(Sumber: Unsplash/fikry anshor)Ramadan baru saja melipat sajadahnya, meninggalkan aroma lapar yang syahdu dan bekas-bekas sujud yang belum mengering di kening waktu. Kita menyebut hari ini sebagai Idulfitri—sebuah kepulangan menuju asal-muasal yang murni dalam kedaulatan jiwa dari segala bentuk syahwat yang gelap gempita.Namun, di tengah gema takbir yang membelah langit, ada bunyi lain yang tak kalah nyaring seperti notifikasi diskon, konfirmasi pembayaran, dan deru transaksi yang tak pernah benar-benar berhenti. Pusat perbelanjaan dipadati manusia, sementara ruang digital dikepung kampanye promosi yang agresif. Lebaran yang semestinya menjadi momen "kembali ke fitri," perlahan menjelma menjadi sebuah karnaval konsumsi.Fenomena ini bukan sekadar kesan subjektif. Data tahun 2026 menunjukkan betapa masifnya skala itu. Pemerintah dan sektor swasta menggelontorkan dana luar biasa untuk menggenjot daya beli masyarakat. Sekitar Rp124 triliun THR untuk pekerja swasta, ditambah Rp55 triliun untuk aparatur negara, membuat total stimulus langsung menjelang Lebaran mendekati Rp179 triliun. Jika ditambah berbagai bantuan sosial lainnya, angka ini menembus ~Rp194 triliun.Lonjakan daya beli berkat kucuran Tunjangan Hari Raya (THR) dan Bantuan Hari Raya (BHR) memang menggerakkan roda ekonomi, namun sering kali memicu perilaku belanja yang intens tanpa henti. Di sinilah pentingnya mengingat peringatan dalam Surah Al-A’raf ayat 31 tentang israf atau perilaku berlebih-lebihan.Mendiang Azyumardi Azra pernah menawarkan gagasan untuk menjembatani ketegangan ini. Ia membedakannya dalam tiga hal:Konsumsi: Kebutuhan dasar yang memang meningkat karena tradisi berbagi takjil, iftar, dan sedekah kepada fakir miskin serta yatim piatu. Ini bernilai ibadah.Sikap Konsumtif: Mengeluarkan biaya lebih dari kebutuhan (pemborosan).Konsumerisme: Gaya hidup hedonis yang mengutamakan merek terkenal (brand name) demi prestise sosial.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga selama Lebaran bisa meningkat hingga 20–25% dibandingkan bulan biasa. Artinya, secara struktural, Lebaran telah berubah menjadi puncak siklus ekonomi yang ditopang oleh belanja massal.Namun, di balik gemerlap transaksi triliunan rupiah tersebut, ada realitas yang sering luput dari meja makan kita yang penuh hidangan sampai produk dan jasa yang kita pakai, yakni perihal kesejahteraan buruh (pekerja).Karnaval konsumsi ini digerakkan oleh begitu banyak petani dan nelayan yang berhadapan langsung dengan ekosida, buruh logistik , kurir yang bekerja hingga dini hari, dan pegawai ritel sampai desainer yang kehilangan momen Lebaran demi melayani permintaan pasar. Faktanya, di tahun 2026, tantangan perlindungan pekerja tetap krusial. Masih ditemukan kasus penundaan THR bagi pekerja gig economy dan buruh kontrak. Lebaran bagi mereka bukanlah liburan, melainkan puncak kelelahan. Jika Idulfitri tentang keadilan dan fitrah, maka membiarkan keringat pekerja mengering tanpa upah yang layak merupakan suatu kezaliman.Menggunakan kacamata Marx, kita melihat potret alienasi (keterasingan) yang pedih di balik keriuhan ini. Dalam industri kapitalisme yang haus efisiensi, para pekerja menjadi sekadar sekrup dalam mesin besar. Mereka merupakan produsen kebahagiaan bagi orang lain, tetapi mereka sendiri terasing dari produknya. Mereka menjahit baju indah yang tak mampu mereka beli, dan mengantar paket hampers mewah ke perumahan elit sementara dapur mereka sendiri mungkin masih pelik. Kualitas hidup pekerja