Lebaran, Ketupat, dan Rindu yang Diam-Diam Menyakitkan

Wait 5 sec.

Ilustrasi Suasana Lebaran dengan hidangan ketupat yang tak hanya menghadirkan rasa, tetapi juga menyimpan kenangan dan rindu. Ilustrasi: hasil generasi AISetiap kali Lebaran, meja makan terasa penuh tetapi entah kenapa hati justru seperti ada yang hilang. Ketupat tersaji rapi, opor ayam masih hangat, sambal goreng dan kerupuk melengkapi suasana lebaran yang nyaris sempurna, orang-orang datang silih berganti, bersalaman, mengucapkan kalimat yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya “mohon maaf lahir dan batin”.Sekilas semua terlihat tampak utuh, Namun, tidak semua benar-benar terasa utuh, ada kursi yang kini kosong, ada suara yang tidak lagi terdengar, ada seseorang yang dulu selalu hadir tetapi kini hanya bisa kita temui dalam ingatan dan doa. Lebaran, yang sering kita rayakan sebagai hari kemenangan, diam-diam juga mempertemukan kita dengan kehilangan.Di tengah ramainya silaturahmi, kita justru diingatkan bahwa tidak semua yang kita cintai bisa terus bersama kita, ada orang-orang yang harus kita relakan, tetapi sebagai gantinya ada juga orang-orang yang harus kita terima, meskipun pada dasarnya kita tidak pernah benar-benar siap untuk itu tetapi barangkali di situlah Lebaran menjadi lebih jujur. Kita sering mengatakan bahwa Idul fitri adalah momen kembali ke fitrah. Tapi dalam praktiknya, kita justru lebih sibuk kembali ke tradisi. Kita berpindah dari satu rumah ke rumah lain, dari satu obrolan ke obrolan berikutnya, tanpa sempat benar-benar berhenti, tanpa sempat benar-benar mendengarkan diri sendiri.Padahal, ada banyak hal dalam hidup yang tidak bisa diselesaikan dengan keramaian, salah satunya adalah rindu, karena ada rindu yang tidak pernah benar-benar selesai. Ia tidak hilang, tetapi tidak juga pergi. Ia hanya berubah bentuk menjadi kenangan, menjadi doa, atau sekadar rasa yang tiba-tiba hadir di sela-sela canda dan tawa di hari “kemenangan” itu. Tetapi anehnya, justru di hari seperti Lebaran ini rindu itu terasa lebih dekat. Mengapa demikian?Mungkin karena kita sedang “merasa” pulang, mungkin karena kita sedang berkumpul atau mungkin karena kita sadar, ada yang tidak lagi bisa kita temui di momen seperti ini, di mana kita bisa tertawa bersama keluarga, berbincang ringan, bahkan terlihat bahagia. Tetapi sesungguhnya di dalam hati, ada ruang kecil yang tetap sunyi, karena sesungguhnya menjadi manusia bukan tentang selalu utuh, tetapi tentang mampu menerima ketidaklengkapan.Lebaran seharusnya tidak hanya menjadi momen saling memaafkan, tetapi juga menjadi ruang untuk memahami. Memahami bahwa setiap orang membawa ceritanya sendiri, bahwa di balik senyuman yang terlihat, bisa jadi ada kehilangan yang belum benar-benar pulih karena tidak semua luka terlihat. Sepiring ketupat yang senantiasa tersaji di hadapan kita bukan sekadar hanya makanan tetapi Ia adalah simbol perjalanan, dari menahan menuju dan menerima, dari keterbatasan menuju kecukupan, dari jarak menuju kedekatan. Meskipun faktanya tidak semua kedekatan bisa kembali seperti semula, karena ada yang hanya bisa kita rasakan lewat kenangan, ada yang hanya bisa kita sapa lewat doa. dan justru karena inilah kehadiran menjadi begitu berharga.Kita seringkali baru menyadari arti seseorang ketika ia tidak lagi ada di tempat yang biasa kita temui. Kita baru memahami makna kebersamaan ketika kebersamaan itu tidak lagi lengkap, lebaran mengajarkan kita hal ini dengan cara yang sederhana, tetapi dalam. Bahwa hidup tidak selalu tentang apa yang kita miliki hari ini, tetapi juga tentang apa yang pernah kita rasakan, dan bagaimana kita menyimpannya dengan ikhlas.Pada akhirnya, Lebaran bukan hanya tentang siapa yang datang dan berkumpul tetapi juga tentang siapa yang pernah hadir, dan masih tinggal di hati kita, dan rindu ini meskipun diam-diam menyakitkan tetapi juga adalah bukti bahwa kita pernah mencintai dengan sungguh-sungguh.Barangkali, di antara yang sedang kita rayakan hari ini, ada yang diam-diam juga sedang kita relakan.