Fenomena Humanisasi Skripsi lewat Halaman Persembahan

Wait 5 sec.

Ungkapan ekspresi kegembiraan setelah melewati sidang skripsi di kampus FISIP Undip Semarang, Senin (16/3/2026) lalu. Foto: Dokumentasi pribadiSalah satu catatan yang patut dibubuhkan dari aktivitas penyusunan skripsi dewasa ini, adalah keberadaan halaman persembahan. Ada sejumlah lembar, biasanya tidak lebih dari .kisaran tiga, dan bersifat sangat personal ini sebetulnya memiliki banyak hal yang dapat menjadi bahan pembicaraan menarik.Saya akan mengawali dari persembahan para mahasiswa atau mahasiswi sang penyusun skripsi kepada dirinya sendiri. Berdasarkan dari hasil runutan pada perjalanan budaya akademik dan digital di Indonesia, tren ini menampakkan awal kemunculannya pada dekade 2010-an.Tren ini menampakkan eksistensinya seiring dengan kian meningkat kesadaran akan kesehatan mental (mental health awareness) di kalangan mahasiswa-mahasiswi. Istilah seperti self-reward dan self-love, pada era itu mulai populer dan membangkitkan pengaruh pada cara mereka mengapresiasi perjuangan sendiri.Fenomena persembahan untuk diri sendiri itu kemudian menjadi tersebar ke publik sedemikian masif. Hal itu terjadi tatkala timbul ledakan di media sosial pada kisaran mulai 2015 hingga kini. Platform seperti Twitter (X), Instagram, dan TikTok menjadi media untuk menge-share foto halaman persembahan skripsi yang unik dan lain daripada yang lain.Viralitas konten-konten itu menginspirasi adik-adik tingkat mereka untuk ikut berperan serta menggegap-gempitai halaman persembahan pada skripsi mereka dengan ekspresi yang lebih mempersonal. Lebih “ugal-ugalan” secara kreativitas. Kemudian muncul deretan fenomena selanjutnya, dengan sentuhan pengaruh budaya pop dan K-Pop mulai kisaran tahun 2018.Pada tataran pengaruh ini, kemudian hadir persembahan dedikasi para mahasiswa dan mahasiswi tingkat akhir dalam skripsi mereka terhadap idol K-Pop atau karakter fiksi yang tampil sebagai pendirus motivasi mereka. Fenomena ini kian merevolusi fungsi lembar persembahan dari sempadan daftar nama formal menjadi narasi personal yang menawarkan raut ekspresi unik.Kemerebakan fenomena ini berangkat dari sejumlah faktor pendorong utama. Adanya digitalisasi repositori. Kenyamanan pengaksesan draf skripsi secara online menggelar karpet kemudahan bagi para mahasiswa dan mahasiswi guna mencermati deretan contoh kreatif yang berasal dari angkatan sebelumnya. Hal tersebut dapat menghamburkan mereka ke dalam pelukan inspirasi untuk menampilkan kreasi ekspresi mereka yang cerdas membaca keunikan.Selain itu tampaknya, tidak bisa termungkiri akan adanya sentuhan upaya humanisasi akademik. Terdapat kehendak di dada mereka untuk memandang skripsi dari sisi yang juga memiliki sisi yang manusiawi. Tentu saja, ia hadir bukan sekadar untuk menjadi beban (baca = tugas dan kewajiban) intelektual semata, melainkan juga merupakan perjuangan emosional penyusunnya. Dan, sebagai wujud dari perjuangan emosional, adalah absah-absah saja jika dirayakan oleh si penyusunnya.Terjadi PergeseranTelah terjadi pergeseran performa halaman persembahan skripsi, dari semula sekadar ungkapan terimakasih yang formal menjadi ruang ekspresi diri, kreativitas, bahkan menghalalkan ungkapan yang sarat dengan sentuhan humor.Bila dahulu dominasi subjek yang menerima pengalungan kalimat apresiasi persembahan hanyalah para dosen dan orang tua, maka kini para mahasiswa dan mahasiswi lebih berani menampilkan sisi personal dan terucap dengan gaya santai. Bahkan, ada sisi absurd yang mengintervensi.Ilustrasi penjelasan skripsi. Foto: Gemini 3 AIDalam tangkapan pandang konvensional, halaman persembahan skripsi pada mulanya merupakan bentuk apresiasi kepada pihak-pihak yang telah membantu para mahasiswa dan mahasiswi penyusun sehingga tugas pamungkas akademik jenjang strata 1 itu dapat menemukan bentuk finalnya. Akan tetapi, dalam realitas perkembangan selanjutnya telah mengalami pergeseran.Seperti telah saya singgung pada bagian awal tulisan ini, halaman persembahan itu dapat menjadi media apresiasi diri (self appreciation). Tidak sedikit para mahasiswa dan mahasiswi