Sumber gambar: https://unsplash.com Pernahkah terlintas di pikiran kalian saat bengong atau iseng mikir hal random, lalu tiba-tiba muncul pertanyaan “Kira-kira laki-laki bisa hamil nggak, ya?” Kedengarannya seperti candaan atau sekadar imajinasi aneh, tapi ternyata topik seperti ini justru sering muncul dan diperdebatkan di media sosial. Dalam media sosial, hal ini sering disebut sebagai MPreg atau Male Pregnant.MPreg menjadi topik yang sering diperdebatkan dalam konteks gender dan identitas. Di media sosial, isu ini kerap muncul melalui berbagai konten viral berupa lelucon atau sekadar meme yang mengklaim kemungkinan laki-laki dapat hamil. Namun, perdebatan yang muncul sering kali tidak disertai penjelasan ilmiah yang memadai, melainkan dipenuhi klaim yang disederhanakan dan respons emosional. Akibatnya, pembahasan mengenai MPreg di ruang digital sering berkembang menjadi diskursus yang kontroversial tanpa landasan argumentasi yang jelas.Sebagian orang menganggap MPreg sebagai kemungkinan nyata, sementara yang lain menolaknya secara mutlak. Akibatnya, diskusi yang muncul sering mengandung logical fallacy, karena argumen yang digunakan tidak selalu didasarkan pada pemahaman yang tepat mengenai konsep MPreg. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan “Apakah MPreg benar-benar ada? dan bagaimana logical fallacy memengaruhi cara masyarakat memperdebatkan isu tersebut?”Berikut penjelasan lebih dalam terkait korelasi antara MPreg dan logical fallacy;Konsep dalam mitologi Yunani kuno pada dasarnya digunakan sebagai simbol atau metafora budaya, bukan sebagai realitas biologis. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa laki-laki tidak mungkin mengalami kehamilan secara biologis. Dalam konteks ini, perdebatan mengenai MPreg di media sosial sering muncul karena kesalahan penalaran yang mencampurkan dua ranah pengetahuan yang berbeda, yaitu narasi mitologis yang bersifat simbolik dan penjelasan ilmiah yang bersifat empiris. Penyamaan dua hal yang berbeda tersebut menunjukkan adanya logical fallacy.Dalam mitologi dan sastra Yunani, terdapat cerita tentang laki-laki yang “melahirkan” atau membawa kehidupan, misalnya pada kisah para dewa. Namun konsep tersebut lebih bersifat simbolik dan metaforis, digunakan untuk menggambarkan kekuasaan, kreativitas, atau otoritas laki-laki dalam penciptaan kehidupan. Hal ini tertuang pada review buku The Pregnant Male as Myth and Metaphor in Classical Greek Literature karya D. D. Leitao. The Classical Review. yang ditulis oleh Sandford, S. (2015).Motif kehamilan laki laki dalam literatur klasik pada dasarnya bersifat simbolik dan bukan klaim empiris.Figur laki laki yang “mengandung” sebagai alat naratif untuk merepresentasikan gagasan tentang kekuasaan, penciptaan, dan transformasi. Hal ini tertuang pada des Bouvrie, S. (2014)Hal yang sama juga tertulis dalam kajian terhadap karya D. D. Lentao berikut;Kehamilan laki-laki dalam literatur Yunani klasik menunjukkan bahwa motif tersebut adalah konstruksi budaya, bukan deskripsi kemungkinan biologis. Hal ini juga tertuang pada review buku The Pregnant Male as Myth and Metaphor in Classical Greek Literature karya D. D. Leitao. The Classical Review. yang ditulis oleh Sandford, S. (2015).Masalah logis muncul ketika narasi simbolik dalam mitologi ditafsirkan secara literal dan diperlakukan seolah-olah merupakan klaim biologis dalam diskursus publik modern. Perlakuan tersebut merupakan contoh false analogy sekaligus category mistake karena dua ranah pengetahuan yang berbeda dianggap setara. Akibatnya premis argumen menjadi tidak relevan dan perdebatan di media sosial berubah menjadi retorika tanpa bukti yang jelas. Memahami fungsi simbolik mitos adalah langkah logis awal yang diperlukan untuk mencegah kesalahan penalaran saat membahas MPreg.Perdebatan MPreg bukan sekadar kebingungan soal fakta, namun juga menunjukkan kesalahan kategori epistemik dimana narasi simbolik dari mitos diperlakukan layaknya klaim empiris, sehingga terjadi false analogy yang mengaburkan batas antara metafora dan sains. Akibatnya argumen yang muncul sering tidak konstruktif dan menutup ruang untuk diskusi rasional.Diskursus publik lalu kehilangan kemampuan membedakan fungsi bahasa, karena simbol dipakai sebagai bukti dan cerita diperlakukan sebagai premis. Solusinya bersifat normatif dan praktis, yakni memperkuat kecermatan kategori dan kebiasaan argumentasi yang menuntut bukti saat klaim dikemukakan, supaya perdebatan tidak terus mengulang kesalahan logika yang sama.Referensides Bouvrie, S. (2014). The Pregnant Male as Myth and Metaphor in Classical Greek Literature.Sandford, S. (2015). MALE PREGNANCY-DD Leitao The Pregnant Male as Myth and Metaphor in Classical Greek Literature. Pp. xii+ 307. New York: Cambridge University Press, 2012. Cased,£ 62, US $99. ISBN: 978-1-107-01728-3. The Classical Review, 65(1), 18-20.