Cerita Akio Toyoda Lahirkan Divisi Gazoo Racing

Wait 5 sec.

Chairman Toyota Akio Toyoda. Foto: dok. ToyotaDi tengah tren perusahaan otomotif yang berlomba menempelkan nama besar mereka di setiap produk, Toyota justru mengambil langkah berlawanan. Divisi performanya kini resmi berdiri sebagai merek tersendiri tanpa embel-embel Toyota, dan hanya dikenal sebagai Gazoo Racing atau GR.Keputusan ini bukan sekadar rebranding. Di balik nama Gazoo Racing, tersimpan kisah personal yang membentuk arah baru Toyota sebagai produsen mobil performa. Cerita itu bermula pada 2007, saat Chairman Toyota, Akio Toyoda, turun langsung ke lintasan legendaris 24 Hours of Nürburgring.Dikutip dari Carscoops, saat itu, Toyoda membalap menggunakan nama samaran “Morizo” bersama mentor sekaligus master driver Toyota, Hiromu Naruse. Mereka mengendarai Toyota Altezza yang dimodifikasi untuk balap, atau dikenal sebagai Lexus IS di pasar global. Meski berstatus petinggi perusahaan, Toyoda tidak mendapat izin menggunakan nama Toyota dalam ajang tersebut.Toyota Altezza bernomor 109 yang ikut serta dalam ajang 24 jam Nurburgring pada tahun 2007. Foto: ToyotaTim tersebut akhirnya berlaga dengan nama Team Gazoo, yang diambil dari situs mobil bekas Toyota—sebuah proyek yang juga pernah digarap Toyoda. Meski terdengar sederhana, mobil mereka berhasil menyelesaikan lomba 24 jam penuh, sebuah pencapaian yang patut diapresiasi.Namun, Toyoda justru pulang dengan perasaan yang tidak menyenangkan. Ia menyebut pengalaman itu sebagai momen penuh “rasa malu”. Toyota saat itu dinilai belum memiliki mobil yang mampu bersaing dengan sportscar Eropa yang datang ke Nürburgring bukan hanya untuk balapan, tetapi juga mengembangkan teknologi mobil jalan raya.Toyota sendiri menggambarkan momen tersebut dengan cukup gamblang. Ketika disalip mobil pengembangan pabrikan lain, Toyoda seolah mendengar ejekan bahwa Toyota tidak akan mampu membuat mobil seperti mereka. Perasaan itulah yang kemudian menjadi titik balik.Lexus LFA Edisi Nurburgring. Foto: ToyotaRespons pertama Toyota hadir pada 2010 lewat Lexus LFA. Supercar bermesin V10 ini menjadi mobil sport pertama Toyota yang dikembangkan sepenuhnya secara internal dalam hampir dua dekade. Proyek LFA diakui Toyoda penuh tantangan, bahkan minim dukungan internal di awal pengembangannya.Di tengah proses tersebut, Toyota kehilangan sosok penting. Hiromu Naruse meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di sekitar Nürburgring. Meski menjadi pukulan emosional bagi Toyoda, peristiwa itu justru memperkuat tekadnya untuk membangun mobil yang mampu menghadirkan emosi bagi pengendaranya.Setelah LFA, arah Toyota berubah semakin jelas. GT 86 yang lahir pada 2012, disusul GR Supra pada 2019, menandai keseriusan Toyota di segmen performa, meski dikembangkan bersama Subaru dan BMW. Mobil-mobil tersebut bukan lagi proyek sampingan, melainkan bagian dari identitas baru Toyota.Pada 2015, seluruh aktivitas motorsport Toyota disatukan di bawah satu payung: Toyota Gazoo Racing. Dari sana, lahir berbagai model performa seperti GR Yaris, GR Corolla, GR 86, hingga GR Supra, yang semuanya membawa DNA balap ke jalan raya.Toyota GR GT. Foto: ToyotaKini, langkah itu dilanjutkan lebih jauh. Toyota resmi melepas namanya dari Gazoo Racing, menjadikan GR sebagai merek independen sejajar dengan Lexus, Daihatsu, dan Century. Model flagship GR GT pun akan menjadi mobil pertama yang meluncur dengan status merek GR murni.Ironis sekaligus simbolis, nama Gazoo yang dulu tidak diizinkan membawa bendera Toyota di lintasan balap, kini justru cukup kuat untuk berdiri sendiri. Sebuah perjalanan panjang yang lahir dari rasa malu, lalu berkembang menjadi identitas performa global Toyota.