Harga Minyak Sempat Turun di Bawah USD 100/Barel, Tapi Pasar Masih Wait and See

Wait 5 sec.

Ilusrasi Kilang Minyak Iran. Foto: GreenOak/ShutterstockHarga minyak mentah dunia sempat turun ke level di bawah USD 100 per barel pada penutupan perdagangan Senin (24/3) akibat residen Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda serangan ke Iran. Meski demikian, saat ini kondisi pasar disebut masih wait and see.Pengamat energi, Bisman Bakhtiar menilai respons pasar yang wait and see didasarkan pada masih adanya keraguan terhadap situasi di kawasan Timur Tengah akibat perang AS-Israel terhadap Iran.“Pasar masih akan wait and see karena ada fase ketidakpastian dan keraguan sampai ada kepastian kalau pasokan benar-benar akan lancar lagi dan tidak ada ancaman gangguan,” kata Bisman kepada kumparan, Senin (25/3).Adapun pada per Rabu (25/3), Brent memangkas kenaikan sebelumnya menjadi 0,13 persen dari sesi sebelumnya menjadi USD 100,07 pada pukul 16.59 ET (2259 GMT). Sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 29 sen, atau 0,33 persen menjadi USD 88,41 per barel.Dengan kondisi itu, Bisman juga menilai harga minyak bisa saja turun lebih jauh bahkan ke level semula. Namun, hal itu memerlukan waktu.“Harga minyak seperti Brent dan WTI itu memang sangat responsif terhadap sentimen geopolitik, sehingga penyesuaian harga bisa terjadi sangat cepat, ini bisa dalam beberapa hari bahkan bisa dalam hitungan jam,” ujarnya.“Secara kemungkinan harga tentu bisa kembali ke level semula, tetapi tidak bisa langsung otomatis kembali karena pasti butuh waktu dan bertahap,” lanjutnya.Ilustrasi tanker LNG. Foto: Aerial-motion/ShutterstockUntuk menurunkan harga minyak, Bisman menjelaskan sentimen utama yang diperlukan adalah kepastian penurunan suhu perang. Selain itu, tidak adanya gangguan pasokan terutama dari Timur Tengah serta peningkatan pasokan dari negara-negara produsen besar juga bisa menjadi pendorong penurunan harga minyak mentah dunia.“Di sisi lain sentimen penurunan jika terjadi perlambatan permintaan global maka harga akan meluncur turun,” kata Bisman.Pengamat energi lainnya, Tumbur Parlindungan juga menyebut sentimen yang diperlukan pasar untuk menurunkan harga minyak utamanya adalah kepastian mengenai pasokan yang tidak terganggu.Namun, fasilitas perminyakan juga menjadi hal penting dalam penurunan harga. Jika banyak fasilitas perminyakan yang rusak, Tumbur melihat penurunan harga minyak akan terjadi dalam waktu yang cukup lama.“Tapi kalau banyak fasilitas perminyakan yang rusak, mungkin harga akan turun butuh waktu sampai 6 bulan,” ujarnya.Jika nanti perang AS-Israel terhadap Iran berakhir, Tumbur menilai harga minyak mentah dunia bisa kembali ke level yang sama seperti sebelum perang.“Kalau perang berakhir, harga minyak mungkin sekitar Brent USD 70 sampai 80 per barrel,” kata Tumbur.