Satu Perjumpaan Sore Hari Saat Berbuka Puasa di Sudut Jogja

Wait 5 sec.

Empat lukisan yang terpajang di salah satu dinding restoran. Foto pribadi.Sore hari di Ramadhan, sekitar dua minggu lalu, saya harus melakukan perjalanan ketidaknyamanan. Awalnya. Istri mendadak mengajak keluar untuk makan buka bersama di restoran dining di sudut Jogja. Perjalanan yang, sebenarnya tidak akan saya bayangkan menambah nilai puasa hari ini. Berbuka adalah momen sakral, dan sungguh sangat tidak nyaman jika waktu sakral ini dilakukan di tempat lain dengan menu diluar kebiasaan seorang pria. Saya sudah merencanakan dengan jadwal yang hampir pasti pada tiap buka puasa: teh manis panas dan sebuah gorengan. Paduan sempurna menu berbuka puasa. Akan tetapi istri tetap memaksa. Dan saya, seperti seorang lelaki sejati, mau tidak mau, terpaksa mau.Untuk kemudian membawa kami ke restoran. Bukan di jalan utama restoran ini, berada di jalan satu arah yang berliku-liku di sebelah selatan kampus utama UGM. Dari luar, restoran terlihat seperti rumah bergaya lawas dengan beberapa pohon tertanam di halaman. Lampu temaram. Kami masuk lobby, satu hal yang sungguh diluar dugaan: ada lukisan terpajang. Kecil dan besar. Dan karya-karya ini tidak berupa gambar nyata serupa pemandangan sawah dengan padi menguning atau gambar buah diatas piring. Mereka yang dipasang adalah paduan kontras biru, putih, merah, kuning dan hitam. Campuran warna acak yang langsung ditulis diatas kanvas. Langsung menonjok muka.Lalu kami berjalan masuk lebih ke dalam, ke bagian sekat-sekat tempat banyak meja dan kursi ditempati orang. Lebih banyak gambar. Ada dua kecil disandingkan menarik perhatian, dua yang tidak terlalu suka. Lalu kami mengarah ke bagian dalam. Satu yang terbesar memasung muka berseberangan langsung dengan para bartender di meja panjang. Satu yang angkuh tetapi sekaligus lembut dengan paduan aneka warna, hijau muda-merah-hitam-putih dan ribuan titik-titik diantara campuran warna yang memusingkan. Lukisan yang mengingatkan postingan foto hasil jepretan galaksi bintang oleh teleskop Hubble dari luar angkasa. Dan lebih banyak lagi, besar dan kecil.Setelah itu baru sadar: lukisan-lukisan ini punya satu nafas. Dan mengingatkan saya pada satu nama: Miftah Rizaq. Gaya dan corak warna dari semua lukisan ini adalah gaya sama yang tersemat di Pak Miftah. Padahal bukan lukisan realis. Maksudnya, lukisan realis seperti pemandangan atau gambar binatang atau gambar manusia atau gambar tumbuhan, beberapa jenis yang langsung terlihat bagi orang awam berbentuk indah. Bukan jenis yang terlihat jelas bentuk warna dan rona untuk mudah dilihat bagus bagi banyak orang awam. Lukisannya adalah tabrakan warna-warna dan sebenarnya saya tidak bisa banyak menafsirkan. Nah, saya pun sebagai orang awam masih bisa melihat lukisan yang hanya terdiri dari tabrakan aneka warna ini sebagai paduan yang nikmat untuk dilihat.Begitupun lukisan abstrak Miftah. Dia suka mengkontraskan dua abstraksi ekstrim yang, dalam tahap bagaimana, kok bisa saling menguatkan. Saya paling suka dengan salah satu lukisannya waktu itu. Gambar abstrak yang keras dan tajam di bagian atas dipadukan warna terang di bawahnya. Keduanya dipisahkan dengan garis warna kuat tanpa gradasi dan digambarkan sebagai air yang menetes. Seperti-perti, mengeluarkan dengan pelan, kalut