Antrean panjang terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Ahmedabad pada Senin (23/3), menyusul gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah. Foto: SHAMMI MEHRA/AFPPemerintah India melihat adanya potensi pelebaran defisit fiskal dan terbebaninya pertumbuhan imbas terganggunya pasokan energi dan pengiriman di berbagai sektor akibat perang Iran-Israel yang melibatkan Amerika Serikat (AS).Dikutip dari Bloomberg, pemerintah India memproyeksikan penurunan ekspansi ekonomi setelah perang di Timur Tengah meletus. Kekhawatiran ini dinyatakan dalam tinjauan ekonomi bulanan untuk Maret 2026.“Prospek jangka pendek tetap tidak pasti karena biaya input yang lebih tinggi dan kendala pasokan menimbulkan risiko penurunan terhadap ekspansi ekonomi,” tulis Departemen Urusan Ekonomi India India dalam tinjauan tersebut.Departemen Urusan Ekonomi India yang menerbitkan tinjauan tersebut melihat perang di Timur Tengah menjadi biang kerok melonjaknya biaya importasi minyak bumi dan biaya logistik, sementara ekspor ke negara di Timur Tengah justru menurun. Dengan demikian neraca transaksi berjalan akan tertekan.Perdana Menteri India Narendra Modi. Foto: Kazuhiro Nogi/AFPTanda-tanda awal perlambatan aktivitas ekonomi mulai terlihat di negara tersebut, salah satunya defisit neraca transaksi berjalan tercatat melebar menjadi 1,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada kuartal III tahun fiskal 2026 (berakhir Desember), dibandingkan 1,1 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.Ekonom senior Bloomberg, Abhishek Gupta, memperkirakan tekanan terhadap neraca pembayaran India pada tahun fiskal mendatang berpotensi melampaui USD 130 miliar.Dari sisi fiskal, ada peningkatan kebutuhan subsidi khususnya untuk pupuk dan bahan bakar serta potensi kekurangan penerimaan negara yang diperkirakan dapat memperlebar defisit fiskal. Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya penentuan prioritas dalam alokasi belanja pemerintah.Dalam tinjauan tersebut juga disebutkan, kenaikan harga impor yang diteruskan ke konsumen akhir berpotensi menekan pertumbuhan permintaan. Hal ini sekaligus dapat mengurangi dilema bank sentral dalam menentukan respons kebijakan moneter di tengah tekanan akibat konflik global.“Jika permintaan melambat sebagai respons terhadap harga yang lebih tinggi, bank sentral akan lebih cenderung memperlakukan dampak inflasi sebagai guncangan pasokan. Jika tidak, bank sentral mungkin terpaksa mengamati efek putaran kedua dari biaya impor yang lebih tinggi terhadap inflasi,” tulis pemerintah India.Kondisi serupa juga sempat terjadi sebelumnya. Pada Kamis (12/3), antrean panjang terlihat di luar agen gas di Ahmedabad, saat warga menunggu untuk mendapatkan tabung LPG. Foto: NARINDER NANU/AFPDalam laporan itu menekankan perlunya respons kebijakan yang terukur serta percepatan reformasi struktural demi menjaga momentum pertumbuhan. Pemantauan berkelanjutan dan intervensi kebijakan yang tepat sasaran dinilai krusial untuk meredam risiko jangka pendek sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi.Sebagai langkah mitigasi, pemerintah India telah meluncurkan sejumlah kebijakan, termasuk alokasi dana sebesar USD 6,2 miliar untuk menopang perekonomian serta penerapan pajak atas impor bahan bakar yang diumumkan baru-baru ini.