Hegemoni Trump: Konflik AS-Iran, NATO Melemah, dan Dunia di Ambang Krisis Global

Wait 5 sec.

Presiden Donald Trump. Foto: Library of Congress/UnsplashSebagaimana yang saya baca pada The New York Times dalam artikel berjudul “It’s Trump World. We Just Live in It” karya Frank Bruni dan Bret Stephens (19 Maret 2026), dunia digambarkan seolah bergerak dalam orbit satu figur: Donald Trump. Salah satu kutipan yang menonjol adalah bagaimana Trump “terkejut” atas penutupan Selat Hormuz dan ketidaksediaan sekutu Eropa untuk ikut perang—sebuah ironi dari kepemimpinan yang sebelumnya kerap meremehkan sekutunya sendiri. Di sisi lain, terdapat nada pembelaan bahwa perang justru “berjalan cukup baik,” menunjukkan adanya dualitas persepsi, bahkan dalam satu ruang opini.Narasi ini tidak sekadar menggambarkan konflik militer, tetapi juga lebih dalam lagi memperlihatkan bagaimana satu figur politik mampu membentuk arah, ritme, bahkan persepsi global. Dunia tidak hanya bereaksi terhadap kebijakan Trump, tetapi juga terhadap gaya kepemimpinannya yang impulsif, transaksional, dan penuh kejutan. Dalam konteks ini, ungkapan “ini adalah dunia milik Trump” menjadi lebih dari sekadar metafora—ia menjelma sebagai realitas geopolitik.Hegemoni Personal dalam Politik GlobalFenomena ini mengingatkan pada konsep Leviathan dari Thomas Hobbes, di mana kekuasaan terpusat menciptakan keteraturan melalui dominasi. Namun, jika Leviathan Hobbes bersifat institusional, Trump menghadirkan versi personalistik: kekuasaan yang tidak hanya dijalankan melalui negara, tetapi juga melalui persona. Keputusan geopolitik menjadi sangat bergantung pada preferensi individu, bukan semata kalkulasi institusional.Selat Hormuz, Iran di antara peta Timur Tengah. Foto: mana5280/UnsplashPenutupan Selat Hormuz oleh Iran, misalnya, bukan sekadar respons militer, melainkan juga respons terhadap pola tekanan yang tidak konsisten. Ketika ancaman dan negosiasi berjalan bersamaan dalam gaya Trump, aktor lain dipaksa masuk dalam permainan reaktif. Dunia tidak lagi bergerak berdasarkan konsensus, tetapi berdasarkan reaksi berantai terhadap impuls kekuasaan.Bias Media Barat dan Produksi RealitasMenariknya, artikel tersebut juga mencerminkan bias laten media Barat. Dalam dialog antara Bruni dan Stephens, terlihat bagaimana kritik terhadap Trump sering dibingkai sebagai pesimisme berlebihan, bahkan dituduh sebagai keinginan agar Amerika gagal. Ini menunjukkan kecenderungan defensif terhadap proyek kekuasaan Barat, terutama ketika berhadapan dengan musuh seperti Iran.Media tidak hanya melaporkan realitas, tetapi juga memproduksinya. Ketika operasi militer disebut “berjalan cukup baik,” publik diarahkan untuk melihat perang sebagai sesuatu yang terkendali dan rasional, padahal dampaknya sangat destruktif. Di sinilah bias bekerja: penderitaan di Timur Tengah menjadi latar belakang, sementara narasi utama tetap berpusat pada kepentingan strategis Barat.Dalam kerangka ini, Iran sering diposisikan sebagai ancaman inheren, bukan sebagai aktor rasional yang merespons tekanan. Padahal, penutupan Selat Hormuz adalah langkah strategis yang logis dalam menghadapi tekanan eksistensial. Namun, narasi media cenderung menghapus konteks tersebut, menggantinya dengan framing konfrontatif.NATO, Dunia Islam, dan Retakan AliansiBendera NATO. Foto: Jannik/UnsplashImplikasi dari “dunia Trump” sangat terasa pada struktur aliansi global, khususnya NATO. Ketika Trump secara konsisten meremehkan sekutu Eropa, solidaritas aliansi melemah. Keengganan Eropa untuk terlibat dalam konflik Iran bukan sekadar soal strategi, melainkan juga soal kepercayaan yang terkikis.Dalam perspektif geopolitik, ini membuka ruang fragmentasi. NATO bukan lagi menjadi blok solid, melainkan kumpulan negara dengan kepentingan yang semakin divergen. Ketika kepemimpinan Amerika tidak lagi mampu mengonsolidasikan aliansi, dunia bergerak menuju multipolaritas yang lebih rapuh.Bagi dunia Islam, situasi ini menghadirkan paradoks. Di satu sisi, tekanan terhadap Iran memperkuat solidaritas simbolik antar-negara Muslim. Di sisi lain, perpecahan internal tetap menjadi penghambat utama. Dunia Islam belum mampu keluar dari posisi reaktif, masih terjebak dalam orbit kekuatan besar.Iran, dalam konteks ini, tampil sebagai simbol resistensi, tetapi juga sebagai titik rawan eskalasi. Ketika konflik terus dipelihara dalam logika dominasi, ruang diplomasi menyempit. Dunia Islam menjadi medan, bukan aktor utama.Dalam lanskap seperti ini, ungkapan bahwa dunia adalah milik Trump bukan sekadar kritik, melainkan juga diagnosis atas krisis kepemimpinan global. Ketika satu figur mendominasi arah dunia, stabilitas menjadi rapuh, dan masa depan bergantung pada dinamika personal, bukan pada tatanan yang adil dan berimbang.