Diler BYD Diserbu Calon Konsumen Imbas Ancaman Krisis Minyak Dunia

Wait 5 sec.

Diler Arista BYD BSD City. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparanAncaman nyata krisis energi akibat konflik Amerika Serikat disinyalir membuat preferensi pemilihan kendaraan untuk mobilitas ikut terdampak. Contohnya fenomena diler BYD yang diserbu masyarakat di beberapa negara Asia.Dilansir Japan Times, salah satunya distrik di Manila, Filipina kedatangan begitu banyak pengunjung. Seorang wiraniaga di lokasi, Matthew Dominique Poh menerangkan dapat melakukan penjualan yang setara dengan hasil satu bulan berhasil tuntas dalam dua pekan."Konsumen mengganti kendaraan mereka dengan mobil listrik (Battery Electric Vehicle/BEV) karena kenaikan harga minyak," jelasnya.Terpisah 1.770 kilometer jauhnya di Hanoi, Vietnam, salah satu diler VinFast sampai-sampai harus merekrut tenaga penjual tambahan untuk melayani banyaknya konsumen yang melonjak hingga empat kali lipat.Pabrik VinFast di Hai Phong, Vietnam. Foto: VinFastTenaga penjual di sana, Nguyen Hoang Tu Anh menceritakan diler VinFast tempat ia bekerja mencatatkan penjualan sebanyak 250 unit dalam waktu tiga pekan sejak dimulainya perang AS dengan Iran. Artinya sekitar 80 unit per hari, dua kali lipat rata-rata 2025."Beralih ke mobil listrik akan membantu kami menghemat uang secara signifikan," kata salah satu konsumen, Lai (41 tahun) yang menukar Toyota Vios bensin miliknya dengan VinFast 5 untuk mobilitas harian dan ke tempat kerja dengan radius 60-70 kilometer.Sedikit ke Selatan, BYD Selandia Baru turut merasakan peningkatan penjualan yang cukup tajam. Bahkan juga sampai empat kali lipat dari biasanya, sementara di sisi timur ibu kota Bangkok Thailand sebuah diler MG Motor catatkan kenaikan penjualan BEV sebesar 20 persen.Tekanan akibat kenaikan harga bahan bakar sangat terasa di kawasan Pasifik, di mana sekitar 80 persen minyak mentah yang melewati Selat Hormuz biasanya berakhir di sana sebelum jalur tersebut ditutup secara efektif akibat konflik.Charging station MG di diler baru MG Motor Indonesia di BSD, Tangerang Selatan. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan"Harga minyak yang lebih tinggi selalu membantu transisi ke kendaraan listrik. Hal itu menciptakan insentif ekonomi untuk mempercepat transisi hijau," kata kepala ekonom Bank Pembangunan Asia, Albert Park.Adopsi global kendaraan listrik murni membantu menghindari konsumsi setara dengan 2,3 juta barel minyak per hari tahun lalu, menurut laporan skenario pemodelan dari BloombergNEF.Ilustrasi logo mobil listrik BYD. Foto: Sena Pratama/kumparanNamun, mempertahankan lonjakan minat konsumen terhadap BEV ini akan membutuhkan investasi infrastruktur besar-besaran dari industri untuk mengatasi kekurangan stasiun pengisian daya saat ini, menurut analis Bloomberg Intelligence, Joanna Chen."Keterjangkauan dan pengisian daya selalu menjadi dua faktor terbesar yang menghambat adopsi BEV. Di luar China, harga awal BEV umumnya masih lebih mahal daripada mobil bensin," ungkap Chen yang menambahkan bahwa total biaya kepemilikan mungkin akan seimbang seiring dengan kenaikan harga minyak.Sejatinya fenomena peralihan adopsi BEV di wilayah Asia sudah terjadi jauh sebelum merebaknya peran AS-Iran ini. Di China misalnya, BEV dan PHEV yang berjenis hibrida telah berkontribusi lebih dari setengah dari total penjualan kendaraan di sana.