Melanjutkan Pelayaran

Wait 5 sec.

Kapal The Thousand Sunny di anime One Piece Foto: Shutter Stock“…dalam sebuah ekspedisi besar, sang perintis rute tidak akan pernah hilang dari sejarah saat ia melangkah mundur dari anjungan…”Ada satu potongan memori yang langsung muncul di kepala saya saat membaca tulisan pamit “Mengakhiri Tugas” dari Mas Arifin Asydhad tempo hari. Lembaran penutup tersebut seketika melempar ingatan saya mundur ke titik awal lahirnya media ini, sekitar sepuluh tahun lalu. Di hari ketika para founder memutuskan angkat jangkar untuk merintis kumparan, saya mengingat betul pidato bos kami terdahulu soal 'kapal besar' dan 'kapal kecil'.Bos lama kami mengibaratkan kantor tempat kami bernaung saat itu sebagai sebuah kapal besar. Kapal yang diyakini akan jauh lebih stabil dan aman dalam mengarungi lautan industri media. Sementara itu, kumparan yang baru akan lahir dilabeli sebagai kapal kecil yang rentan terombang-ambing ombak.Bagi saya pribadi, kumparan tidak pernah sekadar kapal kecil biasa. Sebagai penikmat manga One Piece, wujud awal media ini di kepala saya justru menyerupai Going Merry, karavel mungil yang nekat menantang ganasnya lautan. Melalui keringat dan keteguhan tekad para pendirinya sejak 17 Januari 2017, karavel tersebut kini telah berevolusi menjadi Thousand Sunny, sebuah kapal mutakhir yang mesin teknologinya berdenyut presisi (excellence in technology), kompas jurnalismenya setia pada fakta (excellence in journalism), dan gaya berceritanya memikat (excellence in storytelling).Ketangguhan kapal ini tentu tidak terlepas dari sosok pemegang kompasnya. Sebagai orang yang pernah digembleng oleh beliau sejak di 'rumah' lama, saya mengenal betul karakter sang navigator. Kami biasa memanggilnya Mas Asy (dibaca: a es ye), atau terkadang hanya "Asy”, saat kami para bawahan sedang membicarakannya sambil ngopi.Arifin Asydhad. Foto: Dok. kumparanTerlepas dari panggilan akrab dan candaan ala redaksi, kami semua sangat paham, di balik pembawaannya yang tenang, Mas Asy selalu menyimpan visi jurnalisme yang besar. Lewat ketenangan dan visi yang teguh itulah, ia berhasil meletakkan fondasi jurnalisme kumparan hingga bisa se-solid sekarang.Dalam sebuah ekspedisi besar, pergantian pemegang kemudi adalah sebuah keniscayaan. Sang perintis rute tidak akan pernah hilang dari sejarah saat ia melangkah mundur dari anjungan. Sebaliknya, fondasi dan arah yang telah ia tetapkanlah yang menentukan seberapa mantap penerusnya bisa terus mengarungi samudra. Dan kini, kemudi navigasi itu diserahkan ke tangan saya.Masuk ke geladak kapal ini, niat saya bukan untuk merobohkan tiang yang sudah susah payah ditegakkan, atau membuang peta yang telah terbukti kebenaran arahnya. Tugas saya adalah mengawal kemudi tersebut. Kita sama-sama tahu, industri media dan arus informasi ke depan akan semakin tak menentu dan penuh tantangan. Di pusaran cuaca semacam itu, kumparan membutuhkan perisai penahan badai, agar teman-teman di redaksi bisa tetap bekerja dengan tenang, tangguh, dan leluasa berinovasi. Di titik inilah penugasan saya dimulai.Ahmad Toriq, Pemred kumparan. Foto: Dok. PribadiUntuk teman-teman di kumparan, saya hadir bukan untuk mengutak-atik DNA jurnalistik yang sudah terbangun kuat, apalagi menjadi sosok asing yang mendikte arah angin. Saya datang untuk merapatkan barisan dan berkeringat bersama. Kita akan menjaga Thousand Sunny ini tetap relevan, memperluas daya jelajahnya, dan memastikan karya jurnalistik yang lahir dari sini selalu memiliki daya tawar.Satu hal yang pasti, sebesar apa pun kapal ini berevolusi nanti, kompas utamanya tetaplah Anda, para pembaca kumparan. Tampuk kepemimpinan boleh berganti tangan, tetapi kontrak jurnalistik kami dengan publik pantang berubah. Di tengah riuhnya arus informasi saat ini, kami akan terus hadir menyajikan jurnalisme yang bersandar pada fakta, memberikan proporsi yang adil, dan berusaha menjadi jangkar yang menjernihkan konteks di setiap keriuhan.Mas Asy menutup tulisannya kemarin dengan "filosofi katapel”, sebuah langkah mundur untuk bisa melesat lebih jauh. Dari lubuk hati terdalam, saya mengamini doa itu untuk babak baru perjalanan Mas Asy ke depan.Dan bagi kumparan, daya dari tarikan katapel yang beliau tinggalkan adalah angin kencang yang kini membentangkan layar kita. Pijakannya sudah tertancap kuat, arah kompasnya sudah jelas. Sekarang, waktunya kapal ini melesat.