tingkat akhir, dewasa ini (fenomenanya sudah menunjukkan pemunculan sejak dekade 2010-an) menyertakan diri mereka sendiri sebagai subjek penerima persembahan. Isinya berkisar pada bentuk legitimasi pada hasil kerja keras individu masing-masing.Tidak jarang, halaman persembahan skripsi menjadi ajang “balas dendam” paling epik dan humoris setelah selama berbulan-bulan berada dalam bujuk rayu tekanan batin. Terdapat sejumlah contoh kalimat persembahan dengan gaya “balas dendam” yang justru menghamburkan impresi yang begitu kuyup dengan sisi nan manusiawi.Suatu proses bimbingan dari awal, jatuh bangun dengan cobaan berbagai revisi, lalu ada “belas kasihan acc” dari dosen pembimbing. Kemudian setelah menjalani sidang skripsi mesti mengarungi lagi samudra revisi mayor. Diminta ganti teori lagi. Kelok liku yang sedemikian menguras energi keprihatinan itu, tidak urung memberi efek yang begitu fantastis ketika pada akhirnya skripsi itu tuntas terselesaikan secara akademis.Oleh karena itu, tidak mengherankan jika persembahan apresiasi diri itu sedemikian menggelegak. Berterima kasih yang setinggi-tingginya kepada diri sendiri karena tidak mengeksekusi pilihan untuk drop out. Masih terkontrol dengan nada humor, kendati tak bisa termungkiri ada luka yang telanjur mencumbui hati.“Skripsi ini saya persembahkan untuk diri saya sendiri. Terima kasih karena sudah menjadi manusia tahan banting. Tidak gila meskipun revisi tiada ujung. Dan, tidak memutuskan untuk drop out dan memilih jualan seblak di pinggir jalan”.Atau, dengan ekspresi yang relatif lebih mengalami stilisasi majas eufemisme sehingga efek dramatisasinya begitu tampak lebih jinak sebagaimana termaktub pada kutipan: “Kepada saya sendiri. Terima kasih ya. Kamu hebat, sudah kuat menghadapi cobaan ini. Dipatahkan oleh tekanan, tapi akhirnya sampai di titik ini”.Begitu pula dengan ekspresi persembahan, “Terima kasih kepada diriku, karena sudah bertahan, berjuang, dan akhirnya skripsi ini selesai. Saya bangga dengan kamu”. Bisa jadi ini adalah ungkapan “balas dendam yang tidak terlalu menggebu-gebu”. Meskipun demikian, tetap terasa ada sentuhan “derita” yang menyetiai perjalanan proses.Tidak terkecuali dengan ekspresi apresiasi diri seperti ini: “Terima kasih untuk diriku sendiri karena telah mampu berusaha keras dan berjuang sejauh ini. Mampu mengendalikan diri dari berbagai tekanan. Ini merupakan pencapaian yang patut dibanggakan”. Suatu “kesumat dendam” tipis-tipis yang terucapkan dengan relatif hampir datar.Sementara itu, terdapat persembahan yang menyadarkan betapa soal penyusunan skripsi bukan hanya soal otak, melainkan juga mental. “Persembahan utama untuk diriku sendiri. Terima kasih sudah tidak menyerah di saat ingin berhenti. Terima kasih sudah tetap bangun meski kepala terasa berat. Dan, terima kasih telah bertahan menjadi manusia yang waras hingga titik terakhir ini. Kamu hebat”. Kalaupun ada “balas dendam”, nyaris tidak tampak. Teralingi dengan rasa syukur karena telah mampu melewati masa sulit.Satire HalusIlustrasi mengerjakan skripsi. Foto: Gemini 3 AIEksistensi dosen pembimbing dalam proses penyusunan skripsi sudah tentu menegaskan kehadirannya sebagai sosok yang begitu dominan menghiaskan warna pengaruh. Cara bimbingan yang berbeda, tak urung melengkapi dinamika pergerakan proses pencapaian dan bersangkut paut dengan tanggapan para mahasiswa dan mahasiswi manakala mereka memungkasi perjalanan bimbingan.Persembahan untuk dosen pembimbing dalam skripsi, biasanya merefleksikan bagaimana karakteristik cara pendampingannya terhadap para mahasiswa dan mahasiswi manakala mereka mengikuti tahapan demi tahapan. Kadang ada sisipan satire lembut dengan tetap menjunjung pemakaian bahasa yang santun. Namun, tidak menyirnakan impresi dari adanya jejak-jejak makna “perjuangan” yang sarat kelok liku.Proses revisi yang menguras tuntas energi pikiran dan perasaan tampaknya akan begitu sering mengisi celah persembahan itu. Misalnya yang terungkap melalui pengkalimatan: “Untuk Ibu Dr. Widyawati Nastiti, S.I.Kom., M.I. Kom. Terima kasih atas revisi ‘sedikit’ yang ternyata mengubah 90% isi skripsi saya. Tanpa tekanan Ibu, saya mungkin tidak akan mengerti arti kesabaran yang sesungguhnya”.Kepada dosen pembimbing yang begitu banyak memberikan masukan-masukan berharga dan signifikan pada bagian akhir tahapan proses bimbingan skripsi, hadir persembahan dengan satire halus tetap terawat dengan kesantunan ekspresi.