Kata Chef Begini Cara Menghemat Penggunaan LPG saat Memasak, Catat Ibu-ibu!

Wait 5 sec.

Warga memasak dengan menggunakan jaringan gas untuk rumah tangga di Kota Cirebon, Jawa Barat, Kamis (21/3). Foto: ANTARA FOTO/M Agung RajasaSeruan untuk menghemat penggunaan LPG saat memasak di rumah muncul seiring ancaman krisis energi global. Namun tak sedikit dari kita yang masih bingung, selain mematikan kompor, bagaimana cara menghemat LPG yang tepat.Mengutip Antara, Technical Chef produsen tepung beras, Igun Gunawan memberikan tips praktis untuk menghemat penggunaan LPG atau bahan bakar gas dalam rumah tangga.Chef Gun, panggilan akrabnya, mengatakan bahwa ancaman krisis energi tidak selalu harus direspons dengan langkah besar. Peran masyarakat, seperti ibu-ibu rumah tangga bisa memulai dengan cara sederhana saat memasak di rumah."Banyak orang berpikir krisis energi itu urusan pemerintah atau industri besar. Padahal, dapur rumah tangga juga punya kontribusi besar. Cara kita memasak setiap hari itu menentukan,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, Minggu (29/3).Ilustrasi Ibu Memasak dengan Kompor Gas. Foto: buritora/ShutterstockLebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa kebiasaan masak masyarakat Indonesia cenderung belum efisien. Ia mencontohkan, pemborosan penggunaan gas salah satunya dengan menyalakan kompor saat bahan-bahan belum siap dimasak.“Tanpa sadar, kita sering buang gas hanya karena tidak siap. Kompor sudah menyala, tapi masih sibuk potong bahan. Ini terlihat sepele, tapi kalau terjadi setiap hari, dampaknya besar,” jelas juru masak yang juga sering membina usaha UMKM se-Jawa Barat itu.Chef Gun turut menekankan efisiensi tidak hanya soal waktu tetapi juga teknik, misalnya perlakuan awal terhadap bahan makanan.“Teknik sederhana seperti merendam bahan itu sebenarnya sudah lama dikenal, tapi sering diabaikan. Padahal ini cara paling mudah untuk mempercepat masak tanpa harus menambah waktu pemanasan,” tambahnya.Chef Gun menjelaskan bahwa merendam makanan sebelum memasaknya dapat mempercepat proses dan sekaligus mengurangi konsumsi gas.Kemudian, Chef Gun juga mengingatkan untuk memperhatikan kebersihan kompor. Ini karena, kompor yang kotor atau tidak terawat dapat menyebabkan pembakaran tidak sempurna.Terutama, lanjutnya, pada bagian tungku pembakaran atau burner, menjadi sumber bersarangnya kotoran akibat tumpahnya kuah masakan, bumbu, minyak atau air. Nah, jika dibiarkan, maka akan menghambat aliran gas dan membuat pengunaannya cenderung boros.Ilustrasi membersihkan kompor gas dengan spons dan sabun. Foto: Shutter StockChef Gun juga mengungkapkan bahwa ciri-ciri api yang bagus berwarna biru. “Api yang bagus itu biru. Kalau sudah kuning, berarti ada yang tidak beres. Itu tandanya gas tidak terbakar optimal, dan kita sebenarnya sedang membuang energi,” katanya.Terakhir, ia juga meluruskan anggapan seperti memasak dengan api besar akan lebih cepat. “Ini mindset yang harus diluruskan. Api besar justru sering membuat panas tidak merata dan terbuang. Api sedang itu lebih stabil, lebih efisien, dan hasil masakan juga lebih baik,” tegasnya.Chef Gun pun berharap dengan menerapkan kebiasaan memasak yang lebih baik di dapur, masyarakat dapat lebih berdampak pada penghematan energi global. Dampak yang dilakukan secara kolektif oleh jutaan rumah tangga Indonesia turut menjaga ketahanan energi kita.“Kalau kita bicara ketahanan energi, jangan selalu melihat ke hulu. Hilirnya, yaitu rumah tangga, juga harus diperkuat. Edukasi seperti ini harus terus digaungkan,” tuturnya.“Kita mungkin tidak bisa mengendalikan konflik dunia, tapi kita bisa mengendalikan cara kita menggunakan energi di rumah. Dari situ kontribusi besar bisa dimulai,” pungkas mantan chef di sejumlah perusahaan makanan itu.