Melihat Isu Penolakan Vaksin oleh Orang Tua dari Sisi Filsafat

Wait 5 sec.

Ilustrasi ibu menolak pemberian vaksin. Foto: Shutter StockAkhir-akhir ini, fenomena penolakan vaksin kembali ramai terjadi di Indonesia. Yang cukup mengkhawatirkan yaitu kembali maraknya jumlah orang tua yang memilih untuk tidak memberikan vaksin, terkhusus vaksin campak kepada anak mereka. Keputusan tersebut diambil orang tua dengan beberapa alasan, seperti kekhawatiran efek samping vaksin, adanya keyakinan bahwa sistem kekebalan tubuh anak seharusnya berkembang secara alami tanpa campur tangan medis atau adanya kepercayaan dengan mitos-mitos tertentu.Padahal, campak merupakan penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi. Namun kenyataannya, angka kasus campak justru kembali meningkat akhir-akhir ini. Data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan bahwa kasus campak di Indonesia melonjak hingga 10.744 kasus dalam enam bulan terakhir, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah kasus tertinggi kedua di dunia setelah Yaman. Kondisi ini menunjukkan bahwa keraguan terhadap vaksin terkhusus vaksin campak dapat berefek pada kesehatan masyarakat secara luas.Dalam banyak kasus, keputusan orang tua untuk menolak vaksin tidak muncul begitu saja. Informasi yang mereka terima dari lingkungan sekitar, media sosial ataupun kepercayaan terhadap mitos tertentu apabila melakukan vaksin seringkali turut memengaruhi cara mereka memahami efek dan manfaat vaksinasi. Sebagian orang tua merasa bahwa tidak memberikan vaksin adalah keputusan terbaik bagi anak mereka dengan menghindari sesuatu yang dianggap “tidak alami”.Ada juga penyebaran antivaksin ini melalui media sosial lewat berbagai akun-akun dengan embel-embel “gaya hidup holistik atau natural” yang kerap membuat konten yang mempertanyakan keamanan atau bahkan manfaat vaksin, beberapa juga mengaslight orang tua agar tidak melakukan vaksin kepada anaknya. Konten tersebut biasanya dikemas dengan bahasa yang persuasif dan narasi yang menekankan pada kejelekan vaksin (seperti bahan vaksin atau efek samping yang dapat muncul). Ada juga yang menyampaikan bahwa tubuh manusia sebenarnya sudah “sempurna secara alami” dan “semua berasal dari Tuhan sehingga apabila anak sakit merupakan ujian dari Tuhan atau takdir” sehingga tidak membutuhkan pertahanan medis seperti vaksin.Bagi sebagian orang tua, narasi semacam ini masuk akal dan meyakinkan. Terlebih lagi ketika pesan tersebut disampaikan oleh figur yang dianggap memiliki gaya hidup sehat atau terlihat jauh lebih ahli. Dalam beberapa konten, mereka bahkan mendorong orang tua untuk lebih mengandalkan “insting alami” mereka daripada rekomendasi medis. Namun jika ditinjau dari perspektif filsafat ilmu, banyak klaim yang beredar dalam narasi antivaksin sebenarnya mengandung berbagai kesalahan dalam cara berpikir.Dalam filsafat ilmu, terdapat epistemologi, yaitu kajian tentang bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dan bagaimana suatu pengetahuan dapat dianggap benar. Ilmu kedokteran tidak berasal dari pengalaman atau keyakinan pribadi, melainkan dari proses panjang yang melibatkan penelitian secara empiris, adanya pengujian laboratorium juga uji klinis pada populasi yang luas. Dengan kata lain, pengetahuan medis merupakan bentuk pengetahuan a posteriori, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui observasi dan eksperimen.Sebaliknya, banyak narasi anti-vaksin di media sosial justru menggantikan bukti ilmiah tersebut dengan pengalaman pribadi. Misalnya, seseorang mengeklaim bahwa anaknya tetap sehat meskipun tidak divaksin, lalu menyimpulkan bahwa vaksin sebenarnya tidak diperlukan. Cara berpikir seperti ini sering kali terasa meyakinkan karena didasarkan pada pengalaman nyata seseorang. Padahal pengalaman dari satu individu tidak dapat dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan tentang kondisi suatu populasi secara keseluruhan. Narasi anti-vaksin juga termasuk bagian logical fallacy atau sesat pikir. Logical fallacy merupakan kesalahan dalam penalaran yang membuat suatu argumen terdengar meyakinkan, tetapi sebenarnya tidak memiliki dasar logika yang kuat. Salah satu bentuk yang dapat muncul adalah appeal to nature fallacy. Dalam pola pikir ini, sesuatu dianggap