“Teristimewa kepada Bapak Dr. Eka Budianta, S.I.P., M.I.P. Terima kasih atas masukan-masukan tidak terduganya di akhir proses bimbingan, sehingga memaksa saya merombak ulang isi skripsi ini. Bapak betul-betul menguji limit kemampuan berpikir saya.”Frekuensi revisi dalam proses bimbingan skripsi yang terlalu sering terjadi juga menempatkan para mahasiswa dan mahasiswi pada posisi yang tidak mudah. Satire lembut tidak dapat menutupi ungkapan kesadaran, bahwa proses melelahkan itu pada akhirnya berbuah manis pada hasil dengan kualitas yang optimal.“Persembahan spesial teruntuk Ibu Dr. Renita Wulandari, S.Si., M.Si. Terima kasih telah membantu saya menyempurnakan skripsi ini melalui puluhan kali revisi. Dengan demikian, saya akhirnya paham bahwa skripsi ini memang tidak ditakdirkan selesai dalam sekali jalan.”Ada pula dosen pembimbing yang mengolesi warna tahapan demi tahapan proses penyusunan skripsi dengan sifat bimbingan yang boleh terbilang relatif sangat santai. “Terima kasih kepada Bapak Dr. Wicaksana Setya, S.Hum., M.Hum. Berkat bimbingan beliau yang ‘tenang’ dan santai, saya akhirnya belajar untuk mandiri, tidak panik. Dan, bertahan dari rasa ingin menyerah selama berbulan-bulan.”Terhadap dosen yang kritis, satire halus dapat pula merasuk ke dalam persembahan skripsi. “Skripsi ini saya persembahkan untuk Ibu Dr. Setyawati Rakasiwi, S.T., M.T., yang selalu menuntut kesempurnaan. Terima kasih telah mencoret-coret draf saya hingga berwarna merah. Membuat skripsi ini jauh lebih tebal karena revisi daripada isi aslinya.”Benda Mati atau KebiasaanIlustrasi penjelasan isi dalam skripsi. Foto: Gemini 3 AIPersembahan skripsi ada yang ditujukan untuk benda mati yang terkait dengan kebiasaan si penyusun, seperti kopi, rokok, Netflix, kasur, atau gim. Benda-benda mati ini bisa jadi telah membantu kehadiran curah pendapat (brainstorming). Metode kreatif guna menghadirkan gagasan-gagasan baru. Merangsang kreativitas, kolaborasi, dan mengatasi tantangan dari pelbagai sudut pandang.Ketika penyusun skripsi hendak memberikan aksentuasi pada realitas proses perjuangan menyelesaikan yang begitu meletihkan pikiran dan perasaannya, dapat tertuang lewat ungkapan persembahan: “Untuk setiap cangkir kopi yang mendingin, tumpukan tisu yang basah, dan playlist lagu galau yang menemani malam-malam penuh revisi. Skripsi ini bukti bahwa air mata dan rasa lelah bisa berdamai juga dengan tekad kuat.”Kopi agaknya menjadi andalan banyak penyusun skripsi. Oleh karena itu, kopi menjadi benda mati yang begitu sering mendapatkan penyebutan dalam halaman persembahan. Seperti contoh lain “Skripsi ini saya persembahkan untuk kopi hitam yang setia menjaga kewarasan saat otak mulai nge-lag”.Atau, “Persembahan untuk kopi hitam yang menemani malam-malam tanpa tidur dan kuota internet yang rela habis demi mencari jurnal demi penyusunan skripsi ini”. Masih pula persembahan kepada kopi. "Skripsi ini saya persembahkan untuk kopi hitam tanpa gula yang setia menemani di pukul 2 dini hari, memberikan inspirasi saat otak buntu, dan membuat mata tetap terjaga”.Benda mati lainnya yang juga mendapat penyebutan dalam persembahan, yaitu kasur dan bantal. “Lembar persembahan ini, juga untuk kasur empuk dan bantal kesayangan. Terima kasih telah menyembuhkan punggung yang pegal dan menyediakan tempat istirahat sementara dari di tengah-tengah impitan rasa penat menghirup udara di dunia skripsi”.Obat nyamuk juga begitu membantu saat menghadapi serangan yang istikamah dari para nyamuk skripsweet saat fokus konsentrasi revisi. “Vape yang membantu menenangkan pikiran dan merangkai kata demi kata di Bab 4. Terima kasih sudah menjadi partner brainstorming terbaik”.Tayangan film di Netflix atau YouTube juga bisa masuk kategori benda mati. Sebab, sejatinya merupakan berkas digital (video dan audio) yang terdiri atas data bit dan byte. Data inilah yang disimpan di server dan di-streaming ke perangkat pengguna. Benda mati jenis ini pun disebutkan dalam halaman persembahan skripsi, biasanya dikaitkan dengan upaya penyegaran otak dari para mahasiswa dan mahasiswi penyusun skripsi.