Takut Trump atau Allah? Dilema Solidaritas Arab di Tengah Perang

Wait 5 sec.

Ilustrasi Peta Timur Tengah. Foto: PixabaySebagai mahasiswa manajemen, saya terbiasa melihat dunia melalui lensa cost-benefit analysis. Prinsipnya jelas: setiap langkah strategis harus punya Return on Investment (ROI) yang terukur. Namun, melihat dinamika Timur Tengah saat ini, saya merasa ada yang "salah urus" dalam kebijakan negara-negara Arab. Ada pergeseran orientasi yang sangat tajam: dari mencari Ridha Allah menjadi sekadar menjaga Credit Rating di mata Amerika Serikat.Pertanyaan besarnya: Mengapa negara-negara Arab terlihat lebih gemetar menghadapi gertakan Donald Trump daripada peringatan Allah? Jawaban pahitnya adalah karena mereka terjebak dalam Short-Termism—penyakit manajer yang hanya mengejar profit jangka pendek dan mengabaikan nilai fundamental "perusahaan" umat Islam.Berhala Modern Bernama "Stabilitas Ekonomi"Dalam kelas Manajemen Strategis, kita tahu bahwa stabilitas adalah prasyarat pertumbuhan. Negara-negara Arab Teluk, melalui proyek seperti Saudi Vision 2030, sedang mencoba melakukan diversifikasi agar tidak tergantung pada minyak. Namun, mereka melakukan kesalahan fatal dalam pemilihan Strategic Partner.Mereka menjadikan AS sebagai Ultimate Stakeholder. Ketakutan terhadap Trump bukan sekadar takut pada pribadinya, tapi takut pada "disrupsi ekonomi" yang bisa ia ciptakan lewat sanksi. Bagi mereka, kehilangan akses ke pasar global adalah kiamat kecil. Mereka seolah lebih percaya bahwa Trump adalah pemberi rezeki (Ar-Razzaq) yang bisa menutup keran kemakmuran, sementara janji Allah tentang pertolongan bagi orang yang membela saudaranya dianggap sebagai variabel yang tidak bisa dihitung di atas kertas.Sunni-Syiah: Terjebak dalam "Market Segmentation" yang Memecah BelahSalah satu pembenaran yang sering kita dengar adalah perbedaan mazhab. Iran yang Syiah dianggap "bukan bagian dari kita" oleh blok Sunni. Sebagai mahasiswa manajemen, saya melihat ini sebagai strategi Market Segmentation yang salah kaprah.Secara teologis, Allah SWT sudah menegaskan dalam Al-Qur'an:"Sesungguhnya ini (agama tauhid) adalah agamamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu. Maka, sembahlah Aku." (QS. Al-Anbya: 92).Di mata Allah, syahadatnya sama, kiblatnya sama. Namun, para pemimpin Arab justru menggunakan perbedaan mazhab ini sebagai cara untuk melakukan Brand Differentiation. Mereka sengaja menciptakan sekat agar Iran tetap terlihat sebagai "kompetitor" atau liability (beban), bukan sebagai partner.Padahal, jika kita bicara soal Synergy, penggabungan kekuatan Sunni dan Syiah akan menciptakan kekuatan pasar yang tidak tertandingi. Namun, mereka lebih memilih "perang branding" ini agar tetap bisa mendapat dukungan (dan perlindungan) dari Barat dengan alasan membendung pengaruh Syiah. Ini adalah kegagalan manajemen Ukhuwah yang sangat fatal.Donald Trump dan Diplomasi "The Art of the Deal"Donald Trump membawa gaya manajemen transaksional ke panggung politik. Dia tidak bicara soal etika; dia bicara soal "What’s in it for me?". Lewat Abraham Accords, Trump berhasil melakukan rebranding posisi Israel. Israel yang dulu dianggap lawan, kini diubah menjadi mitra bisnis potensial.Data dari Abraham Accords Peace Institute menunjukkan perdagangan Israel-UEA menembus $2,5 miliar pada 2022. Bagi manajer yang pragmatis, ini adalah KPI (Key Performance Indicator) yang sukses. Tapi bagi kita yang belajar etika bisnis, ini adalah pengkhianatan terhadap visi besar persatuan. Mereka lebih memilih mengamankan angka di neraca pembayaran daripada menjalankan perintah Allah untuk membela sesama muslim yang tertindas.Kenapa mereka tidak bisa lepas? Jawabannya ada pada laporan SIPRI. Negara-negara Arab telah mengeluarkan biaya yang sangat besar (Sunk Cost) untuk membeli sistem pertahanan AS.Secara logika bisnis, mereka mengalami Vendor Lock-in. Jika mereka melawan AS, seluruh sistem pertahanan mereka akan "mati total" karena tidak ada dukungan teknis. Mereka begitu tergantung pada proteksi manusia (Trump/AS) sehingga mereka lupa bahwa pelindung sejati adalah Tuhan. Mereka lebih takut kehilangan Supply Chain senjata daripada kehilangan keberkahan dalam berukhuwah.Audit Akhirat di Tengah Transaksi DuniaJujur saja, perilaku banyak negara Arab saat ini mencerminkan mentalitas "manajer profesional" yang kehilangan jiwa spiritualnya. Mereka sangat ahli menghitung Internal Rate of Return (IRR), tapi sangat buruk dalam menghitung risiko teologis.Ketakutan mereka terhadap Trump dan sanksi ekonomi telah membutakan mata hati mereka terhadap kewajiban membela sesama muslim, tanpa memandang Sunni atau Syiah. Selama mereka masih menganggap kekuasaan ekonomi Amerika adalah "Tuhan" yang nyata, maka selama itu pula mereka akan gemetar setiap kali Washington berbicara.Padahal, jika mereka berani melakukan Merger & Acquisition kekuatan seluruh dunia Islam, mereka akan memiliki bargaining power untuk mendikte dunia, bukan justru didikte oleh ketakutan akan sanksi manusia. Sebagai mahasiswa manajemen, saya belajar bahwa risiko paling bodoh adalah mengabaikan perintah "Pemilik Perusahaan Terbesar" (Allah SWT) hanya demi menyenangkan pemegang saham sementara (Trump).