dan carut, mengembalikannya dalam halaman baru. Menikmati dari dunia maya.Dan saya suka lukisan-lukisan itu. Saya bahkan pernah berkomentar saat dia posting hasil lukisan, “Pak Miftah kalau melukis air, memang beda.” Atau semacam itu. Sebelumnya, saya memang mengikutinya di Instagram, tidak secara sengaja karena beberapa postingan hasil lukisan muncul begitu saja di beranda saat scrolling. Menarik.Kadang saya berfikir, sebagai orang awam, tidak akan bisa menikmati sebuah lukisan. Lukisan bukanlah makanan yang semua orang bisa mereviu suatu makanan enak atau tidak. Akan tetapi, di satu sisi yang lain, kadang saya juga berpikir: sesuatu yg indah itu kan, tidak perlu benar-benar punya ilmu atau punya keahlian untuk menilai derajat keindahannya. Contoh, semua orang bakal setuju kalau Porsche 911 merupakan mobil tercantik sepanjang masa. Atau kesepakatan banyak orang akan kegantengan Ninja 2 tak yang immortal.Walau secara insting saya percaya ini Miftah Rizaq punya, secara data, tidak benar-benar tersampaikan bahwa semua ini adalah lukisannya. Restoran tidak banyak menampilkan keterangan. Saya bahkan perlu lebih mendekat untuk melihat, betulkah ini Miftah?Akan tetapi hanya “Raharja” dan Judul lukisan yang tertera. Bingung ini lukisan siapa, perasaan milik gaya Miftah, bukan Raharja. Ada sedikit penolakan. Mengapa ada nama Raharja di situ. Dalam hati saya, aneh ada nama pelukis Raharja dari Jogja. Nama ini terasa asing. Akan tetapi Raharja terpampang jelas. Jika bukan merupakan nama pelukis, mengapa nama ini terus tersemat di semua deskripsi di bawah lukisan? Dan satu tulisan tambahan kecil di bawah nama Raharja. Tidak ada nama Miftah di deskripsi.Rasa penasaran berubah menjadi frustasi tatkala mencoba melihat di semua deskripsi lukisan. Tetap tidak ada nama Miftah Rizaq di sana. Heran juga. Maksud saya, ini semua lukisan dalam rangka apa? Apakah memang sekedar pajangan dari restoran? Jika pajangan kok ya banyak sekali tur kok hanya satu gaya. Kalau sekedar pameran eksibisi kok ya tidak ada tulisan yang menjelaskan itu? Kalau memang mau dijual, kok ya tidak ada keterangan semua ini for sale? Kok kalau semua lukisan ini -jika benar intuisi saya- adalah hasil karya Pak Miftah, mengapa hanya ada nama Raharja?Lalu ada barcode. Seharusnya berisi link untuk memberi tahu lebih banyak apa isi lukisan, siapa pelukisnya, tema detailnya bagaimana. Berharap ada informasi lengkap dari laman yang bakal tertampil dari link dari barcode. Tetapi, Sial! Tidak bisa diakses! Harapan saya lenyap sudah.Gamang ini lalu saya bawa duduk, hampir maghrib. Kursi di dinding terpilih dan kebetulan sekali di persimpangan dinding lain, berseberangan dengan kami, satu lukisan besar terpampang. Satu abstrak dengan dua kontras. Bagian atasnya berwarna putih kekuningan keemasan dan bagian bawahnya adalah aneka rupa warna biru kuning hitam hijau merah tajam. Keduanya dibatasi secara kontras. Ini adalah gaya sama yang pernah dan sering saya lihat di dunia maya. Gambaran air dan pasir, seperti gambaran dari air laut yang dengan jernih mendinginkan panasnya pasir pantai.Saya lama terpaku pada kanvas terakhir ini. Rupa-rupa inilah -gambaran air dan kontras warna dari layar gawai- yang dulu memberanikan saya untuk berkomentar.“Nda,” kata saya akhirnya kepada istri.“Pak Miftah ini, Nda.”Istri saya tersenyum.