NPD yang Hobi Perang

Wait 5 sec.

Deretan Presiden Amerika Serikat yang terlibat dalam berbagai konflik global di era modern. (ilustrasi pribadi: tph)Amerika Serikat hobi sekali menyebut dirinya penjaga perdamaian dunia. Di podium internasional, mereka terdengar seperti pahlawan: pembela demokrasi, pelindung kebebasan, penegak hukum global. Sebuah negara yang katanya selalu berada di sisi yang benar. Masalahnya satu: dunia tidak pernah damai sejak Amerika mengambil peran itu.Mari kita tinggalkan retorika, dan lihat rekam jejaknya. Dalam dua dekade terakhir saja, Amerika terlibat dalam berbagai operasi militer di Afghanistan, Irak, Libya, Nigeria, Pakistan, Somalia, Suriah, Yaman, Venezuela, hingga Iran. Dan ini bukan kebijakan satu presiden "agresif". Dari George W. Bush ke Barack Obama, lanjut ke Donald Trump, hingga Joe Biden, dan kembali lagi ke Trump polanya sama: Amerika selalu hadir, Amerika selalu ikut campur. Jadi ini bukan soal siapa yang memimpin, melainkan bagaimana Amerika melihat dirinya sendiri: sebagai pihak yang paling berhak menentukan nasib dunia.Invasi ke Afghanistan yang dilancarkan pada 2001 dan berlangsung selama 20 tahun, menghabiskan ribuan nyawa dan triliunan dolar. Narasinya jelas: perang melawan terorisme sebagai respon atas peristiwa 9/11. Tetapi seperti banyak perang lainnya, publik tidak pernah benar-benar disuguhi transparansi penuh sejak awal. Hasil akhirnya? Taliban kembali berkuasa. Dua dekade perang, kembali ke titik awal. Seolah perang itu hanya jeda, bukan solusi. Terlepas dari berbagai perdebatan dan spekulasi yang terus muncul soal 9/11, satu hal yang jelas: tragedi itu dijadikan legitimasi bagi Amerika untuk melancarkan perang global yang dampaknya jauh melampaui peristiwa itu sendiri.Irak bahkan lebih kacau lagi. Invasi yang dimulai pada Maret 2003 dijustifikasi dengan tuduhan adanya senjata pemusnah massal. Dunia digiring untuk percaya bahwa Irak adalah ancaman global. Namun setelah negara itu dihancurkan dan Saddam Hussein dihukum mati, senjata yang dituduhkan itu tidak pernah ditemukan. Tidak ada. Nol. Tidak ada pula investigasi terhadap situasi yang sangat kental dengan atmosfer kejahatan perang. Kebohongan Amerika telah menyisakan Irak yang hancur, konflik sektarian, dan lahirnya ekstremisme baru.Libya pun bernasib sama. Setelah operasi militer yang didukung Amerika menjatuhkan Muammar Gaddafi, negara itu tidak berubah dengan demokrasi stabil, melainkan menjadi wilayah tanpa kendali yang dipenuhi milisi dan konflik. Di Pakistan, Somalia, Suriah, dan Yaman, serangan drone dilakukan rutin dengan dalih memburu teroris, tetapi sering kali juga menimbulkan korban sipil, memperpanjang kebencian, dan memperdalam konflik.Lalu Venezuela. Dengan entengnya Amerika mengklaim memiliki hak untuk menangkap kepala negara berdaulat seperti Nicols Maduro dengan dalih perang terhadap narkoba. Sejak kapan satu negara bisa mengadili pemimpin negara lain di wilayahnya sendiri? Ini bukan lagi soal hukum internasional, ini soal klaim kekuasaan yang melampaui batas kedaulatan.Iran? Polanya sama. Di bawah Donald Trump, ancaman perang dibangun dengan narasi bahwa Iran akan menyerang lebih dulu. Namun bahkan di dalam Amerika sendiri, klaim ini diperdebatkan. Tak sedikit pihak di dalam negeri Amerika mempertanyakan dasar intelijennya. Artinya, alasan perang pun tidak selalu solid bahkan di rumahnya sendiri. Penuh dengan tendensi dan rekayasa.Amerika Serikat konsisten terlibat dalam berbagai konflik global (ilustrasi pribadi: tph)Kalau semua kelakuan Amerika itu disebut "menyelesaikan masalah", maka dunia punya definisi yang sangat aneh tentang solusi. Karena jika kita tarik lebih jauh ke belakang, pola ini bukan hal baru. Dari perang Vietnam, perang Korea, hingga berbagai intervensi di Panama, Grenada, Bosnia, dan Kosovo, polanya konsisten: Amerika datang seolah punya alasan mulia untuk mendikte dan merusak negara lain, lalu pergi meninggalkan masalah yang lebih kompleks. Amerika adalah satu-satunya negara dalam sejarah modern yang begitu sering berperang di luar wilayahnya sendiri. Sepertinya perang adalah bentuk candu yang menghasilkan dopamine bagi Amerika. Candu yang lebih mirip utang emosional yang tidak waras.Kecanduan Amerika akan superioritas dan perang bukanlah spontanitas. Amerika