Purbaya Tambah Rp 100 T ke Bank, Dana Pemerintah di BI Tembus Rp 400 T

Wait 5 sec.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan saat mengikuti rapat koordinasi pemulihan pascabencana di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (18/2/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTOPemerintah menambah penempatan dana ke sektor perbankan sebesar Rp 100 triliun menjelang Lebaran. Langkah ini dilakukan untuk menjaga likuiditas sistem keuangan di tengah kenaikan imbal hasil obligasi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, tambahan likuiditas tersebut merupakan bagian dari strategi aktif pemerintah dalam memantau pergerakan pasar. Khususnya ketika terjadi tekanan pada yield.“Seminggu sebelum Lebaran, saya tambah lagi Rp 100 triliun masukin ke sistem perekonomian. Kita maintain likuiditas di sistem keuangan kita dengan serius,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (25/3).Ia menjelaskan, keputusan tersebut diambil setelah melihat indikasi kenaikan imbal hasil yang berpotensi menandakan kekeringan likuiditas di perbankan. Menurutnya, kondisi itu harus segera direspons agar tidak berdampak pada kenaikan suku bunga yang lebih luas.Sebelumnya, pemerintah juga telah menempatkan dana sebesar Rp 200 triliun ke sistem perbankan. Dengan tambahan terbaru, total intervensi likuiditas yang digelontorkan mencapai Rp 300 triliun.Dalam proses pengambilan keputusan, Purbaya juga mengungkapkan bahwa posisi dana pemerintah yang tersimpan di Bank Indonesia sempat berada di atas Rp 400 triliun. “Rp 400 lebih, masukin Rp 100 triliun ke perbankan,” ucapnya.Terkait penyaluran dana, pemerintah untuk sementara memprioritaskan bank-bank yang berada dalam kendali, seperti bank daerah. Ia mencontohkan salah satu bank yang menerima penempatan dana tersebut.“Itu saya lupa bagiannya, tapi Bank DKI (Jakarta) aja dapat Rp 2 triliun kalo nggak salah,” ujarnya.Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTOSementara itu, bank swasta belum menjadi prioritas dalam tahap awal kebijakan ini. Pemerintah masih berhati-hati untuk memastikan penempatan dana tetap aman dan terkontrol.Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penempatan dana ini bersifat fleksibel dan dapat ditarik sewaktu-waktu, berbeda dengan skema sebelumnya yang memiliki tenor hingga enam bulan. Kebijakan ini dirancang layaknya strategi treasury untuk menjaga stabilitas likuiditas sepanjang tahun.Purbaya menambahkan, dana yang ditempatkan di perbankan berpotensi digunakan untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN), yang pada akhirnya bisa membantu menekan yield kembali turun.“Pasti bank kan nyariin yang paling gampang. BI bisa beli bond loh. Kalau beli bond akan neken yield ke bawah lagi. Kira-kira itu,” jelasnya.Meski nilainya besar, ia menilai tambahan Rp 100 triliun belum cukup signifikan untuk menggerakkan pasar secara drastis, namun setidaknya bisa meredam lonjakan yield agar tidak melonjak tajam.“Tapi tentunya Rp 100 triliun nggak seberapa ya. Paling nggak membuat yield naik gila-gilaan atau bunga naik kenceng ke atas,” tuturnya.