Saya Pernah Lelah Menjadi Guru, tapi Justru di Situ Saya Belajar Bertahan

Wait 5 sec.

Sosok seorang Guru yang sedang membentuk versi diri yang lebih kuat.Suatu waktu, saya diberi tanggung jawab tambahan. Bukan tugas kecil—justru sesuatu yang menyita waktu, tenaga, bahkan pikiran. Saya tetap harus mengajar seperti biasa, tetapi di saat yang sama, ada beban lain yang harus diselesaikan dengan standar tinggi.Awalnya, saya berpikir: ini kesempatan untuk berkembang.Saya kerjakan semuanya sebaik mungkin. Pulang lebih lama, memikirkan pekerjaan bahkan di rumah, mengorbankan waktu istirahat. Saya ingin membuktikan bahwa saya mampu.Namun, seiring waktu, ada satu hal yang mulai terasa: lelah yang tidak hanya fisik, tetapi juga batin.Bukan karena pekerjaannya semata, tetapi karena usaha yang diberikan terasa seperti… biasa saja di mata orang lain. Tidak ada apresiasi, tidak ada pengakuan, bahkan kadang dianggap sebagai hal yang “memang sudah seharusnya”.Di titik itu, saya sempat bertanya dalam hati:“Apakah semua ini benar-benar berarti?”Jujur, saya pernah merasa ingin berhenti berusaha lebih. Ingin melakukan secukupnya saja. Karena ternyata, memberi lebih tidak selalu berbanding lurus dengan dihargai lebih.Tapi di tengah rasa itu, saya mulai menyadari sesuatu.Ternyata, tidak semua hal yang kita lakukan harus selalu dilihat orang lain untuk menjadi berarti.Tugas tambahan itu memang berat. Kadang terasa tidak adil. Tapi tanpa saya sadari, proses itu membentuk sesuatu dalam diri saya—ketahanan, disiplin, dan kemampuan untuk tetap berdiri meskipun tidak selalu mendapat tepuk tangan.Saya belajar bahwa pengakuan dari luar itu menyenangkan, tapi tidak bisa selalu dijadikan bahan bakar utama.Karena pada akhirnya, yang membuat kita bertahan bukanlah pujian, melainkan alasan kenapa kita memilih untuk terus berjalan.Hari ini, saya masih seorang guru. Masih dengan tugas yang kadang datang tanpa diminta. Masih dengan situasi yang tidak selalu ideal.Tapi saya tidak lagi melihatnya dengan cara yang sama.Karena saya tahu, setiap tantangan yang pernah terasa “tidak dihargai” itu, diam-diam sedang membentuk versi diri saya yang lebih kuat.Dan mungkin, tidak semua perjuangan harus terlihat untuk menjadi berarti.