China Tahan Kenaikan Harga BBM Demi Kurangi Beban Warga

Wait 5 sec.

Ilustrasi SPBU di China. Foto: Brookgardener/ShutterstockPemerintah China menahan laju kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) demi mengurangi beban masyarakat di tengah lonjakan harga energi global akibat perang antara Israel-Amerika Serikat dengan Iran. Langkah ini diambil setelah harga BBM dalam negeri sebelumnya sudah beberapa kali naik sepanjang tahun ini.Mengutip BBC News, China tercatat telah menaikkan harga BBM sebanyak lima kali sejak awal tahun. Namun, dalam penyesuaian terbaru, pemerintah memutuskan memangkas rencana kenaikan harga agar tidak terlalu memberatkan pengguna. Terlebih kenaikan terakhir diteken di tengah volatilitas harga minyak global. Pada Selasa (24/3), harga minyak mentah Brent sempat melonjak di atas USD 100 per barel. Meski sebelumnya sempat turun, namun kenaikan harga terbaru ini merupakan yang kelima dan terbesar di China tahun ini.Harga bensin domestik di China telah melonjak sekitar 20 persen sejak pecahnya perang yang melibatkan Iran dan turut memicu gangguan di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak tersibuk di dunia.Awalnya, harga bensin dan solar dikerek masing-masing sebesar 2.205 yuan dan 2.120 yuan per metrik ton. Namun setelah intervensi pemerintah, kenaikan tersebut dipangkas hampir setengahnya menjadi 1.160 yuan dan 1.115 yuan per metrik ton yang mulai berlaku pada Selasa.Iran Pemasok Utama, Cadangan Minyak 1,4 Miliar BarelIlusrasi Kilang Minyak Iran. Foto: MillaF/ShutterstockLebih dari 300 juta orang di China mengendarai mobil yang menggunakan bensin atau diesel. Sementara sumber utama minyak negara tersebut adalah negara-negara Teluk.Data Bea Cukai setempat menunjukkan, pada Januari hingga Februari tahun ini, China meningkatkan impor minyak mentah sebesar 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.Iran tetap menjadi pemasok utama minyak murah bagi China dengan lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran diserap oleh Beijing. Meskipun negara tersebut disanksi oleh AS.Dengan demikian, perang Iran-Israel memukul China dan berimbas pada lonjakan harga dan kekhawatiran pasokan sempat memicu antrean panjang di sejumlah SPBU di berbagai kota. Bahkan, beberapa stasiun pengisian bahan bakar dilaporkan kehabisan stok selama akhir pekan.Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen mengatakan selama bertahun-tahun Beijing telah memanfaatkan harga minyak mentah yang lebih rendah dan melimpahnya pasokan dari negara-negara Teluk untuk membangun salah satu cadangan minyak terbesar di dunia.Ilustrasi SPBU di China. Foto: Vladimir Razgulyaev/ShutterstockCadangan minyak China diperkirakan mencapai sekitar 900 juta barel, atau setara dengan kebutuhan impor selama tiga bulan. Bahkan, data dari Universitas Columbia menyebutkan total cadangan minyak negara tersebut bisa mencapai 1,4 miliar barel.Meski memiliki cadangan besar, pemerintah China tetap berhati-hati dalam mengelola pasokan jangka pendek. Salah satu langkah yang diambil adalah menjaga stabilitas harga dalam negeri.Pemerintah juga dilaporkan meminta kilang minyak untuk sementara menghentikan ekspor bahan bakar guna memastikan pasokan domestik tetap terjaga. Namun, kebijakan ini belum mendapat tanggapan resmi dari otoritas terkait.Menurut data Energy Information Administration (EIA), minyak dari Arab Saudi dan Iran masing-masing menyumbang lebih dari 10 persen dari total impor China.Penyesuaian harga BBM di China dilakukan oleh Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC), yang secara rutin meninjau harga setiap 10 hari berdasarkan pergerakan harga minyak dunia.