“Terima kasih banyak untuk Netflix, Youtube, dan Serial/Film yang menjadi pelarian sesaat, penyegar otak, dan sumber ide kreatif saat saya merasa stuck. Skripsi ini selesai berkat break nonton satu episode yang berujung maraton, tapi worth it.”Pendukung SistemIlustrasi penjelasan isi skripsi. Foto: Gemini 3 AILembar persembahan skripsi bisa juga untuk karakter fiksi yang menghadiahkan support system emosional. Ada nada inspiratif dan serius. Pilihan jatuh pada karakter fiksi dengan kepemilikan perjuangan hidup yang tinggi dan menyimpan kandungan filosofi nan mendalam.Sebagaimana tampak pada kutipan: “Skripsi ini saya persembahkan untuk Uzumaki Naruto (Naruto). Terima kasih telah mengajarkan, bahwa tekad kuat dan tidak pernah menarik kembali kata-kata adalah jalan ninja menuju kesuksesan. Prinsip ini telah membantu saya dapat bertahan selama revisi skripsi ini.”Contoh persembahan lain, “Skripsi ini didedikasikan untuk Hermione Granger (Harry Potter). Sosok yang membuktikan, bahwa pengetahuan, buku, dan pengabdian pada studi adalah senjata paling ampuh untuk menghadapi masalah serumit apa pun.”Terdapat pula persembahan kepada karakter fiksi dalam skripsi dengan nada santai dan sentuhan humor. Pilihan karakternya tentu yang humoris atau bisa menjadi “sahabat” yang menginspirasi manakala kejenuhan datang mampir sewaktu penyelesaian tugas pamungkas masih berproses dengan kelok liku.Hal itu dapat disimak dalam kutipan berikut. “Persembahan spesial untuk Tony Stark (Iron Man). Terima kasih sudah membuat saya percaya bahwa ‘I love you 3.000' juga berlaku untuk skripsi ini. Meskipun, pengerjaannya terasa seperti melawan Thanos.”Demikian pula dengan kutipan pendek persembahan ini: “Untuk SpongeBob SquarePants. Terima kasih atas optimismenya. I’m ready (untuk wisuda, tapi tidak untuk revisi lagi).”Selanjutnya untuk persembahan terhadap karakter fiksi dengan nada filosofis atau puitis. Pilihan karakternya adalah yang tenang atau mempunyai statemen-statemen fiksional yang bijak.Seperti, “Kupersembahkan untuk Iroh (Avatar The Last Airbender). Atas kebijaksanaannya yang mengingatkan saya untuk tetap tenang. Dan, mencari harapan di saat-saat tergelap. Termasuk saat berkas berkas skripsi tercecer”. Atau, “Untuk Albus Dumbledore. Karena skripsi ini membuktikan bahwa ‘It is our choices that show what we truly are far more than our abilities’.”Kemudian, kutipan persembahan untuk karakter fiksi dengan nada estetik yang minimalis tertuang dalam contoh: “Untuk Levi Ackerman (Attack on Titan). Dedicate your heart (and your thesis)”. Fokusnya terhadap ketahanan, pengorbanan, dan prinsip hidupnya yang menginspirasi ketika penyusun menyelesaikan skripsi sebagai karya ilmiah (thesis).Begitu pula dengan kutipan berikut: “Persembahan untuk Sherlock Holmes. Karena baginya, tidak ada masalah yang tidak bisa dipecahkan dengan logika”.Artis idola pun menjadi subjek yang menerima persembahan dalam skripsi. Seperti untuk K-Pop Idol: “Skripsi ini saya persembahkan untuk BTS (RM, Jin, Suga, J-Hope, Jimin, V, Jungkook). Terima kasih atas karya-karya dan lirik lagu kalian yang menjadi moodbooster. Serta, motivasi terbesar saya untuk pantang menyerah dalam menyelesaikan skripsi ini di saat jenuh melanda”.Demikian pula dengan persembahan, “Terima kasih banyak kepada Hwang Hyunjin dari Stray Kids, yang tingkah laku dan senyumnya selalu memberikan energi positif dan semangat baru bagi saya untuk menyelesaikan tugas akhir ini”.Artis penyanyi lokal juga kebagian persembahan: “Khusus untuk Tulus, terima kasih atas lagu-lagu menenangkan yang menemani malam-malam panjang pengerjaan revisi skripsi. Karya kalian adalah teman setia saya”.Pula dengan persembahan yang begitu sentimental: “Terima kasih IU (Lee Ji-eun), atas suaramu yang menjadi pelipur lara dan penyemangat saat skripsi ini terasa berat”.Masih terkait