Dolar AS Menguat Tipis Usai Trump Klaim Berkomunikasi dengan Iran

Wait 5 sec.

Seorang petugas menunjukan pecahan Dolar AS dan Rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang asing di Kwitang, Jakarta, Senin (9/12/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparanDolar AS mencatat penguatan tipis pada perdagangan Selasa (24/3) seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap perkembangan perang antara AS-Israel dan Iran. Pasar masih meragukan adanya penyelesaian cepat, meski Presiden AS Donald Trump menunda rencana pemboman jaringan listrik Iran.Mengutip Reuters, Trump sebelumnya menyebut melalui platform Truth Social bahwa komunikasi antara AS dan Iran berjalan positif. Ia mengatakan pembicaraan berlangsung sangat baik dan produktif dan mengarah pada penyelesaian permusuhan secara menyeluruh di Timur Tengah. Namun, Iran membantah adanya negosiasi langsung tersebut.Perbedaan pernyataan ini, ditambah eskalasi serangan terbaru, membuat pasar bergerak fluktuatif. Pelaku pasar juga mencermati keputusan Trump yang menunda aksi militer selama lima hari. Di sisi lain, kekhawatiran tetap tinggi karena konflik berpotensi mengganggu distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global melalui Selat Hormuz."Berita semalam setidaknya memberikan jeda bagi volatilitas, tetapi sulit untuk melihat bahwa ini akan memicu tren pengambilan risiko," kata Rodrigo Catril, Ahli Strategi Mata Uang di National Australia Bank.Menurut Catril, rekam jejak kebijakan Trump membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati. Mereka masih mempertanyakan apakah langkah ini benar-benar menjadi awal negosiasi atau sekadar penundaan yang memicu gejolak.Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada wartawan sebelum menaiki pesawat kepresidenan Air Force One di Bandara Internasional Palm Beach, West Palm Beach, Florida, pada Senin (23/3/2026). Foto: Saul Loeb/AFPDi pasar mata uang, poundsterling turun 0,49 persen ke USD 1,3388 setelah sebelumnya sempat menguat. Euro juga melemah 0,3 persen ke USD 1,1583, sementara dolar Australia turun 0,6 persen ke USD 0,6968 dari posisi tertinggi enam pekan. Dolar Selandia Baru ikut terkoreksi 0,5 persen ke USD 0,5832.Sementara itu, yen Jepang melemah ke level 158,73 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi setelah inflasi inti Jepang tercatat 1,6 persen pada Februari, di bawah target bank sentral sebesar 2 persen. Kondisi tersebut dinilai menyulitkan ruang kenaikan suku bunga lebih lanjut.Harga minyak sempat naik tipis setelah anjlok lebih dari 10 persen pada hari sebelumnya. Minyak mentah Brent kembali berada di level USD 100,94 per barel, didorong kekhawatiran terhadap pasokan global."Pertanyaan kuncinya adalah apakah para peserta melihat ini sebagai perpanjangan yang tulus yang membawa kesepakatan lebih dekat, atau hanya penundaan yang memperpanjang ketidakpastian," kata Chris Weston, Kepala Penelitian di Pepperstone."Dolar AS mengalami tekanan jual menyusul penurunan harga minyak mentah dan penyesuaian aset secara lebih luas. Namun, keyakinan terhadap pergerakan ini masih rendah, dan kondisi masih memungkinkan terjadinya pembalikan tajam,” imbuhnya.Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada wartawan sebelum menaiki pesawat kepresidenan Air Force One di Bandara Internasional Palm Beach, West Palm Beach, Florida, pada Senin (23/3/2026). Foto: Saul Loeb/AFPDi tengah dinamika tersebut, konflik militer terus berlangsung. Israel melaporkan adanya gelombang serangan rudal dari Iran. Sementara Garda Revolusi Iran menyebut telah meluncurkan serangan baru ke target AS dan menilai pernyataan Trump sebagai "operasi psikologis" yang "usang" dan tidak berdampak pada perlawanan Teheran.Indeks dolar AS naik 0,2 persen ke posisi 99,387 setelah sebelumnya sempat melemah. Secara bulanan, indeks ini telah menguat sekitar 1,8 persen dan berpotensi mencatat kenaikan terbesar sejak Oktober, didorong permintaan aset aman di tengah konflik.Sim Moh Siong dari OCBC menilai penguatan dolar masih berpeluang berlanjut, terutama jika belum ada tanda meredanya konflik. "Dalam jangka pendek, dolar mungkin akan tetap menguat selama tidak ada tanda-tanda de-eskalasi yang terlihat," ujarnya.Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun naik 7,7 basis poin menjadi 3,90 persen pada perdagangan Asia, mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.