dikorbankan demi mengejar target stok Lebaran. Di sini, disparitas industri tampak telanjang untuk mereka yang bekerja paling keras justru menjadi kelompok yang paling sedikit menikmati makna "libur" dan "kemenangan" di hari raya.Meminjam istilah Erich Fromm, dalam To Have or To Be?, seakan-akan selama sebulan penuh berlatih "menjadi" (being), tiba-tiba terpelanting kembali ke dalam obsesi untuk "memiliki" (having). . Fitrah yang seharusnya hadir sebagai kejernihan batin, perlahan direduksi menjadi simbol-simbol yang kasatmata serupa pakaian baru, hidangan berlimpah, dan tampilan yang layak dibagikan. Tanpa disadari, Lebaran bergerak dari ruang spiritual menuju panggung representasi.Apa yang pernah dikemukakan oleh Guy Debord tentang “Masyarakat Tontonan” (The Society of the Spectacle) terasa semakin relevan. Dalam masyarakat semacam ini, realitas tidak lagi cukup dialami — seakan-akan harus ditampilkan. Kesalehan tidak cukup dirasakan — seakan-akan perlu divisualisasikan. Kita merasa belum sepenuhnya “Fitri” jika belum terlihat demikian.Tragisnya, puasa yang kita jalani sebagai bentuk kezuhudan, justru berakhir dengan sebuah ledakan konsumtif yang senantiasa menguntungkan segelintir pemilik kapital. Bagi saya inilah puncak dehumanisasi, ketika manusia tidak lagi dinilai dari kedalaman imanensinya, melainkan dari daya belinya. Tidak lagi dipandang sebagai makhluk hidup yang berpikir, merasa, dan bermartabat.Kita perlu mengingat sejarah bahwa Ramadan tidak sebatas jeda biologis bagi umat Islam, melainkan rahim bagi revolusi besar yang mengubah peta peradaban dan kompas moral. Dari palagan Badar yang meruntuhkan hegemoni aristokrasi Quraisy hingga Fathu Makkah yang menghancurkan berhala-berhala penindasan, Ramadan selalu menjadi momentum pergeseran kekuasaan dari tangan penindas ke tangan mereka yang memperjuangkan keadilan. Maka, kemenangan Idulfitri hari ini merupakan pewarisan api perlawanan dari peristiwa masa lampau tersebut.Idulfitri kita belum benar-benar menang selama kita masih menjadi hamba dalam modus produksi kapitalistik yang mematikan rasa kemanusiaan kita. Kemenangan Islam hakikatnya terletak pada solidaritas terhadap perjuangan kolektif umat manusia dari segala bentuk penindasan, mulai dari garis depan pertahanan di Palestina melawan genosida, keteguhan rakyat Sudan menghadapi pecah belah imperialis, dan perlawanan terhadap neokolonialisme yang menindas di Iran, hingga setiap jengkal tanah dan ekosistem dari bangsa-bangsa lain yang merindukan keadilan.Dalam lintasan sejarah kita, agama selalu menjadi kompas pembebasan, bukan hanya pelipur lara semata. Oleh karena itu, minal ‘aidin wal-fa’izin perlu kita maknai bukan sebatas basa-basi dalam tradisi lebaran. Ia merupakan janji revolusioner untuk kembali ke fitrah kemanusiaan yang merdeka. Akan tetapi, perlu kita tegaskan bahwa saling memaafkan dalam tradisi Lebaran itu untuk kekhilafan antarmanusia, bukan untuk rezim yang merawat ketidakadilan. Maaf untuk segala kesalahan yang disadari dengan segala kerendahan hati, tidak untuk sistem yang sengaja memiskinkan petani, menindas buruh, dan membiarkan penindasan berlangsung atas nama stabilitas pasar maupun keuntungan segelintir orang.Mari jadikan Lebaran tahun ini tidak sebatas euforia kolosal konsumsi massal, melainkan langkah politik nyata untuk meruntuhkan berhala modern menuju pembebasan manusia seutuhnya. Kita memaafkan sesama, namun juga kita dapat terus melipatgandakan perlawanan terhadap sistem yang zalim.