dengan support system sederhana, ada persembahan untuk hewan kesayangan yang turut membantu kesehatan mental. “Terima kasih untuk kucingku, Luna, yang selalu mengeong minta makan saat aku sedang pusing mencari teori. Mengingatkanku bahwa hidup harus tetap makan meski sedang revisi”.Ada pula yang memberikan persembahan untuk klub sepak bola idaman. Lebih mempertontonkan fanatisme sehat dan klub menjadi tempat pelarian positif. “Untuk Manchester United. Terima kasih, kemenangan kalian adalah kebahagiaan saya. Dan, perjuangan kalian di lapangan menjadi motivasi saya untuk menyelesaikan skripsi ini tepat waktu. Kalian adalah mood booster terbaik. Teman-teman suporter yang selalu berbagi semangat di tribune.”Ada pula dengan ungkapan yang lebih emosional. “Fútbol Club Barcelona, keluarga kedua saya. Terima kasih atas setiap momen di stadion yang membantu saya melepas penat dan mengisi kembali energi emosional. Skripsi ini saya persembahkan sebagai salah satu bentuk kebanggaan saya pada kalian.”Gabungan idola dan klub sepak bola. “Untuk Iqbaal Ramadhan, terima kasih untuk playlist yang menemani malam-malam revisi. Teruntuk Liverpool FC, terima kasih atas semangat pantang menyerah yang kalian tunjukkan. Menyadarkan saya bahwa skripsi ini harus tuntas seperti kalian menuntaskan laga”.Persembahan dalam skripsi ada kalanya diberikan kepada Ibu Kantin dan Mas Owner Kafe. “Terima kasih untuk Ibu Kantin yang sudah memberikan utang mi instan saat tanggal tua. Serta, Mas Owner Kafe Kopi Senja yang berkat fasilitas Wi-Fi kencangnya mendukung saya mengerjakan skripsi dari awal hingga akhir”.Tak ketinggalan, tukang ojek online dan kurir paket, juga menjadi subjek yang memperoleh persembahan. “Terima kasih untuk tukang ojek online yang sering mengantar saya bolak-balik ke perpustakaan kampus pada saat-saat kritis. Dan, juga untuk kurir paket yang mengantar bahan skripsi tepat waktu”.Kreativitas persembahan yang mengarah pada mereka yang mendukung dinamika proses penyusunan skripsi juga bisa merambah ke teman-teman satu indekos. “Persembahan ini khusus untuk teman-teman indekos yang ikhlas meminjamkan charger dan sekaligus laptopnya. Kalian benar sungguh pahlawan tanpa tanda jasa."Tidak terlewatkan, bagi mereka yang menge-print bab demi bab hasil bimbingan skripsi dengan memanfaatkan jasa petugas di tempat persewaan (rental) komputer dan mesin printer, arah persembahannya pun ada yang menuju ke sana. “Untuk Mbak Cantik di tempat rental komputer dan mesin printer yang menjadi langganan. Terima kasih sudah menerima berkas print-print-nan saya dengan sabar di pagi hari. Meski tahu saya akan kembali lagi sorenya dengan revisi baru."Dan, yang bisa jadi agak membuat kita garuk-garuk kepala, kok ya masih ada yang seumuran mahasiswa atau mahasiswi (semester tua pula) yang masih memiliki sosok idola imajiner. “Khusus untuk ‘Bang Hero-Ku’ yang selalu hadir walau hanya di dalam doa dan imajinasi. Terima kasih telah memberikan kekuatan tak terlihat selama proses pengerjaan skripsi ini.”Puisi atau PantunVariasi lain persembahan dalam skripsi adalah penggunaan puisi atau pantun. Dibandingkan dengan ungkapan persembahan secara prosais, relatif jauh dari kriteria dominan. Pilihan ekspresi lewat puisi atau pantun memang cenderung menjadi kemantapan sebagian kecil dari para mahasiswa atau mahasiswi sebagai wujud kreativitas, estetika, dan ungkapan perasaan yang lebih menukik ke dimensi kedalaman.Untuk menegaskan sentuhan yang lebih personal, ketetapan langkah realisasi bisa mewujud lewat puisi. Cocok untuk orang tua atau orang terkasih:Kepada Mama dan PapaDi tiap tetes keringat Papa dan Mama, selalu ada doa yang mengalirDi tiap sujud malam kalian, namaku tak pernah henti terlafazkanKarya sederhana ini wujud baktikuTerlalu kecil untuk dibandingkan dengan kasih sayang Papa dan MamaTerima kasih atas kesabaran yang tak pernah habisKupersembahkan skripsi ini untuk kalianJuga, almamater tercintaAtau, tertuang ke dalam larik demi larik yang begitu emosional berikut:Langkah kaki ini lebih sering tertatihRasa jenuh hampir menggodaku untuk menyerahNamun berkat doa dan motivasi Ayah Bunda, aku