Ilustrasi logo petronas. Foto: Faiz Zaki/ShutterstockPerang antara Israel-Amerika Serikat dan Iran yang berkepanjangan kian menggangu pasokan bahan bakar di kawasan Asia. Malaysia salah satunya yang mulai mencari sumber energi alternatif dan menaikkan harga BBM dalam dua pekan terakhir. Wakil Perdana Menteri Malaysia Fadillah Yusof mengatakan perusahaan energi nasional Petroliam Nasional Berhad (Petronas) telah menyiapkan rencana darurat guna menjaga stabilitas pasokan energi. Australia dan negara-negara Asia-Pasifik menjadi opsi alternatif jika distribusi dari kawasan konflik terganggu.“Petronas telah meninjau berbagai rencana untuk mencari pasokan alternatif jika gas atau minyak tidak dapat dikirim melalui wilayah yang terdampak konflik saat ini,” ujar Fadillah dikutip dari Channel News Asia (CNA), Rabu (25/3). Fadillah menyebut Petronas mulai mencari pasokan dari Australia dan negara-negara di Asia Pasifik. "Semua alternatif ini sedang dipersiapkan. Perencanaan berjalan dengan baik dan pasokan kami tetap stabil,” tambahnya.Tekanan terhadap pasokan energi Malaysia tak lepas dari penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen minyak dan gas dunia, setelah konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memanas.Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengungkapkan bahwa sekitar 50 persen pasokan minyak Malaysia melewati jalur tersebut, sehingga gangguan langsung berdampak ke dalam negeri.“Walaupun Malaysia adalah produsen minyak, sebenarnya kita mengimpor lebih banyak minyak daripada yang kita ekspor,” ujarnya.Naikkan Harga BBMPerdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan perombakan kabinet di Malaysia, Selasa (16/12/2025). Foto: Kantor Perdana Menteri Malaysia/HO/AntaraSeiring tekanan tersebut, harga BBM di Malaysia telah naik dalam dua pekan terakhir. Pemerintah menyesuaikan harga mengikuti lonjakan pasar global akibat konflik Timur Tengah.Harga bensin RON97 tercatat naik sekitar 70 sen menjadi 4,55 ringgit per liter, sementara harga diesel di Semenanjung Malaysia melonjak sekitar 80 sen hingga mencapai 4,72 ringgit per liter, menjadi salah satu level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir. Meski demikian, pemerintah tetap mempertahankan subsidi untuk BBM jenis RON95 di kisaran 1,99 ringgit per liter guna menjaga daya beli masyarakat.PHK MembayangiDi sisi lain, oposisi mendesak langkah lebih luas untuk meredam dampak ekonomi. Ketua Perikatan Nasional Ahmad Samsuri Mokhtar memperingatkan efek berantai dari kenaikan energi terhadap harga barang dan lapangan kerja.“Reaksi berantai ini tidak dapat dihindari dan dalam beberapa bulan ke depan, negara bisa menghadapi kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan pangan, biaya transportasi dan logistik yang lebih tinggi, serta layanan yang semakin mahal,” ujarnya.Ia juga mengingatkan potensi peningkatan pemutusan hubungan kerja.“Tanpa intervensi kebijakan yang proaktif, risiko pemutusan hubungan kerja dapat meningkat, terutama di sektor manufaktur, logistik, serta usaha kecil dan menengah yang terdampak kenaikan biaya bahan baku,” tambahnya.Perdebatan juga muncul terkait penggunaan dana Petronas. Ketua Partai Urimai P Ramasamy menilai pemerintah perlu mengalokasikan lebih banyak dana untuk subsidi energi.“Pemerintah perlu bersiap mengalokasikan dana Petronas yang lebih besar untuk mensubsidi kenaikan harga minyak,” ujarnya.Namun, anggota parlemen DAP Chong Zhemin menilai langkah tersebut tidak berkelanjutan dan menekankan pentingnya pengelolaan keuntungan minyak untuk investasi jangka panjang. “Malaysia seharusnya memastikan sebagian keuntungan tambahan Petronas dialokasikan untuk tabungan dan investasi jangka panjang, bukan dihabiskan untuk subsidi jangka pendek,” katanya.