Dokumentasi pribadi Siti Rahmah, Januari 2026Kabupaten Kutai Barat tidak hanya menyimpan kekayaan alam yang melimpah, tetapi juga narasi puitis yang terukir di setiap geografisnya. Salah satunya adalah air terjun Jantur Inar, sebuah destinasi di Kampung Temula, Kecamatan Nyuatan. Jika dibedah melalui kacamata stilistika, Jantur Inar bukan sekadar air terjun setinggi 30 meter dengan 200 anak tangga kayu, melainkan sebuah "teks terbuka" yang mempertemukan keindahan eufoni visual dengan narasi tragedi kehidupan yang memilukan.Dalam studi stilistika, pemilihan nama (toponimi) "Inar" mengandung kekuatan personifikasi dan eponim yang mendalam. Nama ini merujuk pada tokoh Inar, putri bungsu dari Ragetn, cucu Sang Tumenggung Ngaroh bergelar Setia Raja. Di balik keindahan airnya, tersimpan diksi kesakitan yaitu Inar digambarkan sebagai bangsawan yang didera penyakit barah dan lumpuh di era kolonial, sementara suaminya, Baras, mengalami kebutaan. Puncak tragedi ini terjadi ketika Baras sedang dalam keputusasaan yang "hina dina", mendorong Inar ke dasar jantur sebelum akhirnya ia sendiri menyusul terjun. Di sini, stilistika bekerja sebagai jembatan antara rasa sakit (tragedi) dan keabadian (legenda).Secara linguistik, fenomena hilangnya jasad Inar yang ditahan oleh pelangi menciptakan sebuah citraan magis yang luar biasa. Pelangi dalam narasi ini berfungsi sebagai metafora "pemuliaan" terhadap penderitaan. Jantur Inar tidak hanya menjadi saksi kematian, tetapi menjadi ruang di mana duka lara bertransformasi menjadi keindahan yang abadi. Bagi wisatawan, setiap anak tangga kayu yang dituruni bukan sekadar mobilitas fisik, melainkan sebuah ritme atau irama menuju kedalaman rasa. Kita tidak hanya melihat air jatuh, kita sedang membaca sisa-sisa napas ketabahan seorang Inar.Fakta ini diperkuat oleh tren data dalam laporan Statistik Sektoral Pariwisata Kutai Barat (2024) yang mencatat kenaikan kunjungan wisatawan domestik ke situs-situs berbasis legenda. Selain itu, sejalan dengan kajian dalam Jurnal Ilmu Budaya (2023), terdapat kecenderungan literasi budaya di Kalimantan Timur di mana komunitas mahasiswa semakin aktif menggali kembali toponimi dan sejarah lisan daerah sebagai benteng identitas. Fenomena ini menjadi diskursus krusial mengenai urgensi menjaga narasi lokal di tengah masifnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).Jantur Inar adalah sebuah karya sastra alam yang melambangkan keanggunan sekaligus ketangguhan. Ia bukan sekadar butiran air di Kampung Temula, melainkan identitas budaya yang harus dimaknai secara personal. Memahami stilistikanya berarti menghargai bagaimana leluhur kita merumuskan makna hidup melalui bahasa dan memori. Sebagai mahasiswa sastra, tugas kita adalah memastikan bahwa "Inar" tetap berdenyut dalam keseharian, bukan menjadi fosil linguistik yang terlupakan. Karena pada akhirnya, air yang sejuk hanya akan bermakna jika kita mampu menimba hikmah dari sejarah yang mengalir di dalamnya.