Setelah Tertib, Apa Lagi? Refleksi Guru di Tengah Tuntutan Zaman Sekarang

Wait 5 sec.

Menjadi guru di zaman sekarang bukan lagi sekadar soal mengajar di depan kelas. Dulu, mungkin cukup dengan memastikan siswa duduk rapi, mendengarkan, dan mencatat. Tertib sudah dianggap sebagai indikator keberhasilan. Tapi hari ini, saya mulai bertanya: setelah tertib, apa lagi?Dok. Pribadi Pembelajaran didalam kelas (2026)Sebagai seorang guru di SMK, khususnya di bidang perhotelan, saya merasakan langsung bagaimana dunia pendidikan terus bergerak mengikuti perkembangan industri. Siswa tidak hanya dituntut untuk disiplin, tetapi juga harus kreatif, adaptif, dan siap menghadapi dunia kerja yang nyata—yang sering kali jauh lebih kompleks daripada yang ada di buku pelajaran.Di kelas, saya pernah merasa bangga ketika semua siswa duduk diam dan mengikuti instruksi dengan baik. Tidak ribut, tidak membantah. Namun, di sisi lain, saya mulai menyadari sesuatu yang kurang: mereka terlalu diam. Tidak ada pertanyaan, tidak ada rasa ingin tahu, bahkan tidak ada keberanian untuk mencoba hal baru.Di titik itulah saya mulai berpikir, mungkin “tertib” saja tidak cukup.Mengevaluasi serta Merefleksikan kegiatan/praktek yang sudah dilakukan oleh siswa . (Dokumentasi Pribadi)Dunia industri perhotelan yang saya kenal justru menuntut hal yang berbeda. Seorang front office harus berani berbicara, seorang housekeeping harus sigap dan inisiatif, dan seorang waiter harus mampu membaca situasi tanpa harus selalu diperintah. Semua itu tidak lahir dari sekadar duduk diam di kelas.Saya pun mulai mengubah pendekatan. Kelas tidak lagi hanya tentang mendengarkan, tetapi juga tentang mencoba. Tidak lagi hanya tentang aturan, tetapi juga tentang pengalaman. Saya mengajak siswa untuk simulasi pelayanan tamu, membuat skenario masalah, bahkan belajar dari kesalahan mereka sendiri.Hasilnya? Tidak selalu langsung sempurna. Kelas menjadi lebih ramai, kadang terasa tidak “setertib” dulu. Tapi di balik itu, saya melihat sesuatu yang jauh lebih berharga: mereka mulai berani. Berani salah, berani mencoba, dan berani berkembang.Praktik siswa perhotelan "Housekeeping" (Dok. Pribadi)Sebagai guru, saya belajar bahwa tugas kita bukan hanya menciptakan ketertiban, tetapi juga membangun keberanian. Bukan hanya mendisiplinkan, tetapi juga memanusiakan proses belajar itu sendiri.Karena pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang "patuh", tetapi juga mereka yang mampu berpikir, beradaptasi, dan bertindak.Jadi, setelah tertib… mari kita ajarkan mereka untuk hidup.