Kendaraan melintas di ruas Tol Ngawi-Solo dekat Gerbang Tol Ngawi di sekitar KM 579, Dawu, Ngawi, Jawa Timur, Rabu (31/12/2025). Foto: ANTARA FOTO/Ari Bowo SuciptoSkema satu arah (one way) di ruas tol Trans Jawa kerap dianggap sebagai solusi untuk mempercepat perjalanan saat arus balik Lebaran. Namun pengalaman di lapangan menunjukkan, efektivitasnya tetap bergantung pada waktu tempuh dan kondisi lalu lintas.Salah satu pembaca kumparan, Lely Fachrul, membagikan pengalamannya saat melintas di jalur one way. Ia mengaku hanya sekali memanfaatkan rekayasa lalu lintas tersebut, yakni di sekitar wilayah Salatiga sebelum Bawen.“Saya tuh cuma sekali ngambil one way, itu sebelum Bawen. Padahal pengumuman biasanya dibuka siang, tapi tadi jam 6.30 saya sudah masuk karena sudah dibuka, bahkan baru 2-3 mobil yang melintas,” ujarnya saat dihubungi kumparan, Selasa (24/3/2026).Cerita Lely Fachrul tempuh Madiun-Jakarta 7 jam saat arus balik Lebaran. Foto: Dok. Lely FachrulMenurutnya, kondisi tersebut membuat perjalanan terasa sangat lancar. Ia bahkan mencatat waktu tempuh yang jauh lebih cepat dari biasanya.“Dari Madiun ke Kalikangkung cuma sekitar 2 jam. Itu saya dari Madiun jam 5 sampai Jakarta jam 12 kurang,” kata dia.Meski begitu, Lely memilih tidak terus memanfaatkan jalur one way hingga perjalanan berikutnya. Ia menilai kecepatan kendaraan di jalur tersebut cukup tinggi dan berpotensi berisiko, terutama di ruas dengan kontur jalan naik-turun di daerah Semarang.Cerita Lely Fachrul tempuh Madiun-Jakarta 7 jam saat arus balik Lebaran. Foto: Dok. Lely Fachrul“Karena pada kencang banget, kayak kecepatan cahaya semua. Apalagi jalannya naik turun, saya khawatir kalau kosong banget terus kehilangan kontrol, jadi saya pilih balik ke lajur normal,” katanya.Setelah keluar dari jalur tersebut, ia juga memutuskan tidak melintas di Jalan Tol Layang Sheikh Mohammed bin Zayed. Sebagai gantinya, ia memilih jalur bawah Tol Jakarta-Cikampek yang dinilai lebih fleksibel.“Kalau di atas itu kan takutnya macet jadi ngunci, kalau ada apa-apa susah. Orang-orang juga pada kencang semua. Kalau di bawah memang lebih waspada karena banyak truk dan bus, tapi kita jadi lebih sadar saat nyetir jadi tetap lancar tapi kitanya juga waspada,” tukasnya.Menariknya, keputusan tersebut juga dipengaruhi rekomendasi dari aplikasi navigasi digital yang digunakannya. Ia menyebut fitur suara pada peta digital menyarankan jalur bawah karena kondisi di jalur atas dinilai kurang terprediksi.Cerita Lely Fachrul tempuh Madiun-Jakarta 7 jam saat arus balik Lebaran. Foto: Dok. Lely FachrulPengalaman ini menjadi gambaran bahwa skema one way tidak selalu menjadi solusi utama. Dalam kondisi tertentu, jalur alternatif justru bisa memberikan kenyamanan lebih, tergantung preferensi dan kesiapan pengemudi.Di sisi lain, Lely juga membagikan strategi keberangkatannya untuk menghindari kemacetan. Ia memilih berangkat sejak pagi hari, saat arus lalu lintas masih relatif lengang.Cerita Lely Fachrul tempuh Madiun-Jakarta 7 jam saat arus balik Lebaran. Foto: Dok. Lely Fachrul“Kayaknya orang mayoritas baru jalan agak siang. Kalau saya berangkat pagi sehabis Subuh, jadi masih kosong,” ujarnya.Dengan berbagai pengalaman tersebut, ia menilai perencanaan waktu perjalanan menjadi faktor penting saat mudik. Tidak hanya soal memilih jalur, tetapi juga memahami karakter lalu lintas di waktu tertentu agar perjalanan tetap aman dan efisien.