dengan kesadaran penuh membangunnya secara strategis dan sistematis. Amerika bukan hanya kuat, tetapi dibangun untuk selalu siap berperang. Sekitar 800 pangkalan militer tersebar di lebih dari 70 negara, dengan anggaran militer yang mencapai lebih dari 800 miliar dolar per tahun. Ini bukan sekadar pertahanan, melainkan arsitektur dominasi global. Dengan jaringan sebesar itu, Amerika tidak perlu menunggu konflik datang; mereka bisa hadir kapan saja, di mana saja. Dan ketika semua alat itu tersedia, pertanyaannya bukan lagi apakah akan digunakan, tetapi kapan digunakan lagi. Amerika bukan sedang membangun perdamaian, tetapi bersiap untuk perang setiap saat.Sejarah perang terbuka Amerika sangat panjang. Perang diam-diamnya lebih panjang lagi. Melalui CIA, Amerika tidak selalu perlu mengirim tentara. Cukup mengganti rezim, membiayai kelompok tertentu, atau menciptakan tekanan dari dalam. Skandal Iran--Contra Affair di era Ronald Reagan menjadi contoh telanjang bagaimana Amerika menjual senjata ke negara yang disebut musuh, lalu menggunakan uangnya untuk membiayai perang di negara lain. Jika itu belum cukup, berbagai investigasi juga pernah mengaitkan operasi semacam ini dengan jalur perdagangan narkoba di Amerika Latin untuk mendanai perang bayangan. Indonesia juga termasuk yang pernah merasakan campur tangan CIA dalam sejumlah momen sejarah. Perdebatan soal ini memang belum selesai, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa perang modern tidak selalu diumumkan, namun kadang disembunyikan. Dan Amerika adalah negara yang memilki kompetensi intelijen terniat dalam kapasitas mencampuri urusan negara lain.Semua rangkaian intervensi superior Amerika kerap disusupi pesan moral yang terkesan paling tinggi dan elit. Sungguh mengganggu. Amerika berbicara tentang hukum internasional, demokrasi, dan hak asasi manusia, tetapi dalam praktiknya semua itu sering bersifat selektif. Yang sejalan dilindungi, yang melawan ditekan, dan yang netral dipaksa memilih. Dalam posisi ini, Amerika bukan lagi polisi, melainkan pemain utama yang sekaligus mengatur permainan. Kemunafikan tingkat global yang kelompok elitisnya diisi oleh Amerika dan para sekutu baratnya di NATO. Sementara PBB hanya menjadi forum boneka dan etelase kemenangan Perang Dunia II.Tidak hanya perkara moral yang kebablasan merasa paling benar. Amerika juga kontradiktif. Di bawah Donald Trump, Amerika terus menggencarkan kampanye "Make America Great Again (MAGA)". Sebuah slogan nasionalisme yang sah saja untuk digencarkan sebuah negara. Namun seharusnya berfokus pada pembenahan domestik: ekonomi, industri, kesejahteraan rakyat. Tapi dalam praktiknya, energi MAGA justru sering diproyeksikan keluar, dalam bentuk tekanan, ancaman, bahkan konflik. Seolah-olah kebesaran Amerika harus dibuktikan bukan dari dalam, tetapi dari kemampuannya menunjukkan superioritas ke luar.Pada titik ini, istilah NPD (Narcissistic Personality Disorder) menjadi metafora yang terasa relevan. Bukan sebagai diagnosis klinis, tetapi sebagai gambaran perilaku: merasa paling benar, merasa paling berhak, dan sulit menerima bahwa dunia tidak selalu harus tunduk.Dan mungkin di situlah inti masalahnya. Karena selama satu negara merasa dirinya adalah standar kebenaran, maka setiap perbedaan akan terlihat sebagai ancaman. Dan setiap ancaman akan selalu punya satu "solusi" yang sama: intervensi.Jadi pertanyaannya bukan lagi apakah Amerika membawa perdamaian. Pertanyaannya jauh lebih sederhana, dan jauh lebih jujur: berapa banyak konflik di dunia yang tidak akan pernah terjad, jika Amerika tidak ikut campur? Jika tujuan utamanya adalah perdamaian, mengapa hasilnya justru konflik yang tak pernah berhenti? Mengapa dalam begitu banyak perang besar, Amerika hampir selalu ada di dalamnya? Ini bukan sekadar soal kebijakan atau presiden, melainkan cara pandang, bahwa satu negara merasa dirinya paling benar, paling kuat, dan paling berhak menentukan arah dunia. Dan selama cara pandang itu masih hidup, dunia mungkin tidak akan pernah benar-benar tenang. Karena yang kita lihat bukan sekadar negara yang menjaga perdamaian, melainkan kekuatan besar yang terlalu sering mendefinisikan perdamaian melalui perang.Perdamaian yang dijual. Namun perang yang dikirim oleh Amerika, si NPD yang doyan perang.