Ilustrasi pemimpin perempuan. Foto: fizkes/ShutterstockDemi mencapai dunia yang adil dan setara, masyarakat harus bergerak untuk menutup kesenjangan gender di berbagai bidang, termasuk dalam segi kepemimpinan. Namun, hingga saat ini, ketimpangan tersebut masih jauh dari kata tertutup.Kepemimpinan bukanlah praktik yang terbatas pada satu gender saja—baik laki-laki maupun perempuan, siapa pun yang memiliki kemampuan dapat menjadi seorang pemimpin. Kendati demikian, bias terhadap perempuan masih membatasi jalan untuk menduduki posisi tersebut. Hal ini disampaikan oleh Head of Programmes UN Women Indonesia, Dwi Yuliawati Faiz.Menurut Dwi, masih banyak orang Indonesia yang tidak yakin bahwa perempuan dapat menjadi pemimpin, termasuk pimpinan dalam perusahaan maupun lanskap politik.“Indonesia itu memang masih satu dari sekian banyak negara di Asia Pasifik yang kalau ditanya pertanyaan, ‘Apakah perempuan mampu memimpin perusahaan?’ jawabannya masih sangat banyak yang bilang ‘tidak’. Kalau tidak salah angkanya 90 sampai 91,” ucap Dwi kepada kumparanWOMAN saat ditemui di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu.Dari sana terlihat, memang persepsi bahwa perempuan tidak bisa memimpin di dua domain—ekonomi dan politik—masih sangat tinggi,” imbuh Dwi.Untuk pernyataan tersebut, Dwi Yuliawati merujuk pada data Gender Social Norms Index 2023, laporan indeks norma sosial gender yang disusun oleh United Nations Development Programme (UNDP). Laporan tersebut mengungkap bahwa di seluruh dunia, hampir 9 dari 10 laki-laki dan perempuan di dunia memiliki bias tersendiri kepada perempuan.Bias-bias tersebut meliputi peran perempuan dalam kepemimpinan di dimensi politik, pendidikan, hak-hak perempuan dalam pekerjaan, hak perempuan dalam menjadi pemimpin di perusahaan, hingga hak-hak ketubuhan.Ilustrasi perempuan pemimpin. Foto: CrizzyStudio/ShutterstockLaporan Gender Social Norms Index menyebutkan, 49 persen dari total populasi dunia yang disurvei mengaku, laki-laki bisa menjadi pemimpin politik yang lebih baik daripada perempuan. 46 persen orang percaya bahwa laki-laki lebih berhak mendapatkan pekerjaan dibandingkan perempuan.Lalu, 43 persen orang percaya bahwa laki-laki mampu memimpin perusahaan lebih baik ketimbang perempuan. Bahkan, 25 persen responden di seluruh dunia setuju laki-laki diperbolehkan memukuli istri mereka.Data yang sama juga mengungkap, 99 persen laki-laki dan perempuan di Indonesia memiliki setidaknya satu bias terhadap perempuan. Sementara itu, 93 persen punya setidaknya dua bias tersendiri terhadap perempuan.Perempuan bisa menjadi pemimpin yang baikIlustrasi pemimpin perempuan. Foto: Tirachard Kumtanom/ShutterstockMeskipun bias gender terhadap perempuan—terutama dalam segi kepemimpinan—masih tinggi, perlu disadari bahwa perempuan mampu menjadi pemimpin yang baik. Hal ini terungkap dalam berbagai studi soal kepemimpinan perempuan.Dalam studi yang dilakukan oleh Eagly pada 1992, pemimpin perempuan menunjukkan gaya kepemimpinan yang lebih transformatif. Para pemimpin perempuan cenderung mencontohkan hal-hal baik dalam sebuah organisasi dan menginspirasi orang-orang untuk mengikuti misi organisasi.Dilansir American Psychological Association, penelitian yang terbit di jurnal Science (2010) mengungkap bahwa kepemimpinan perempuan bisa mendorong kolaborasi dan kerja sama tim yang lebih baik.Dikutip dari Forbes, menurut Ketua dan CLO Leadership Circle Cindy Adams mengatakan, pemimpin perempuan memimpin dengan pola pikir yang lebih kreatif dan berempati. Empati ini memungkinkan pemimpin perempuan untuk membangun relasi kerja yang lebih harmonis.“Pemimpin perempuan bekerja dengan cara yang berbeda dibandingkan pemimpin laki-laki dalam aspek membangun hubungan yang penuh kepedulian, mentoring, dan membantu perkembangan diri orang lain, serta menunjukkan kepedulian kepada sekitar. Dalam ekosistem bisnis saat ini, ini adalah kekuatan super,” jelas Cindy Adams.