Bilal Bin Saqib. Foto: Instagram/@bilalbinsaqibPakistan mengambil langkah tak biasa di tengah tekanan krisis energi dan ekonomi dengan mengandalkan seorang pengembang kripto berusia 35 tahun untuk mendekati lingkaran Donald Trump bernama Bilal Bin Saqib. Strategi ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Islamabad memposisikan diri sebagai mediator antara Amerika Serikat dan Iran.Langkah tersebut terlihat dalam pertemuan di Islamabad awal tahun ini, saat jajaran elite Pakistan menyambut Zachary Witkoff, seorang CEO World Liberty Financial, sebuah perusahaan kripto yang didukung keluarga Trump. Dalam pertemuan itu, Witkoff yang baru berusia 32 tahun itu tampak didampingi Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Kepala Angkatan Darat Asim Munir.Di antara para pejabat tinggi tersebut, hadir sosok kunci di balik pendekatan baru Pakistan: Bilal Bin Saqib. Ia adalah tokoh kripto muda yang dalam setahun terakhir naik cepat menjadi salah satu figur berpengaruh di pemerintahan. Berdasarkan akun LinkedIn-nya, Saqib menjabat CEO Pakistan Crypto Council serta penasihat pemerintah, dan kini memimpin Pakistan Virtual Assets Regulatory Authority (PVARA). Sejak ditunjuk sebagai penasihat khusus pada 2025, kariernya melesat di pemerintahan.Dalam acara itu, Saqib menyebut kunjungan Witkoff sebagai momentum penting yang membantu menempatkan Pakistan di peta dunia. Pendekatan ini disebut sebagai bentuk “diplomasi kripto” atau “biplomacy”. Melalui jalur tersebut, Pakistan berhasil mempererat hubungan dengan lingkaran Trump, sekaligus memperkuat posisinya dalam dinamika geopolitik global.Peran ini menjadi krusial karena Pakistan berkepentingan meredakan ketegangan antara AS dan Iran. Konflik di kawasan berisiko mengganggu jalur perdagangan energi, terutama di Selat Hormuz, jalur vital yang sangat memengaruhi pasokan energi global. Pakistan sendiri menghadapi ancaman kekurangan energi seiring pembatasan pelayaran di kawasan tersebut.Ilustrasi World Liberty Financial. Foto: PJ McDonnell/ShutterstockMenurut analis kebijakan luar negeri yang fokus pada Asia Selatan, Michael Kugelman, dengan pentingnya hubungan personal dalam proses kebijakan di Gedung Putih era Trump, Pakistan mungkin telah mendapatkan pengaruh tertentu. "Dan dalam pemerintahan yang tidak konvensional, faktor tidak biasa seperti kripto bisa membantu kepentingan suatu negara," katanya dikutip dari Bloomberg, Selasa (31/3). Saqib sendiri bukan figur lama di dunia kripto maupun pemerintahan. Ia menyebut dirinya bukan trader, melainkan pengembang kripto atau dikenal dengan sebutan crypto bro. “Saya bukan trader kripto. Saya builder lebih seperti seniman, bukan ilmuwan,” kata Saqib.Dalam waktu singkat, ia menjalin koneksi dengan tokoh-tokoh besar industri kripto seperti Changpeng Zhao, serta berinteraksi dengan investor global dan pemimpin dunia. Ia juga sempat menjadi penasihat World Liberty Financial sebelum masuk ke pemerintahan. Hubungan dengan perusahaan kripto milik keluarga Trump itu membuka banyak pintu bagi Pakistan. “Karena kripto, banyak pintu terbuka. Percakapan baru dimulai, kepercayaan terbangun. Kami mendapat kesempatan untuk melakukan rebranding,” kata Saqib.Bilal Bin Saqib . Foto: Instagram/@bilalbinsaqibBagi Pakistan, langkah ini menandai perubahan besar. Setelah bertahun-tahun berada di bawah tekanan ekonomi, dengan inflasi tinggi, utang besar, dan cadangan devisa menipis, negara tersebut kini mencoba memanfaatkan kripto sebagai alat diplomasi sekaligus strategi ekonomi.Pemerintah bahkan mulai membangun kerangka regulasi aset digital, membentuk otoritas khusus, hingga membuka peluang bagi perusahaan kripto global untuk masuk. Pakistan juga menyiapkan cadangan kripto nasional dan mengalokasikan sebagian pasokan listrik untuk aktivitas penambangan.Meski demikian, tantangan tetap besar. Pakistan masih harus menghadapi kewajiban kepada Dana Moneter Internasional (IMF), yang cenderung berhati-hati terhadap eksperimen kripto oleh negara. Selain itu, dinamika politik global yang tidak pasti juga bisa memengaruhi arah hubungan Pakistan dengan AS.Namun di tengah ketidakpastian tersebut, Saqib melihat peluang. “Banyak faktor kebetulan dan momentum yang tepat. Semua seolah berjalan selaras,” ujarnya.