Ilustrasi mudik yang tak lagi sama. Sumber: Doc. AIMudik tahun ini terasa berbeda bagi saya, dan mungkin juga Anda.Bukan rutenya yang berubah. Tetap sama, dari Malang-Surabaya, Jawa Timur ke Makassar-Sinjai, Sulawesi Selatan. Jalan tol Malang-Surabaya yang dilalui masih sama. Dari bandara dan ke bandara yang masih sama. Jalan panjang nan berliku dari Kota Makassar hingga lebih 200 kilometer ke arah selatan sampai Kabupaten Sinjai masih sama, tetap berlubang dan rusak parah.Yang berubah dan berbeda hanyalah satu hal: Ayah kami tidak lagi menunggu di rumah.Rumah Tanpa SeseorangKami memanggilnya Abba. Sembilan bulan sebelumnya, beliau dipanggil pulang oleh Yang Kuasa. Dan saya baru menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Setelah 17 tahun merantau, mudik ternyata bukan tentang sekadar pulang ke rumah, melainkan pulang kepada seseorang.Selama ini, saya kira tujuan mudik adalah rumah. Tapi ternyata bukan hanya itu, yang kita tuju sesungguhnya adalah kehadiran. Apalah arti rumah tanpa "kehadiran" seseorang?Secara fisik, hampir tidak ada yang berubah di kampung halaman. Pintu rumah masih sama, kursi ruang tamu masih di posisi lama, bahkan plafon kamar yang jebol masih tetap sama.Namun ada suasana yang berbeda. Ada keheningan yang sebelumnya tidak pernah saya sadari keberadaannya. Tidak ada suara batuk ayah di pagi hari. Tidak ada kepulan asap rokok dari kursi-meja lapuk di sudut ruang. Tidak ada pertanyaan sederhana yang dulu terasa biasa, “Kapan balik lagi?”Saya kemudian memahami bahwa rumah sebenarnya dibangun oleh relasi sosial, bukan oleh tembok ataupun dinding papan. Maka ketika satu orang tidak lagi ada untuk selamanya, seluruh makna ruang ikut berubah.Selama bertahun-tahun, mudik saya terasa sama. Pulang kampung, makan makanan yang mungkin tidak kita temui di tanah rantau, bercengkerama, bertemu sanak famili, hingga kembali tenggelam dalam rutinitas kerja. Tidak pernah terpikir bahwa rutinitas itu suatu hari akan berhenti.Kehilangan membuat saya sadar bahwa mudik sebenarnya adalah ritual menjaga ingatan. Ingatan yang menolak membiarkan seseorang benar-benar pergi. Sebab, tubuh seakan belum menerima kenyataan yang sudah dipahami oleh pikiran.Kehilangan ayah juga menghadirkan kesadaran baru bahwa posisi saya dalam keluarga diam-diam bergeser. Dulu pulang hanya sebagai anak. Sekarang saya pulang sebagai generasi yang harus menggantikan peran. Juga bukan semata sebagai anak, tapi juga telah menjadi orangtua. Di sinilah mudik berubah makna, dari perjalanan pulang menjadi proses pewarisan tanggung jawab.Kehangatan dan KehilanganLebaran selalu diasosiasikan dengan kebahagiaan kolektif. Media sosial penuh foto keluarga, tawa, dan kebersamaan. Namun di balik euforia itu, ada realitas yang lebih sunyi. Bagi sebagian orang, Lebaran justru memperjelas absennya seseorang. Paradoksnya, semakin hangat suasana keluarga, semakin terasa kehilangan itu.Kita mungkin tertawa bersama saudara, tetapi di sela percakapan ada jeda hening yang tidak perlu dijelaskan. Semua orang menyadari ada ruang kosong, tetapi memilih menjaganya tetap tenang.Kita lalu menyadari bahwa kesedihan saat mudik bukan sebagai tanda kegagalan merayakan Lebaran. Tapi, justru bagian dari cinta yang masih bekerja. Kehilangan lebih terasa karena hubungan itu pernah begitu berarti.Hal lain yang terasa berbeda adalah cara kampung halaman memperlakukan waktu.Di kota rantau, sembilan bulan terasa cepat. Kalender bergerak tanpa jeda. Pekerjaan terus berjalan, dan kesedihan sering terselip di antara kesibukan.Namun di kampung