Kekhawatiran Krisis Energi Ganggu Perilaku Konsumen di Jepang, Picu Panic Buying

Wait 5 sec.

Ilustrasi tisu toilet. Foto: Daria Nipot/ShutterstockPemerintah Jepang mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying terhadap tisu toilet, setelah muncul unggahan di media sosial yang menunjukkan warga mulai menimbun kebutuhan sehari-hari akibat kekhawatiran terhadap perang AS-Israel terhadap Iran.Fenomena penimbunan tisu toilet pernah terjadi di Jepang saat krisis minyak 1973, yang memicu kontraksi ekonomi pertama negara tersebut pasca-Perang Dunia II. Perilaku serupa juga kembali muncul saat gempa bumi dan tsunami besar pada 2011, serta selama pandemi COVID-19.Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang dalam pernyataannya meminta masyarakat untuk tetap bersikap rasional dalam membeli tisu toilet dengan mengacu pada informasi yang akurat.“Toko obat di dekat saya kehabisan tisu toilet! Sepertinya semua orang sedang menimbunnya,” tulis seorang pengguna X, dikutip dari Bloomberg, Selasa (24/3).Unggahan lainnya juga memperlihatkan foto berbagai barang yang diklaim telah ditimbun, mulai dari makanan kucing, perlengkapan mandi, hingga tumpukan bir merek Suntory.Menurut Japan Household Paper Industry Association, sekitar 97 persen produksi tisu toilet di Jepang berasal dari dalam negeri, menggunakan bahan kertas daur ulang dan pulp, serta tidak bergantung pada pasokan dari Timur Tengah."Sehingga tidak ada dampak langsung pada produksi. Selain itu, kapasitas untuk meningkatkan produksi masih cukup," kata kementerian dalam keterangannya di situs resmi.Kelompok ritel di Jepang juga telah mengeluarkan pernyataan serupa, sebagaimana disampaikan oleh kementerian tersebut."Kami meminta masyarakat untuk mengambil keputusan yang tenang dan rasional terkait pembelian tisu toilet berdasarkan informasi yang akurat," kata kementerian.