kondisi umat yang tercerai-berai. Ketika umat kehilangan kesatuan politik dan kepemimpinan global, maka simbol-simbol suci pun menjadi rentan. Al-Aqsa sejatinya bukan hanya korban konflik geopolitik, tetapi juga korban dari absennya pelindung hakiki umat Islam.Lebih jauh, kondisi ini disebut sebagai bentuk “ghoflah jama’iyyah”, kelalaian massal umat. Umat disibukkan dengan urusan dunia, terpecah oleh batas-batas nasionalisme, dan perlahan kehilangan sensitivitas terhadap penderitaan saudaranya sendiri. Dalam konteks ini, sunyinya takbir di Al-Aqsa menjadi simbol keras bahwa ada yang terputus antara umat dan agamanya, antara ibadah ritual dan tanggung jawab peradaban.Sementara itu, di lapangan, umat Islam di sekitar Yerusalem tetap berupaya menunjukkan keteguhan. Mereka melaksanakan salat di jalanan, di dekat gerbang, bahkan dalam tekanan. Persis tulisan di dinding Masjid Al-Aqsa “لـن تركع أمة قائدها محمد “ (Umat/bangsa yang dipimpin oleh Muḥammad ﷺ tidak akan pernah menyerah). Ini menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk Al-Aqsa tidak cukup dengan simpati sesaat, tetapi membutuhkan kesadaran yang lebih mendasar dan terstruktur.Pembebasan Al-Aqsa tidak bisa dilepaskan dari kebangkitan umat secara menyeluruh, baik dari sisi pemikiran, politik, maupun sistem kehidupan. Al-Aqsa adalah isu umat, bukan sekadar isu regional. Ia menuntut lebih dari sekadar doa; ia menuntut perubahan cara pandang dan arah perjuangan umat Islam itu sendiri.Al-Aqsa tanpa Idul Fitri bukan hanya tragedi, tetapi juga seruan. Seruan bagi umat yang terlena agar kembali menyadari posisi dan tanggung jawabnya. Seruan untuk bangkit dari kelalaian, menyatukan barisan, dan menghidupkan kembali kepedulian yang selama ini mungkin memudar.Di tengah kebahagiaan Idul Fitri, jangan lupakan luka di Masjid Al-Aqsa. Saat kita merayakan kemenangan, saudara kita di Baitul Maqdis masih berjuang di bawah penindasan dan pembatasan ibadah. Al-Aqsa bukan hanya milik Palestina, tetapi amanah seluruh umat Islam. Saatnya kita bangkitkan kepedulian dengan doa, persatuan, dan suara kebenaran.