halaman, waktu terasa lebih lambat. Tetangga masih mengingat ayah dengan cerita-cerita kecilnya. Ada yang menyebut kebiasaannya ke masjid, ada yang mengenang obrolan ringan bersama secangkir kopi. Dari percakapan-percakapan itu, saya menyadari bahwa seseorang tidak benar-benar hilang selama masih hidup dalam ingatan sosial komunitasnya, sekalipun secara fisik ia telah tiada.Kampung halaman memang menyimpan memori kolektif lebih kuat dibanding kota. Berbeda dengan kota rantau yang menenggelamkan kenangan, kampung halaman tetap menjaga keberadaan seseorang bahkan setelah ia tiada. Dan mungkin itulah salah satu alasan mengapa kita tetap perlu mudik, meskipun orang yang kita rindukan kelak semua sudah tidak lagi ada.Karena itu, saya pulang bukan lagi untuk disambut, tetapi untuk mengenang. Bukan untuk ditanya kabar, tetapi untuk meneruskan cerita. Dan, rumah tua itu telah lama menyimpan banyak cerita pada setiap sudut dinding yang kian lapuk.Mudik saya memang tidak lagi sama. Tetapi justru karena itu, ia terasa lebih dalam. Karena pada akhirnya, pulang bukan hanya soal siapa yang menyambut kita di pintu rumah, melainkan siapa yang tetap hidup dalam hati ketika kita melangkah keluar darinya lagi.Rasa Hampa dan HarapanBukan hanya itu, ada satu kesadaran yang mungkin datang terlambat, kepada saya dan mungkin juga banyak perantau. Bahwa, rasa hampa setelah mudik mungkin bukan hanya milik mereka yang kembali ke tanah rantau. Tetapi juga kehampaan perasaan orang tua yang kembali ditinggal setelah beberapa hari rumahnya hidup kembali.Itulah perasaan Ibu, yang kami panggil Ummi, setelah satu per satu, anak, menantu dan cucunya kembali. Rumah yang beberapa hari sebelumnya riuh tiba-tiba kembali sunyi.Piring kotor yang kemarin menumpuk kini hanya tersisa beberapa. Kamar tidur kembali rapi tanpa tas-tas perjalanan. Televisi menyala tanpa benar-benar ditonton. Bahkan suara pintu dibuka pun tidak lagi menghadirkan harapan bahwa anak-anaknya pulang membawa cerita baru.Setelah mobil terakhir menjauh dari halaman rumah, Ibu kami berdiri sedikit lebih lama di depan pagar. Melihat jalan yang perlahan kosong. Melambaikan tangan sampai kendaraan benar-benar hilang dari pandangan.Lalu masuk ke rumah. Dan kesunyian kembali mulai bekerja.Bagi anak rantau seperti saya, arus balik adalah perjalanan menuju rutinitas. Tetapi bagi Ibu kami di kampung halaman, arus balik adalah awal dari penantian panjang berikutnya. Entah setahun, dua atau lima tahun lagi semua anak-anaknya akan berkumpul kembali.Ibu kembali ke ritme harian yang pelan. Menyapu rumah, menyiram tanaman, pergi ke sekolah, atau duduk di kursi pada sore hari sambil berharap ada kabar masuk di ponsel. Sambil mengenang, rumah yang dulunya penuh kehidupan kini hanya dihuni oleh kenangan dan harapan.Tidak ada yang benar-benar salah dari itu semua. Anak-anak memang harus kembali bekerja. Hidup harus tetap berjalan. Tapi barangkali di situlah makna mudik terasa paling menyayat.Bagi anak, mudik adalah pulang sementara. Bagi orang tua, mudik adalah kesempatan singkat untuk merasakan kembali masa ketika rumah belum ditinggalkan oleh waktu.Dan ketika Lebaran usai, yang tersisa bukan hanya rasa rindu. Melainkan keheningan panjang yang harus dipeluk sendirian hingga tahun-tahun berikutnya, ketika pintu rumah kembali terbuka dan suara langkah anak-cucu sekali lagi menghidupkan rumah yang selama bertahun-tahun hampir lupa bagaimana rasanya ramai.Panjang umur kehidupan, agar tahun berikutnya kita semua bisa kembali mudik ke rumah dan orang tua yang sudah lama berteman sepi.