Keluar Darah Setelah Berhubungan Suami Istri, Apa Penyebabnya? Foto: Shutterstock Jika Anda melihat ada darah keluar setelah berhubungan suami istri, padahal sedang tidak haid, kondisi ini tentu bisa membuat khawatir. Dikutip dari WebMD, sebenarnya hal ini cukup sering terjadi dan tidak selalu menandakan masalah serius. Sebagian orang yang mengalami menstruasi pernah mengalaminya setidaknya sekali dalam hidup.Meski begitu, perdarahan setelah berhubungan tetap tidak boleh diabaikan, terutama jika terjadi berulang atau disertai keluhan lain seperti nyeri, keputihan tidak normal, atau rasa tidak nyaman. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari hal ringan hingga kondisi medis yang memerlukan penanganan dokter.Apa Penyebab Perdarahan Setelah Berhubungan Suami Istri?-ServisitisIlustrasi hubungan suami istri. Foto: Shutter StockSebagian besar perdarahan setelah berhubungan intim berasal dari serviks, yaitu bagian bawah rahim yang terhubung langsung ke vagina.Salah satu penyebab yang cukup sering adalah servisitis, yaitu peradangan pada serviks. Kondisi ini bisa disebabkan oleh infeksi menular seksual seperti klamidia atau gonore, tetapi juga dapat terjadi karena infeksi non-seksual, misalnya infeksi jamur.Saat serviks mengalami peradangan, jaringannya menjadi lebih sensitif sehingga lebih mudah berdarah saat terjadi gesekan saat berhubungan.-Polip ServiksIlustrasi berhubungan seks atau bercinta. Foto: ShutterstockSelain itu, perdarahan juga bisa disebabkan oleh polip serviks, yaitu pertumbuhan jaringan kecil di sekitar leher rahim. Umumnya, polip bersifat jinak atau tidak berbahaya, tetapi tetap bisa memicu perdarahan. Kabar baiknya, kondisi ini biasanya dapat ditangani dengan prosedur sederhana oleh tenaga medis.Selain itu, ada juga beberapa penyebab lain yang bisa memicu perdarahan setelah berhubungan suami istri. Kondisi tergantung kondisi masing-masing orang. Berikut beberapa kemungkinan penyebabnya:1. Gesekan saat berhubungan intim atau kurangnya pelumasan.2. Kekeringan pada vagina.3. Kontrasepsi hormonal.4. IUD atau alat kontrasepsi dalam rahim yang posisinya kurang tepat.5. Infeksi pada organ reproduksi.Ilustrasi vagina berdarah setelah berhubungan seksual Foto: Shutterstock 6. Penyakit radang panggul (PID), yaitu infeksi pada rahim, tuba falopi, atau ovarium.7. Luka pada area genital, misalnya akibat herpes atau kondisi lainnya.8. Cedera atau trauma pada vagina, termasuk setelah persalinan.9. Ektropion serviks, yaitu kondisi jinak ketika sel-sel dari dalam saluran serviks tumbuh ke bagian luar leher rahim.10. Prolaps uterus, yaitu kondisi saat rahim turun karena otot dasar panggul melemah.11. Perubahan pada serviks, vagina, atau rahim, termasuk sel prakanker.12. Kanker serviks, vagina, atau rahim.13. Perdarahan yang berkaitan dengan siklus menstruasi, misalnya saat haid baru mulai atau baru saja selesai.