Lebaran 2026 Diperkirakan Bikin Inflasi Naik, Tekanan Menguatnya Harga Pangan

Wait 5 sec.

Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin saat berbincang di program DIPTalk di Kantor kumparan, Jakarta, Selasa (6/1/2026) Foto: Iqbal Firdaus/kumparanMomentum Lebaran 2026 diperkirakan mendorong kenaikan inflasi, seiring meningkatnya konsumsi masyarakat dan tekanan dari sisi harga pangan. Meski begitu, sejumlah ekonom menilai lonjakan inflasi masih berada dalam rentang yang relatif terkendali, dengan dinamika yang lebih kompleks dibanding sekadar faktor musiman.Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, melihat tekanan inflasi saat ini sudah berada dalam tren tinggi, bahkan sebelum periode Lebaran dimulai. Ia menyoroti kombinasi faktor domestik dan eksternal yang secara bersamaan mendorong kenaikan harga.Menurut Wija, dorongan permintaan akibat kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat harga pangan naik, sementara pelemahan rupiah memperbesar tekanan dari sisi impor. Kondisi ini membuat inflasi menjadi lebih sensitif terhadap tambahan faktor musiman seperti Lebaran, yang secara historis memang selalu meningkatkan konsumsi, terutama pada komoditas pangan dan transportasi.“Indonesia saat ini mengalami era inflasi tinggi, hingga Februari 2026 saja, inflasi yoy mencapai 4,76 persen. Faktor utamanya adalah MBG yang mendongkrak demand sehingga harga bahan pangan ikut naik, imported inflation akibat IDR yang terus melemah,” kata Wija kepada kumparan, Kamis (26/3).Wija menilai ketiga faktor utama yakni permintaan domestik, imported inflation, dan momentum Lebaran akan saling memperkuat dalam mendorong kenaikan inflasi. Namun, terdapat satu faktor penahan yang berasal dari sisi kebijakan masa lalu, yakni berakhirnya insentif diskon listrik pada Maret 2025 yang sebelumnya sempat menekan inflasi.Dalam proyeksinya, inflasi tahunan pada Maret 2026 berpotensi mendekati level 5 persen. Angka ini mencerminkan tekanan harga yang masih cukup kuat dan berpotensi berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.Selain faktor jangka pendek, ia juga mengingatkan adanya risiko lanjutan yang dapat memperparah inflasi, seperti kenaikan harga BBM, tren pelemahan rupiah yang belum mereda, serta potensi fenomena El Nino yang dapat mengganggu produksi pertanian dan pasokan pangan.Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kenaikan inflasi tetap terjadi, tetapi tidak mencerminkan lonjakan permintaan yang kuat dari masyarakat.“Kenaikan ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor musiman dan teknis, bukan karena lonjakan permintaan yang kuat,” kata Yusuf.Menurut Yusuf, Lebaran memang menjadi momentum peningkatan konsumsi, khususnya pada sektor pangan dan transportasi. Namun, pola tahun ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih atau ekspansif, sehingga tekanan dari sisi permintaan cenderung terbatas.Ia memperkirakan inflasi pada periode Lebaran 2026 berada di kisaran 2,5 persen hingga sedikit di atas 3 persen. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan dibanding bulan-bulan sebelumnya, tetapi masih dalam batas yang relatif terkendali dan belum dapat dikategorikan sebagai inflasi tinggi.Pedagang menyortir cabai rawit merah yang dijual di Pasar Barito, Ternate, Maluku Utara, Minggu (22/2/2026). Foto: Andri Saputra/ANTARA FOTOLebih jauh, Yusuf menjelaskan bahwa secara struktur, tekanan inflasi saat ini masih didominasi oleh kelompok pangan bergejolak (volatile food). Komoditas seperti cabai, ayam, dan sejumlah bahan pokok lain memang cenderung mengalami kenaikan harga menjelang Lebaran, tetapi pergerakannya masih mengikuti pola musiman yang normal.Di sisi lain, kata Yusuf, inflasi inti yang mencerminkan kondisi fundamental ekonomi justru relatif stabil. Hal ini mengindikasikan bahwa permintaan domestik belum cukup kuat untuk menciptakan tekanan inflasi yang lebih luas dan berkelanjutan.Yusuf juga menyoroti adanya efek basis rendah pada tahun sebelumnya yang membuat angka inflasi tahunan terlihat lebih tinggi secara statistik. Kondisi ini dapat menimbulkan persepsi adanya lonjakan inflasi, meski secara riil kenaikannya tidak sebesar yang terlihat pada data tahunan.Dari sisi sentimen, ia melihat kondisi saat ini cenderung campuran. Di satu sisi, ada optimisme karena pasokan relatif terjaga dan intervensi pemerintah cukup aktif dalam menjaga stabilitas harga, terutama menjelang periode Lebaran.Namun, sejumlah risiko tetap membayangi, mulai dari potensi gangguan pasokan pangan, faktor cuaca yang tidak menentu, hingga tekanan nilai tukar rupiah yang dapat memicu imported inflation."Dengan berbagai dinamika tersebut, inflasi Lebaran 2026 diperkirakan tetap mengalami kenaikan, tetapi dengan karakter yang berbeda. Di satu sisi, terdapat tekanan kuat dari faktor struktural seperti pelemahan rupiah dan harga energi, sementara di sisi lain, permintaan domestik yang belum terlalu kuat membuat lonjakan inflasi cenderung lebih terbatas," tutur Yusuf.