Ilustrasi membungkus batang pisang dengan plastic wrap. Foto: PosiNote/shutterstockPara eksportir pisang di Filipina berpotensi kehilangan pendapatan hampir USD 200 juta, atau sekitar Rp 3,4 triliun (kurs Rp 16.996) akibat perang di Iran. Saling serang Israel-Amerika Serikat dan Iran membuat jalur perdagangan pangan terganggu. Mengutip Philstar.com, Selasa (23/3), perang di kawasan Teluk itu telah mengguncang industri pisang domestik, khususnya perusahaan eksportir besar, karena menghambat upaya Filipina memperkuat posisinya di pasar Timur Tengah yang tengah berkembang.Iran menjadi salah satu tujuan ekspor non-Asia paling menguntungkan bagi komoditas unggulan Filipina tersebut, di tengah upaya negara itu mendiversifikasi pasar akibat persaingan ketat di kawasan.Data Philippine Statistics Authority (PSA) menunjukkan Iran merupakan salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat untuk pisang Filipina, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan 15 persen pada periode 2020-2025. Saat ini, Iran menjadi pasar terbesar keempat untuk ekspor pisang segar Filipina.Sebuah kapal angkatan laut terlihat berlayar di Selat Hormuz, pada 1 Maret 2026. Foto: Sahar AL ATTAR / AFPIran menyumbang sekitar 6 persen dari total penerimaan ekspor pisang tahun lalu, dengan nilai mendekati USD 100 juta. Pada 2025, ekspor pisang ke Iran melonjak 81 persen menjadi USD 97,52 juta, dibandingkan USD 53,79 juta pada 2024.Dari sisi volume, ekspor pisang ke Iran mencapai 242.877,58 metrik ton pada tahun lalu, meningkat sekitar 46,7 persen dari 165.448,52 metrik ton pada 2024.Negara tersebut juga menyumbang sekitar 8 persen dari total ekspor pisang Filipina yang mencapai 3,04 juta metrik ton pada tahun lalu.Observatory of Economic Complexity (OEC), Filipina menjadi pemasok pisang terbesar kedua ke Iran setelah India pada 2024, yang memiliki keunggulan biaya logistik lebih rendah karena kedekatan geografis. Lembaga tersebut juga mencatat Filipina sebagai eksportir dengan pertumbuhan tercepat ke Iran pada periode 2023-2024.Sementara itu, nilai gabungan ekspor pisang ke enam negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) ditambah Irak mencapai hampir USD 95,5 juta tahun lalu, berdasarkan data PSA.Dalam surat kepada Presiden Ferdinand Marcos Jr., Pilipino Banana Growers and Exporters Association (PBGEA) menyebutkan potensi kerugian dapat mencapai USD 200 juta apabila konflik semakin memburuk. Pasar Timur Tengah sendiri menyumbang sekitar 12 persen dari total nilai ekspor pisang Filipina tahun lalu.“Kami sebenarnya sangat optimistis dengan prospek pasar Timur Tengah. Pengiriman kami mulai meningkat, tetapi kemudian perang pecah. Seolah-olah kami kembali ke titik awal. Beberapa perusahaan bahkan mungkin sudah menghentikan ekspor ke Iran untuk meminimalkan risiko,” ujar Direktur Eksekutif PBGEA, Stephen Antig, dalam wawancara terpisah.Ia menjelaskan, sejumlah perusahaan pisang telah membangun pijakan di Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya untuk mendiversifikasi pasar, mengingat pasar utama seperti Jepang dan Korea Selatan sudah mulai jenuh.“Meskipun kami tidak bisa bersaing dengan India, kami masih memiliki pelanggan setia di Iran yang tetap membeli pisang Filipina karena kualitasnya lebih baik,” ujar Antig.Ilustrasi Manila di Filipina. Foto: Richie Chan/ShutterstockPendapatan ekspor pisang ke kawasan Timur Tengah tahun lalu meningkat 60 persen menjadi USD 193 juta dari USD 120 juta, didorong oleh peningkatan pengiriman ke sebagian besar negara, kecuali Kuwait dan Oman, menurut data PSA.Secara keseluruhan, total ekspor pisang Filipina meningkat 30 persen secara tahunan menjadi 3,04 juta metrik ton, dari 2,33 juta metrik ton pada tahun sebelumnya.Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) pun sebelumnya memperkirakan Filipina kembali menjadi eksportir pisang terbesar kedua di dunia tahun lalu, didorong oleh peningkatan pasokan hasil investasi yang dilakukan pelaku industri.