Gambar 1 Kesempatan berkelompok, Sumber: Unplash.com Di era media sosial, kebenaran sering kali tidak lagi ditentukan oleh bukti, melainkan oleh seberapa banyak orang yang mempercayainya. Ketika sebuah opini menjadi viral, mendapatkan ribuan dukungan, dan terus diulang di berbagai platform, ia seolah memperoleh status sebagai “fakta kebenaran”. Namun, benarkah demikian?Secara sederhana, konsensus dapat dipahami sebagai kesepakatan yang dicapai oleh sekelompok orang terhadap suatu pendapat atau keputusan. Konsensus biasanya muncul dari proses diskusi, pertukaran ide, atau bahkan sekadar pengulangan opini yang sama dalam ruang publik. Sementara itu, kebenaran dalam perspektif logika ilmiah merujuk pada sesuatu yang didukung oleh bukti, data, serta penalaran yang dapat diuji. Kebenaran tidak bergantung pada seberapa banyak orang yang mempercayainya, tetapi pada seberapa kuat dasar logis dan empiris yang mendukungnya.Dan terdapat konsep rasionalitas kolektif, yaitu kemampuan suatu kelompok dalam menghasilkan keputusan atau kesimpulan melalui proses berpikir yang logis dan berbasis pertimbangan bersama. Secara ideal, rasionalitas kolektif terjadi ketika berbagai sudut pandang dipertimbangkan secara kritis sehingga keputusan yang dihasilkan menjadi lebih matang dan tidak asal-asalan. Dalam kondisi ini, konsensus dapat mendekati kebenaran karena dibangun melalui proses penalaran yang sehat.Namun, realitas sering kali tidak berjalan demikian. Konsensus yang terbentuk di ruang publik, khususnya di media sosial, tidak selalu lahir dari proses berpikir yang rasional. Sebaliknya, ia kerap dipengaruhi oleh emosi, tekanan sosial, serta kecenderungan untuk mengikuti pendapat mayoritas. Ketika banyak orang mengulang opini yang sama, kesepakatan dapat terbentuk dengan cepat, meskipun dasar faktanya lemah.Tekanan sosial dan kecenderungan mengikuti mayoritas sering memengaruhi keputusan kelompok. Banyak individu yang menyetujui opini mayoritas tanpa memeriksa fakta, sehingga konsensus bisa terbentuk lebih karena pengaruh sosial daripada kekuatan logika. Ini sering kali diperparah oleh mekanisme media sosial yang menampilkan konten serupa dengan preferensi pengguna. Akibatnya, opini dominan dapat berkembang menjadi konsensus sosial meskipun belum diverifikasi kebenarannya. Bahkan, opini publik yang berkembang di media sosial dapat memengaruhi pengambilan keputusan di ranah yang lebih serius, termasuk proses hukum, di mana tekanan opini mayoritas bisa mendahului fakta.Gambar 2 Pendapat banyak orang belum tentu fakta kebenaran. Sumber: Unplash.comPenelitian mengenai perilaku pengguna media sosial menunjukkan bahwa banyak individu menyebarkan informasi tanpa membuktikan kebenarannya terlebih dahulu. Informasi yang menarik secara emosional lebih mudah dipercaya dan dibagikan. Akibatnya, opini yang lemah secara fakta dapat berkembang menjadi konsensus yang kuat secara sosial. Ketika hal ini terjadi, kebenaran tidak lagi ditentukan oleh bukti, melainkan oleh popularitas.Dilema ini semakin terasa dengan adanya media sosial yang membentuk opini publik dan memengaruhi persepsi masyarakat terhadap suatu opini. Intensitas penyebaran informasi serta framing tertentu dapat mengarahkan cara berpikir kolektif, sehingga opini yang dominan dapat dengan cepat berkembang menjadi kesepakatan bersama meskipun belum tentu berbasis fakta. Hal ini menunjukkan bahwa konsensus sosial dapat terbentuk lebih karena pengulangan dan eksposur, bukan karena kekuatan argumen.Dalam perspektif logika penyelidikan ilmiah, kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah orang yang percaya, melainkan oleh kekuatan bukti dan argumentasi. Menganggap sesuatu benar hanya karena banyak yang menyetujuinya atau sekedar ikut-ikutan merupakan bentuk kekeliruan berpikir. Oleh karena itu, penting untuk membedakan antara kesepakatan sosial dan kebenaran yang berbasis logika.Konsensus tetap penting sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan bersama. Setiap orang perlu berpikir kritis, memeriksa sumber informasi, dan menolak ikut-ikutan tanpa analisis. Namun, konsensus hanya dapat dianggap rasional jika dibangun melalui diskusi yang terbuka, pertimbangan bukti, serta kesiapan untuk mengoreksi kesalahan. Tanpa itu semua, konsensus berisiko menjadi ilusi kolektif yang menjauh dari kebenaran.Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa konsensus mayoritas tidak selalu sejalan dengan kebenaran. Popularitas opini atau jumlah pendukung bukan ukuran validitas suatu keputusan kelompok. Baru bisa dianggap rasional jika didukung oleh bukti, logika, dan diskusi kritis. Rasionalitas kolektif bukan sesuatu yang otomatis muncul hanya karena banyak orang terlibat. Sebaliknya, ia membutuhkan mekanisme evaluasi yang terbuka, pertukaran argumen yang sehat, serta kesediaan untuk memperbaiki kesalahan.Fenomena media sosial yang menampilkan konten serupa memperkuat persepsi kelompok, sehingga konsensus sering terbentuk karena tekanan sosial atau pengulangan informasi atau algoritma konten yang terus ditampilkan daripada kekuatan fakta suatu argumen. Individu perlu berperan aktif dalam mempertanyakan dan memverifikasi informasi, agar keputusan yang diambil tidak sekadar mengikuti mayoritas, tetapi benar-benar logis dan berbasis bukti.Dengan memahami dilema antara konsensus dan kebenaran, kita diingatkan untuk tidak pasif dalam menerima opini publik, melainkan berpikir kritis, analisis, mengingatkan kesadaran terkait bagaimana bersosial media, menanggapi informasi dan mandiri. Dalam dunia yang semakin bersinambungan, kemampuan menilai informasi secara objektif menjadi kunci untuk menjaga rasionalitas, baik secara pribadi maupun kolektif. Pada akhirnya, kebenaran tetap berada di luar popularitas, dan rasionalitas kolektif hanya tercapai ketika diskusi, bukti, dan logika menjadi dasar pengambilan keputusan.“Mayoritas mungkin setuju, tapi itu belum tentu benar. Hanya pemikiran kritislah yang bisa menyingkap kebenaran.”