Ilustrasi kapan nikah?. Foto: Adi Prabowo/kumparanPada perayaan-perayaan penting di keluarga besar atau masyarakat, interaksi sosial menjadi hal yang tidak terhindari dan sering kali bermuara pada pertanyaan-pertanyaan yang personal dan membingungkan. Pada para lajang, pertanyaan yang paling sering dan cukup masif ditujukan adalah "Kapan nikah?". Pertanyaan ini kadang menjadi kalimat pembuka interaksi yang bersifat formalitas atau pelengkap, sering kali disebabkan oleh kebiasaan sosial.Tulisan ini tidak akan bertujuan untuk menyajikan jawaban strategis karena pertanyaan tersebut tidak mempunyai jawaban pasti, alias menyasar masa depan yang tidak bisa ditebak kecuali kita punya indra keenam. Tentunya, ini berbeda dengan pertanyaan terkait masa lampau yang sudah ada jawabannya seperti "Kapan pertama kali Cornelis de Houtman mendarat di Indonesia?" atau "Kapan AS membombardir Hiroshima dan Nagasaki?". Dengan mengesampikan jawaban-jawaban prediktif, tulisan ini akan menganalisis bagaimana pertanyaan "Kapan nikah?" bisa tercipta.Secara personal, saya berasumsi bahwa pertanyaan "Kapan nikah?" berakar dari rasa penasaran seseorang akan nasib baik atau buruk yang akan kita alami dalam ikatan pernikahan. Mungkin saja ia penasaran tentang kebahagiaan atau kesengsaraan hasil pernikahan macam apa yang akan kita hadapi. Kebahagiaan yang dimaksud bisa berupa perasaan memiliki pasangan suportif dan romantis, partner di kala susah dan senang, atau rumah tangga yang hangat dan cemara. Sementara itu, kesengesaraannya bisa berupa musibah mendapat pasangan yang kasar dan curang, partner bertengkar, atau keluarga yang retak dan penuh gejolak. Lalu, kenapa rasa penasaran ini muncul dan kemudian dilontarkan sebagai pertanyaan?Bisa jadi, untuk memberikan ketenangan kepada si penanya. Ketenangan ini bisa berupa ketenangan karena menambah kawan senasib (sama-sama bahagia atau sama-sama susah), atau memperoleh validasi emosional. Validasi emosional ini contohnya seperti merasa beruntung karena memiliki pasangan yang pengertian ketika mengetahui orang lain mendapat pasangan yang cuek, atau merasa tidak beruntung karena sebaliknya.Mereka yang berharap memperoleh ketenangan dengan menambah kawan senasib dalam konteks yang bahagia misalnya adalah orang tua dan sebagian orang baik. Mereka ingin kita memperoleh kebahagiaan dari pernikahan, baik yang sudah mereka rasakan maupun yang belum. Sedangkan mereka yang berperasaan buruk, menanti kapan kita juga merasakan kesengsaraan yang mereka alami. Sebab, saat seseorang merasa tidak bahagia atas pernikahan yang dijalaninya, ia akan mengingatkan orang lain untuk tidak terlalu terburu-buru menikah dan lebih bijak dalam mengambil keputusan. Dalam hal ini, informasi yang mereka bagi bukan hanya enak-enaknya saja, tetapi juga tidak enaknya alias berimbang.Karena terlalu sering menjadi bagian dari percakapan sosial, pertanyaan "Kapan nikah?" bergeser dari sekadar pertanyaan menjadi tanggung jawab sosial. Kadang, ada saja yang tidak bisa melihat seorang lajang terlalu lama hingga beragam upaya dikerahkan seperti menghubungi kenalan, mencarikan jodoh, dan memfasilitasi percomblangan. Sayangnya, tidak semua orang teliti akan bibit, bebet dan bobot-nya. Sebagian dari mereka hanya sekadar mencari berdasarkan kelaminnya saja. Asal ada laki-laki atau perempuan lajang yang menganggur, mereka jadikan ini sebagai kandidat potensial. "Saya ada tetangga laki-laki lajang belum menikah, saya kenalin ya", atau "Teman perempuanku ada yang masih lajang, mau nomornya?" tanpa mempertimbangkan apakah calon potensial ini seorang baik atau psikopat.Karenanya, di tengah praktik yang membudaya di masyarakat kita ini, para lajang tidak harus merasa dituntut untuk segera berpasangan. Apalagi sampai asal memilih karena tekanan sosial. Tugas para lajang adalah berfokus untuk memantaskan diri dari berbagai aspek, seperti mental, finansial, spiritual dan intelektual. Pada akhirnya, pertanyaan "Kapan nikah?" cukuplah dianggap sebagai bagian dari pergaulan sosial yang barangkali akan berubah seiring dengan perkembangan zaman, bukan tuntutan yang memberatkan.