memilih tuk berjuangTeruntuk kedua pelita hatiku,karya kecil ini kupersembahkan,sebagai awal langkah perjalananmemaknai kehidupanPantun pun menjadi media untuk menyampaikan ekspresi persembahan. Kesan yang timbul, lebih santai, unik, tanpa mendistorsi keutuhan maknanya.Pergi ke pasar membeli buku,Buku dibaca di bawah tenda.Terima kasih Ayah dan Ibu,Skripsi selesai, ananda wisuda.Atau lagi,Makan durian di Kota Medan,Durian dimakan dengan sahabat.Lelah susun skripsi tiada terhindarkan,Selesai kini, rasa lega pun membebat.Biasanya, selain persembahan pantun terdapat ucapan tambahan di luar bagian tersebut. Seperti pada pantun pertama, ada imbuhan di bawahnya “Karya ini spesial untuk kalian yang senantiasa mendoakan”. Sementara itu, untuk pantun kedua, terdapat tambahan keterangan “Terima kasih kepada keluarga, dosen, dan sahabat yang selalu mendukung”.Berbicara tentang persembahan dengan puisi, sebenarnya fenomena ini sudah ada sejak lama. Adalah Mohamad Jokomono, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Negeri Semarang (sekarang Universitas Negeri Semarang).Dalam skripsinya yang bertajuk “Dialog sebagai Penanda Kelas Sosial Tokoh-Tokoh dalam Novel ‘Senja di Jakarta’: Suatu Analisis Struktur Naratif dan Stilistika” (1998) pada lembar persembahan dia menulis:Sembah Pangabekti untukYang Terkasih Swargi Ramandadan Yang Terkasih Ibundasend my message to hergoddess of hope, and then saythat this cripple of vitalityreally miss her smilesend my soul to her, tooas a sacrifice in the holy ceremonyfor getting away fromthe disturbance of the naughty failureto the wind, I take a helpPuisi tersebut merupakan karya dia sendiri dan beruntung mendapat kesempatan pemuatan di Majalah Berbahasa Inggris Hello pada Edisi Nomor 138/May 1997. Bisa jadi, kalau mendapatkan konversi menurut versi konsep humanisasi skripsi dewasa ini, setara dengan pengucapan dalam bentuk tidak langsung persembahan untuk apresiasi diri.Ekspresi Persembahan LainEkspresi lain dalam persembahan skripsi dapat terasakan dari adanya deskripsi dialog. Ada yang menyapa Tuhan lewat kalimat: “Tuhan, terima kasih sudah memberikan saya kekuatan untuk menyelesaikan beban hidup, maksud saya skripsi, ini.”Ada yang isinya begitu jujur menceritakan penderitaan selama proses penyusunan skripsi. “Skripsi ini saya persembahkan untuk kedua orang tua, yang selalu bertanya 'Kapan wisuda?'. Ma, Pa, ini buktinya. Tolong jangan tanya itu lagi ya.”Memadukan persembahan untuk benda mati, kasur di kamar indekos, dan pihak pendukung, Ibu Kantin. Ada kejujuran yang berbalut kejenakaan. “Skripsi ini dipersembahkan untuk kasur indekosan yang sangat pengertian saat saya butuh melarikan diri sejenak dari kenyataan. Dan, untuk Ibu Kantin yang gorengannya selalu menjadi bahan bakar otak saya setiap sore. Tanpa asupan karbohidrat, skripsi ini mungkin hanya tinggal mimpi”.Bentuk ekspresi persembahan yang lain, juga terucapkan dengan gambaran hubungan yang hangat dan bukan sekadar formalitas. “Untuk Bapak dan Ibu, yang mungkin tidak mengerti apa isi Bab 3 dan Bab 4 skripsi ini, tapi selalu mengerti saat suaraku terdengar sedih di telepon. Doa-doa panjenengan berdua adalah variabel paling signifikan dalam keberhasilanku.”Lingkungan PersahabatanSeusai sidang skripsi Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Undip Semarang, Senin (16/3/2026). Foto: Dokumentasi pribadiTermasuk juga menjadi catatan yang sayang untuk terlewatkan begitu saja, yaitu persembahan untuk sejumlah lingkungan persahabatan. Untuk contohnya, saya mengambil dari naskah skripsi Fauzan Haidar Ramadan, mahasiswa Semester VIII Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Diponegoro Semarang.Pada Senin (16/3/2026) lalu, dia sukses melewati sidang skripsi dengan revisi minor untuk karya akademik S-1 di bawah judul “Partisipasi Pemilih Disabilitas pada Penyelenggaraan Pemilihan Umum di Kota Semarang (Studi Komparasi Pemilihan Umum 2019 dan 2024)”. Dalam skripsi setebal 272 halaman (termasuk lampiran) itu, dia memberi persembahan kepada enam lingkungan persahabatan. Menurut rencana, wisudanya akan berlangsung pada 27 April 2026 