Pemerintah Bakal Terus Koordinasi demi Kelancaran Kapal RI di Selat Hormuz

Wait 5 sec.

Ilustrasi Selat Hormuz dan Teluk Persia. Foto: lavizzara/ShutterstockPemerintah terus berkoordinasi lintas kementerian dan lembaga guna memastikan kelancaran perlintasan kapal Indonesia di kawasan Teluk Persia, khususnya saat melintasi Selat Hormuz, di tengah situasi Perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang masih memanas.Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, mengatakan pihaknya aktif berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri serta instansi terkait untuk mendukung kelancaran proses tersebut sekaligus menjaga ketahanan pasokan energi nasional.“Kementerian ESDM terus berkomunikasi dan berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Luar Negeri untuk memastikan proses pelintasan kapal Indonesia di Selat Hormuz dapat berjalan aman dan lancar. Dalam proses tersebut, tidak hanya soal muatan, tapi keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama pemerintah,” ujar Anggia melalui keterangan tertulis, dikutip Minggu (29/3).Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, pun menyatakan Kementerian Luar Negeri bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran telah sejak awal melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak di Iran untuk menjamin keamanan kapal dan awak kapal Indonesia.“Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran. Saat ini, hal tersebut tengah ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait pada aspek teknis dan operasional,” ucap Nabyl.Kemudian dari sisi operator, PT Pertamina (Persero) turut menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah dalam menangani situasi ini. Peresmian Tanker Raksasa Pertamina Pride. Foto: PertaminaMelalui Pertamina International Shipping (PIS), perseroan saat ini tengah menyiapkan aspek teknis dan administratif agar dua kapal, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, dapat segera melintasi Selat Hormuz dengan aman.“Prioritas kami tetap pada keselamatan seluruh awak kapal, serta keamanan kapal dan muatannya. Kami memohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia agar proses ini dapat berjalan dengan baik,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron.Untuk menjaga ketahanan energi domestik, pemerintah juga menyiapkan langkah diversifikasi pasokan dengan membuka opsi impor minyak mentah dan BBM dari kawasan di luar Timur Tengah. Kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, untuk memperluas sumber impor guna memastikan keberlanjutan pasokan dalam negeri.Adapun Pertamina tercatat mengimpor 135,33 juta barel minyak mentah, dengan sekitar 19 persen atau 25,36 juta barel sepanjang 2025, di antaranya berasal dari Arab Saudi. Sementara itu, sisanya dipasok dari berbagai kawasan seperti Afrika, Amerika Latin, AS, Malaysia, serta negara lainnya. Indonesia juga memiliki kerja sama jangka panjang dengan Singapura dan Malaysia untuk pasokan produk BBM.