3 Prajurit TNI Gugur, Komisi I Minta Operasi di Lebanon Dihentikan Sementara

Wait 5 sec.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Akbarshah Fikarno Laksono di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat pada Kamis (24/7/2025). Foto: Abid Raihan/kumparanWakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono mengusulkan agar operasi prajurit TNI dalam misi perdamaian di Lebanon sebaiknya dihentikan sementara jika situasi tidak lagi aman.Hal ini disampaikannya menyusul gugurnya Pasukan Penjaga Perdamaian Indonesia akibat serangan Israel di Lebanon.Jumlah prajurit TNI yang gugur di Lebanon mencapai 3 orang. Seorang merupakan perwira. Mereka gugur imbas kena ranjau dan dihujani serangan senjata saat evakuasi.“Karena setahu saya jumlah personel pasukan perdamaian itu ada sekitar hampir 5.000 orang, sekitar 800-an itu dari prajurit TNI,” kata Dave di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (31/3).“Nah kalau memang tidak bisa dinyatakan aman, ya berarti mungkin sebaiknya operasi dihentikan terlebih dahulu sampai benar-benar situasi ini kondusif dan misi dan operasi militernya ini diredefinisikan ulang, dan jelas tugas dan kewajiban prajurit kita di sana sejauh mana,” lanjutnya.Dave menegaskan, keselamatan prajurit harus menjadi prioritas utama di tengah konflik yang masih berlangsung di wilayah tersebut.“Dan jelas, keselamatan prajurit harus diutamakan, dan juga kejelasan operasinya itu seperti apa. Nah, kalau memang perang masih berkecambuk antara Hizbullah dengan Israel, dan jelas ini bukan hanya membahayakan, telah menewaskan prajurit kita, ya harus ada ketegasan, baik dari PBB itu sendiri ataupun juga dari Mabes TNI,” kata Dave.Politikus Golkar ini menyinggung rencana rotasi pasukan yang semestinya dilakukan dalam waktu dekat, sekaligus membuka opsi perubahan pola operasi di lapangan.“Semestinya ini sudah harusnya ada rotasi di bulan Mei, apakah itu mereka perlahan dikurangi jumlahnya atau operasinya itu dirubah menjadi tetap berada di dalam markas, atau bagaimana,” tutur Dave.“Nah, itu kembali kepada Mabes TNI dan juga Kementerian Pertahanan untuk memetakan ulang tugas-tugas dan operasi prajurit kita di Lebanon,” sambungnya.Anggota TNI yang tergabung dalam UNIFIL sedang berpatroli di perbatasan Libanon-Israel. Foto: Dok. UNIFILDorong InvestigasiSelain itu, DPR mendorong investigasi menyeluruh atas insiden yang menewaskan prajurit TNI, termasuk dugaan pelanggaran hukum perang.“Ya kita minta agar ada investigasi khusus dan mendalam, ini serangan ini bisa terjadi ini kenapa? Ranjau itu yang menanamkan itu siapa? Dan mengapa bisa dilintasi oleh patroli kita? Kalau memang daerah itu daerah ranjau ya kenapa mestinya ada dilintasi?” ucap Dave.“Dan kalau memang itu perlintasan umum lalu ditanam ranjau berarti ada pelanggaran, dan ini bisa dikatakan pelanggaran perang ya war crimes. Dan ini harus ada investigasi yang melibatkan semua pihak dan dilakukan secara terbuka sehingga keadilan dan juga keselamatan bagi prajurit kita itu benar-benar ditegakkan,” tutupnya.Sebelumnya, Wakil Sekretaris Jenderal untuk Operasi Perdamaian (United Nations Peacekeeping), Jean-Pierre Lacroix, mengkonfirmasi Pasukan Penjaga Perdamaian Indonesia yang gugur akibat serangan Israel di Lebanon bertambah jadi 3 orang.Insiden terjadi di 2 tempat berbeda. Lokasi pertama berada UNIFIL di Adchit Al Qusayr pada Minggu (29/3), merenggut nyawa Prajurit Kepala (Praka) Farizal Rhomadhon dan melukai dua prajurit lainnya.Peristiwa kedua terjadi di dekat Bani Hayyan, dua pasukan perdamaian RI gugur dalam insiden yang terjadi pada Senin (30/3). Menurut penjelasan UNIFIL, kendaraan mereka hancur akibat ledakan yang belum diketahui sumbernya yang belakangan terungkap imbas ranjau.