baik hanya karena bersifat “alami”, sementara sesuatu yang dibuat melalui proses ilmiah dianggap berbahaya. Vaksin sering digambarkan sebagai zat kimia buatan manusia yang merusak tubuh, sementara sistem kekebalan alami dianggap selalu lebih baik. Padahal secara logika, sesuatu tidak otomatis aman hanya karena berasal dari alam. Contohnya ada tanaman yang beracun dan apabila mengonsumsinya diperlukan obat-obatan medis.Selain itu terdapat pula anecdotal fallacy, yaitu kesalahan berpikir yang menarik kesimpulan umum dari satu pengalaman pribadi. Contohnya adalah ketika seseorang menyatakan bahwa seorang anak mengalami gangguan kesehatan setelah divaksin, lalu menyimpulkan bahwa vaksin berbahaya bagi semua anak. Padahal tidak selalu semuanya sama seperti itu.Logical fallacy lain yang juga sering muncul adalah ad hominem, yaitu menyerang pihak yang menyampaikan argumen alih-alih membahas isi argumennya. Ada narasi yang menyatakan vaksin adalah hasil dari tenaga kesehatan atau dokter yang merupakan bagian dari industri kesehatan yang hanya mengejar keuntungan. Tuduhan semacam ini tidak menjawab pertanyaan ilmiah mengenai keamanan vaksin, tetapi justru mengalihkan perhatian dari bukti manfaat sebuah vaksin.Terdapat pula konsep penting yang disebut falsifikasi, yang diperkenalkan oleh Karl Popper. Menurut Popper, suatu teori ilmiah harus terbuka untuk diuji dan bahkan memiliki kemungkinan untuk terbukti salah. Jika sebuah teori tidak dapat diuji atau selalu mencari cara untuk membenarkan dirinya, maka teori tersebut tidak dapat dianggap sebagai ilmu pengetahuan.Ilmu kedokteran bekerja dengan prinsip ini. Sebelum digunakan secara luas, vaksin tentu melalui berbagai tahap pengujian untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya. Contohnya, data dari Centers for Disease Control and Prevention menunjukkan bahwa dua dosis vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella) mampu memberikan perlindungan sekitar 97% terhadap penyakit campak, sementara satu dosis saja sudah memberikan perlindungan sekitar 93% terhadap infeksi. Jika suatu vaksin menunjukkan risiko yang lebih besar daripada manfaatnya, maka vaksin tersebut tidak akan disetujui untuk digunakan. Sebaliknya, banyak klaim dari para anti-vaksin justru sulit untuk diuji secara ilmiah. Ketika suatu keyakinan selalu mencari alasan untuk tetap benar meskipun bertentangan dengan bukti, maka keyakinan tersebut menjadi kebal terhadap kritik.Selain persoalan pengetahuan dan logika, vaksinasi juga berkaitan dengan dimensi etis yang dibahas dalam aksiologi, yaitu cabang filsafat yang mempelajari nilai dan dampak suatu pengetahuan bagi masyarakat. Dalam konteks ini, keputusan untuk menolak vaksin tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada orang lain di sekitarnya. Vaksinasi tidak hanya melindungi orang yang menerima vaksin, tetapi juga membantu menciptakan kekebalan kelompok atau herd immunity. Ketika sebagian besar masyarakat divaksin, penyebaran penyakit dapat ditekan sehingga kelompok rentan seperti bayi, lansia atau orang dengan kondisi kesehatan tertentu ikut terlindungi. Sebaliknya, ketika semakin banyak orang menolak vaksin, perlindungan bersama tersebut melemah. Penyakit yang sebelumnya dapat dikendalikan kembali muncul dan menyebar di masyarakat. Fenomena meningkatnya penolakan vaksin di era media sosial menunjukkan bahwa masyarakat masih sangat rentan terhadap informasi yang terdengar meyakinkan tetapi tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Tanpa kemampuan berpikir kritis dan pemahaman tentang cara kerja ilmu pengetahuan, orang mudah terpengaruh oleh narasi yang tampak logis tetapi sebenarnya keliru.Pada akhirnya, perdebatan tentang vaksin bukan hanya persoalan medis, tetapi juga persoalan cara manusia memahami pengetahuan. Filsafat ilmu mengajarkan bahwa kebenaran tidak dibangun dari pengalaman pribadi atau keyakinan semata, melainkan dari proses pengujian ilmiah yang terbuka terhadap kritik. Oleh karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri untuk bersikap kritis terhadap informasi kesehatan di media sosial serta mengutamakan sumber ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan sebelum mengambil keputusan penting, terutama yang berkaitan dengan kesehatan anak.