Suasana Belajar bersama anak anak SD di Tolikara Papua (Foto dokumen pribadi)Sebuah kisah dari negeri yang hampir tidak tersentuh oleh “kemajuan zaman” jauh ke dalam hutan yang dikelilingi oleh pohon-pohon pinus dan dibelah oleh aliran sungai yang jernih dengan gemericik air yang melekuk-lekuk di selah-selah batu besar membentuk sebuah komposisi merdu dan menenangkan jiwa.Mereka mengaku sebagai kelompok “haves not” yang tidak percaya lagi dengan orang-orang di luar sana—kelompok “haves” yang mengaku menguasai “kemajuan zaman” dengan cara-cara pedang yang menendang rakyat tercabut dari akarnya. Mereka muak dengan kemunafikan dalam istana dan lingkarannya.Tak ada yang bisa dijadikan hiburan selain alam yang telah melahirkan mereka. Alam memberi mereka kekuatan dan ketulusan dalam menjalani hidup yang tertindas oleh kelaliman. Setiap kekurangan dan kesusahan ditanggung bersama karena gotong royong adalah semangat yang tetap menyala dalam komunitas mereka.Kemiskinan adalah kekayaan mereka sehingga mereka lupa dengan kenyamanan yang dimiliki kelompok “haves” yang sepertinya tidak pernah puas dengan kelimpahan mereka. Sekadar mencari katak di rawa-rawa saja sudah menjadi sebuah kemewahan bagi anak-anak “haves not”. Mereka menemukan sendiri permainan masa kecil dari aktivitas sehari-hari.Suatu ketika mereka melihat penampakan berbeda di tempat pembuangan akhir dekat perbatasan dengan kota. Tumpukan kardus itu terlihat “mewah” bagi mereka karena biasanya tempat itu hanya berserakkan sampah dapur kaum “haves not” . Sampah tidak menarikbagi mereka karena mereka sendiri dianggap sebagai sampah.Kali ini mereka penasaran dengan apa isi dari kardus-kardus mewah tersebut karena untuk kardus bagus seperti itu saja tidak pernah mereka melihatnya di rumah. Mereka berlari menuju kardus-kardus itu. Mereka takjub melihat isinya yang ternyata adalah buku-buku bekas anak-anak kaum “haves”.Mereka begitu gembira membawa buku-buku itu sambil menyanyikan nyanyian-nyanyian sorak sorai ibarat prajurit yang baru pulang dari medan perang sambil membawa jarahan perang. Bagi mereka buku bacaan adalah permainan baru sekaligus mewah yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.Di saat anak-anak kaum “haves” menganggap kemewahan mereka adalah gawai dan internet, maka anak-anak pinggiran menganggap buku sebagai sebuah kemewahan. Jika kemewahan itu telah menghampiri mereka maka anak-anak alam itu akan kelihatan lebih bahagia daripada anak kaum “haves” yang mengaku sebagai anak kemajuan zaman.Anak-anak alam telah membuktikan benarnya kata-kata Samuel Johnson, seorang sastrawan Inggris (1709-1784), “menjauhi alam berarti menjauhi kebahagiaan”—dan buku adalah pelengkap kebahagiaan mereka. Jika buku telah berkonspirasi dengan alam maka bahagialah hidup manusia itu.