mendatang.Pertama, ucapan terima kasih untuk teman-teman satu Rukun Tetangga di wilayah rumah tinggalnya: “Sedulur Kaum Santuy 08: Rasyid, Hatta, Dhaka, Gilang, Ilham, dan Ekel yang sudah menjadi konco-konco yang seru, asyik, dan menyenangkan. Semoga selalu untuk dulur sekalian, dapat membanggakan kedua orang tua masing-masing”.Kedua, untuk teman-teman yang dia kenal mulai saat awal kuliah. “Teman-teman Keluarga Cendana yang menjadi teman-teman pertamaku di dunia perkuliahan ini. Makasih untuk Rayhan, Rozaq, Rendra, Aufa, Prass, Zakiya, Tia, Elsa, Risma, Salsa, Intan, Putri”.Ketiga, untuk teman-teman yang sehobi naik gunung. “Grup Lawu Cerah yang telah menjadi bagian dalam mengeksplor negeri ini. Terima kasih teruntuk Lily, Rizka, Zenny, Rofi, Hatta, dan Rasyid karena sudah memberikan pengalaman berharga. Setiap kilometer, setiap agenda jalan-jalan menjadi satu dari sekian hal yang membuat rindu nantinya”.Keempat, untuk teman-teman Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Opini, dia menulis, “Para Penggembala Opini: Aul, Natali, Risa, Aisyah, Ayu, Tarisha, Bila, Agatha, Lita, Ania, Amira, Jessica, dan Novinda. Terima kasih kawan-kawan seperjuangan di LPM Opini yang telah menemani berorganisasi, belajar, dan bertumbuh bersama. Kudoakan kalian semua menjadi orang-orang yang bermanfaat bagi bangsa ini”.Kelima, kepada teman-temannya di Ekspedisi Patriot saat bertugas di Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, dia menulis: “Keluarga hangat Ekspedisi Patriot: Bang Aul, Kak Airin, Mas Asyam, Eli, Mas Alvin, Kak Sania, dan Almira yang telah menjadi keluarga yang menemani selama jauh dari kampung halaman. Banyak sekali ilmu dan pengalaman yang amat sangat berharga yang saya dapatkan”.Keenam, kepada teman-teman sesama bimbingan dosen yang sama, dia menulis: “Anak-anak bimbingan Pak NHS (Dr. Nur Hidayat Sardini, S.Sos., S.H., M.Si), kawan-kawan seperjuangan. Terima kasih kepada Rendra, Amira, Ania, Vania, Rizka, Intan, Fajrul, Dhito, Sofia, Difa, Jilan, dan Mas Razan. Doa selalu teriring untuk kalian agar menjadi orang-orang yang sukses”.Persembahan skripsi untuk lingkungan persahabatan dari si penyusun skripsi, kiranya dapat lebih mengaksentuasikan sisi manusiawinya. Meskipun yang bersangkutan tidak mempertontonkan diri sebagai subjek penderita dalam perjalanan proses, keramahannya memberikan tempat di momen terpenting dalam jejak langkah hidupnya, tak dapat termungkiri sebagai sisi yang manusiawi pula.Humanisasi Karya IlmiahIlustrasi memegang skripsi. Foto: Gemini 3 AIBegitulah, halaman persembahan dalam skripsi dapat mencairkan kekakuan ilmiah. Sekaligus menunjukkan, para mahasiswa dan mahasiswi mempunyai emosi dan selera humor. Mereka bukan mesin pencari data. Ada kenangan personal yang tersimpan di dalamnya. Dengan demikian lebih berkesan secara emosional di masa depan.Adanya fenomena persembahan yang lain daripada yang lain menjadi penanda humanisasi karya ilmiah yang mewujud sebagai realisasi pada bagian pamungkas proses pada tiap strata studi. Dan, bagi banyak di antara mahasiswa dan mahasiswi menempatkannya dalam anggapan sebagai sebuah perjuangan personal yang bersimbah emosional. Bukan hanya tugas akademik semata.Konsep “humanisasi karya ilmiah” dalam halaman persembahan skripsi, merujuk pada upaya untuk menghadirkan sisi kemanusiaan, emosi, dan realitas hidup para mahasiswa dan mahasiswi penyusunnya di balik jalur epistemologi, metodologi, dan aksiologi yang penuh penegakan disiplin keilmuan.Dalam pandangan yang sudah menyebar luas kemapanannya, skripsi adalah produk intelektual yang dingin, objektif, dan mekanis. Akan tetapi, halaman persembahan yang unik mendobrak hal itu melalui pengakuan akan kerentanan (vulnerability) diri pada saat proses penyusunan skripsi sebagai salah satu karya ilmiah.Hasil akhir yang setidaknya menyentuh batas minimal dari raut kesempurnaan suatu karya ilmiah. Dengan mengungkap secara jujur lewat persembahan, bahwa dalam proses penjadiannya ada kecanuk perlawanan menghadapi depresi. Ada rasa malas yang menyeruak. Hingga di puncaknya ada isak tangis yang membisiki senyap malam. Ini menunjukkan