Ini Alasan Sri Lanka Imbau Warga Stop Cas Mobil Listrik Saat Malam

Wait 5 sec.

Petugas PLN mencoba alat pengisi daya kendaraan di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Rest Area 88b, Jawa Barat, Kamis (13/4/2023). Foto: Aditia Noviansyah/kumparanPemerintah Sri Lanka mengeluarkan imbauan tak lazim di tengah tren penggunaan mobil listrik. Mereka meminta para pengguna mobil berbasis baterai itu tidak melakukan pengisian daya pada malam hari. Langkah ini diambil menyusul meningkatnya tekanan terhadap sistem kelistrikan nasional, khususnya saat jam beban tertinggi di malam hari.Presiden Sri Lanka, Anura Kumara Dissanayake, mengungkapkan bahwa lonjakan konsumsi listrik terjadi seiring kebiasaan pengguna kendaraan listrik yang mengisi daya setelah beraktivitas. Pola ini menyebabkan tambahan beban sebesar 300 megaWatt pada jaringan listrik mereka.“Pemilik mobil listrik mengisi daya kendaraan mereka saat pulang kerja. Hal ini menambah beban pada jaringan listrik, dan kami terpaksa mengoperasikan seluruh pembangkit untuk memenuhi lonjakan tersebut,” ucap Anura dikutip The Straits Times.Proses pengecasan Toyota bZ4X di SPKLU yang ada di rest area Tol Trans Jawa. Foto: Dok. kumparanAkibatnya, operator listrik harus mengerahkan kapasitas pembangkit secara maksimal untuk menjaga kestabilan pasokan. Kondisi ini menjadi semakin kompleks karena listrik pada malam hari masih banyak ditopang oleh pembangkit berbasis bahan bakar fosil.Di mana mereka memiliki kapasitas 900 megaWatt pembangkit listrik berbasis batu bara, serta 1.000 megaWatt pembangkit diesel.Dengan kata lain, penggunaan mobil listrik yang seharusnya mendukung transisi energi bersih justru berpotensi meningkatkan konsumsi energi konvensional dalam situasi tertentu.Atas dasar hal tersebut, pemerintah Sri Lanka mendorong pemilik kendaraan listrik melakukan pengisian daya pada siang hari. Pada periode tersebut, pasokan listrik relatif lebih longgar, terutama karena kontribusi energi surya yang melimpah.SPKLU Ultra Fast Charging Voltron dengan XPeng di Living World Alam Sutera. Foto: dok. XPeng Indonesia”Cas mobil saat siang hari, ketika kita mendapat energi listrik dari panas matahari,” sambungnya.Namun, keterbatasan infrastruktur seperti sistem penyimpanan energi skala besar membuat kelebihan listrik di siang hari belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kebutuhan malam hari.Selain imbauan, pemerintah juga tengah mempertimbangkan penerapan kebijakan tarif listrik guna mengatur pola konsumsi, termasuk pengisian daya kendaraan listrik agar tidak terkonsentrasi di malam hari.Hyundai IONIQ 6 dan IONIQ 5 di SPKLU di rest area KM 379 tol Trans Jawa. Foto: dok. HMIDDijelasna, kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya jumlah kendaraan listrik di Sri Lanka, seiring pelonggaran aturan impor kendaraan yang sebelumnya sempat dibatasi.Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa transisi ke kendaraan listrik tidak hanya soal adopsi teknologi kendaraan, tetapi juga kesiapan sistem energi secara menyeluruh.Tanpa pengelolaan yang tepat, lonjakan penggunaan listrik dari kendaraan listrik justru bisa memunculkan tantangan baru bagi ketahanan energi nasional.