Ratusan ribu artikel ilmiah terbit tiap tahun: Bagaimana menjaga kualitas di tengah lonjakan publikasi?

Wait 5 sec.

stoatphoto/shutterstock● Jumlah publikasi ilmiah di Indonesia bertumbuh sangat pesat.● Lonjakan jumlah artikel jurnal berisiko menurunkan kualitas penelaahan dan memicu praktik produksi naskah massal.● Integritas akademis menuntut tata kelola jurnal yang ketat dan pergeseran fokus dari kuantitas ke kualitas riset.Dalam satu dekade terakhir, ekosistem publikasi ilmiah di Indonesia berkembang sangat pesat, terutama dari segi jumlah. Ada sekitar 29 ribu jurnal dari 5 ribu penerbit terdaftar dalam portal referensi dan sitasi pemerintah. Sebagian besar penerbit ini adalah perguruan tinggi yang mengelola jurnal untuk menyebarkan hasil penelitian.Portal ISSN yang dikelola oleh Perpustakaan Nasional juga menunjukkan lebih dari 7 ribu pendaftaran ISSN per tahun pada periode 2020–2022. Perkembangan tersebut tentu patut diapresiasi. Semakin banyak jurnal bisa memperbesar ruang peneliti untuk menerbitkan temuan ilmiahnya.Namun, beberapa jurnal terakreditasi kini menerbitkan artikel dalam jumlah sangat besar setiap tahun, bahkan mencapai ratusan artikel. Jurnal Ilmiah Manajemen Kesatuan (JIMKES) contohnya, menerbitkan 560 artikel pada tahun 2025.Dalam praktik umum, banyak jurnal ilmiah konvensional (terutama pada level nasional hingga menengah) menerbitkan puluhan hingga sekitar seratus artikel per tahun, bergantung pada jumlah edisi dan kapasitas editorial. Ketika jumlah ini meningkat secara signifikan tanpa diikuti penguatan proses review, muncul risiko penurunan kualitas publikasi.Proses publikasi ilmiah bukanlah proses instan. Sebuah tinjauan sistematis terhadap jurnal biomedis menunjukkan bahwa waktu dari pengiriman naskah hingga publikasi dapat berkisar antara beberapa bulan hingga hampir dua tahun, dengan rata-rata mencapai ratusan hari. Variasi ini mencerminkan kompleksitas proses editorial, mulai dari penelaahan oleh beberapa reviewer hingga revisi berulang dan keputusan akhir editor. Dengan durasi yang panjang ini, kapasitas sebuah jurnal untuk memproses artikel secara berkualitas pada dasarnya terbatas (Andersen, Fonnes, & Rosenberg, 2021).Ketika volume publikasi meningkat sangat cepatMeningkatnya jumlah artikel sebenarnya bukan masalah, selama proses editorial berjalan secara ketat dan transparan. Banyak jurnal memperbanyak artikel yang terbit karena naskah yang semakin banyak masuk dan meningkatnya aktivitas penelitian. Namun, jika volume publikasi meningkat sangat besar dalam waktu singkat: apakah kapasitas sistem editorial jurnalnya mencukupi?Proses peer review atau penelaahan sejawat merupakan fondasi utama kualitas publikasi ilmiah. Setiap artikel harus melalui penilaian mendalam oleh pakar di bidangnya untuk memastikan ketepatan metodologi, analisis data, dan kontribusi ilmiahnya.Proses ini membutuhkan waktu, tenaga, dan jaringan reviewer (penelaah) yang cukup luas.Ketika jumlah artikel yang diproses meningkat sangat drastis, risiko yang dapat muncul adalah menurunnya kedalaman proses review. Suatu jurnal justru kian bergantung pada proses editorial yang lebih cepat tapi kurang mendalam.Lonjakan jumlah artikel ilmiah juga terjadi secara global. Sebuah analisis bibliometrik tahun 2015 menunjukkan bahwa jumlah publikasi ilmiah tumbuh sekitar 8–9% per tahun. Alhasil, dalam waktu sekitar satu dekade jumlahnya dapat berlipat ganda.Organisasi etika publikasi internasional, Committee on Publication Ethics (COPE), telah mengingatkan tekanan publikasi sering memanfaatkan celah dalam sistem editorial jurnal dan proses penelaahan sejawat.Celah tersebut dapat menyuburkan praktik produksi artikel ilmiah secara massal (paper mills). Istilah ini merujuk pada organisasi yang memproduksi naskah penelitian dan menjual kepengarangan kepada peneliti yang membutuhkan publikasi. Sebuah studi pada 2022 menemukan lebih dari 1.100 artikel ilmiah yang ditarik karena berasal dari jaringan paper mills. Baca juga: Mengenal cara kerja ‘paper mill’: pabrik artikel ilmiah yang beroperasi seperti kartel di film-film Dalam konteks pendidikan tinggi di Indonesia, beban