bahwa para mahasiswa dan mahasiswi hanyalah manusia biasa yang kadang tidak kuasa menanggapi godaan sentimentalitas.Humanisasi karya ilmiah menjadi warna yang mempersonal manakala para mahasiswa dan mahasiswi membawa elemen kehidupan sehari-hari ke dalam dokumen formal. Cara mereka “membumikan” skripsi, antara lain dengan memberikan persembahan untuk kopi, kucing piaraan, atau idola K-Pop dan yang lain. Ini menegaskan bahwa secara eksistensial ilmu pengetahuan tidak lahir dari ruang hampa. Akan tetapi, ia tumbuh bersamaan dengan kebutuhan akan penyaluran hobi, hiburan, dan kenyamanan personal.Etika penulisan ilmiah sering menghindari penggunaan pronomina orang pertama tunggal “saya” atau “aku”. Dan, cenderung disulihi dengan “penulis” atau “peneliti”. Halaman persembahan dalam skripsi menjadi sedikit ruang tempat sang penyusun menghadirkan diri sebagai individu seutuhnya. Ucapan terima kasih terhadap diri sendiri merupakan bentuk apresiasi terhadap ketangguhan mental. Realitas yang kerap terabaikan dalam sistem pendidikan yang menuntut adanya kompetisi ketat.Selipan humor, satire lembut, gaya bahasa santai tapi tetap menjaga kesantunan, dalam halaman persembahan, seolah menempatkan para mahasiswa dan mahasiswi berada dalam posisi sedang menorehkan “warna humanisasi” di tengah atmosfer objektivitas gaya penulisan akademis. Hal ini mendesain kedekatan emosional antara penulis dan pembaca.Skripsi menjadi bukan lagi sempadan bendelan kertas yang terjilid dengan hard cover yang menumpuk bersama debu-debu di perpustakaan. Melainkan bisa menjadi cerita hidup dan orang lain bisa turut merasakannya. Pendek kata, humanisasi merupakan deklarasi bahwa di belakang data valid dan tabel akurat yang tersaji serta teori dengan jelajah kerumitannya, masih ada manusia yang berjuang, kadang merasa cemas, dan berusaha untuk tidak menyerah.Resistensi SimbolikTerdapat sejumlah hal menarik di balik fenomena humanisasi melalui halaman persembahan dalam skripsi. Menurut perspektif sosiologis dan psikologis, fenomena ini tidak bisa mendapatkan tudingan sebagai sekadar tren kelucuan belaka. Akan tetapi, bisa pula mengandung makna yang sungguh-sungguh.Sebagai “produk pemikiran ilmiah”, skripsi tidak jarang mendapat sudut pandang sebagai entitas karya akademis yang sedemikian menuhankan objektivitas. Dengan menyisipkan ekspresi persembahan yang sangat personal, para mahasiswa dan mahasiswi penyusun skripsi itu sedang melakukan resistensi simbolik.Dengan bahasa yang lugas, mereka seolah hendak memproklamasikan sikap, bahwa standar penulisan ilmiah boleh saja mengatur isi Bab 1 hingga Bab 5 (ada program studi yang rentang penyusunannya hingga Bab 4). Akan tetapi, untuk halaman persembahan, mereka adalah manusia merdeka yang bebas mengekspresikan sisi personalnya.Mempersembahkan ucapan terima kasih untuk mi instan atau penjual kopi di angkringan nasi kucing merupakan bentuk mekanisme koping (coping mechaniam). Suatu strategi mental dan perilaku untuk mengelola stres, emosi negatif, dan situasi sulit.Hal ini turut mendukung para mahasiswa dan mahasiswi mereduksi trauma selama proses penelitian berlangsung. Dengan mengakrobatikkan humor saat mendeskripsikan kesulitan selama berproses di halaman persembahan, mereka sukses “menjinakkan” keliaran beban mental yang mereka tanggung selam berbulan-bulan.Pada masa lalu, persembahan apresiatif hanya untuk Tuhan, orang tua, dan dosen. Jadi berorientasi secara vertikal formal. Kini ada pergeseran ke apresiasi diri. Hal menarik, muncul kesadaran kolektif, bahwa “bertahan hidup” dan “menjaga kewarasan” merupakan suatu hasil capaian yang nilainya sama besar dengan kelulusan.Dan, hal yang juga menarik, skripsi bisa menjadi “arsip kehidupan”. Fenomena humanisasi menjadikan skripsi mendekap erat penyusunnya dengan nilai sentimental yang sedemikian kuat. Manakala puluhan tahun ke depan, mereka membuka skripsi sendiri. Sangat bisa jadi mereka tidak lagi ingat detail isi Bab 3. Akan tetapi, mereka akan lebih mudah untuk tersenyum, tatkala membaca nama kucing kesayangan atau hobi yang pernah menyelamatkan mereka dari keinginan untuk menyerah.