kerja dosen bukan hanya mengajar, tetapi juga kewajiban penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta tugas penunjang akademis lainnya. Ketika pada saat yang sama dosen juga berperan sebagai reviewer jurnal, beban tersebut semakin bertambah. Apalagi penelaahan naskah memerlukan ketelitian, waktu, dan tanggung jawab akademis yang tinggi.Refleksi pengalaman banyak dosen menunjukkan, aktivitas menelaah jurnal sering kali dilakukan di sela-sela waktu mengajar, membimbing mahasiswa, atau bahkan di luar jam kerja formal. Selain menambah lelah dosen, pola kegiatan ini menciptakan tekanan tersendiri bagi mereka untuk menjaga keseimbangan antara jumlah keluaran dan kualitas kontribusi ilmiah. Baca juga: Ribetnya karier dosen di Indonesia: monopoli pemerintah dan logika birokrasi perguruan tinggi yang mengakar sejak era penjajahan Mengapa fenomena ini bisa terjadi?Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan fenomena ini.Pertama, meningkatnya tuntutan publikasi dalam sistem akademik. Publikasi ilmiah tidak hanya menjadi syarat penting dalam kenaikan jabatan akademis, tetapi dalam periode tertentu juga diwajibkan sebagai bagian dari kelulusan mahasiswa pascasarjana (baik magister maupun doktoral) melalui publikasi di jurnal ilmiah sebagaimana diatur dalam kebijakan pendidikan tinggi sebelumnya. Baca juga: ‘Calo publikasi’: banyak dosen Indonesia mencari jalan pintas seiring gencarnya tuntutan terbit di jurnal internasional bereputasi Kedua, status akreditasi jurnal menjadi indikator penting bagi penulis dalam memilih tempat publikasi. Jurnal terakreditasi cenderung menjadi tujuan utama pengiriman artikel.Ketiga, ekosistem penerbitan ilmiah Indonesia masih berada dalam fase ekspansi. Banyak perguruan tinggi yang sedang membangun kapasitas editorial mereka, sehingga dinamika pengelolaan jurnal dapat berubah cukup cepat.Faktor-faktor ini secara bersama-sama mendorong meningkatnya volume publikasi dalam sebagian jurnal.Menjaga integritas ekosistem publikasi ilmiahPertumbuhan publikasi ilmiah merupakan tren positif bagi dunia akademis Indonesia. Namun, pertumbuhan tersebut perlu diiringi dengan mekanisme tata kelola untuk memastikan kualitas tetap terjaga.Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain:Pertama, evaluasi jurnal yang lebih berkala. Selain evaluasi periodik seperti akreditasi, mekanisme pemantauan tahunan dapat membantu mendeteksi perubahan signifikan dalam pengelolaan jurnal, termasuk volume publikasi dan proses editorial.Kedua, transparansi proses peer review. Jurnal dapat memperkuat kepercayaan publik dengan menunjukkan secara jelas proses penelaahan artikel, waktu untuk memeriksa naskah, serta keterlibatan penelaah. Baca juga: Masih ada banyak kekurangan dalam sistem peer review publikasi riset. Bagaimana cara memperbaikinya? Ketiga, penguatan kapasitas editorial. Pelatihan editor dan pengembangan jaringan penelaah penting untuk memastikan bahwa peningkatan jumlah artikel tidak mengurangi kualitas penilaian ilmiah.Keempat, perubahan paradigma penilaian akademis. Institusi pendidikan tinggi dapat menyeimbangkan penilaian kinerja dosen tidak hanya dari jumlah publikasi, tetapi juga dari kualitas dan dampak penelitian.Indonesia saat ini sedang berada dalam fase penting perkembangan publikasi ilmiah. Pertumbuhan jumlah jurnal dan artikel menunjukkan meningkatnya aktivitas penelitian di berbagai perguruan tinggi.Namun, keberhasilan jangka panjang ekosistem ini tidak hanya ditentukan oleh banyaknya artikel yang diterbitkan, tetapi juga oleh kualitas dan integritas ilmiah yang dijaga bersama.Dengan evaluasi kebijakan yang luwes dan komitmen dari berbagai pihak—mulai dari pengelola jurnal, perguruan tinggi, hingga pembuat kebijakan—ekosistem publikasi ilmiah Indonesia dapat terus berkembang tanpa kehilangan standar akademisnya. Baca juga: Mengurai sistem indeks kinerja peneliti ‘SINTA’: lebih banyak mudarat atau manfaatnya bagi produksi riset Indonesia? Saat ini saya adalah pengelola jurnal bidang olahraga terakreditasi nasional. Selain itu saya juga menjadi reviewer di jurnal nasional terakreditasi dan internasional bereputasi.